Monday, August 6, 2007

Remaja Bunuh Diri

Minggu siang kemarin, 5 Agustus 2007, saya dikejutkan dengan sebuah berita bahwa anak rohani seorang hamba Tuhan meninggal bunuh diri. Siang itu saya dan isteri melihat seorang remaja seusia Rini (Indonesian Idol yang baru), lebih cantik dari Rini, terbujur kaku dalam gaun putih yang indah. Wajahnya tenang seperti sedang tidur, padahal paginya, jam 9.00 Selvy (nama samaran) baru saja menyongsong maut dengan mengiris urat nadi di tangan kiri dengan pecahan gelas, lalu menggantung diri di kamar mandi tempat ia tinggal di bilangan Kemang.

Selvy adalah gadis tertolak. Orang tuanya tinggal di Pondok Indah. Ia bersekolah di Amerika Serikat. Ia tidak betah tinggal di rumah orang tuanya karena ibunya sangat keras sikapnya terhadap Selvy. Oleh karena itu sejak satu setengah tahun yang lalu Selvy diangkat anak rohani oleh seorang hamba Tuhan dan tinggal sendirian bersama seorang pembantu laki-laki beserta isteri dan satu anaknya di Kemang.

Sudah tujuh kali Selvy bunuh diri dan sudah tujuh kali Selvy diselamatkan oleh papa rohaninya. Namun ketika rumah di Kemang itu habis masa kontraknya bulan September mendatang dan Selvy harus kembali ke rumah orang tuanya, Selvy putus asa. Remaja ini seorang anak yang lincah, pintar bergaul, namun sangat tertindas dalam hubungan dengan ibunya yang sangat otoriter.

Pagi kemarin Selvy tidak lagi kesakitan mengiris urat nadinya dan menggantung dirinya, karena lebih sakit menghadapi kemungkinan hidup bersama ibunya kembali. Oh, betapa menyedihkan! Pembantu laki-laki di rumah sempat memergoki luka di tangan kiri Selvy, namun gadis cantik ini bilang, "Tidak apa-apa, mas!"

Ketika Selvy masuk ke kamar mandi dan tidak keluar-keluar, mas Rudi cepat-cepat mendatangi rumah ibu Selvy di Pondok Indah. Ketika ibunya menggedor dan mendobrak pintu kamar mandi, mereka mendapati tubuh Selvy sudah terkulai lemas.

"Selvy, mama sayang kamu!" demikian jerit ibunya berulang-ulang. Namun itu sudah sangat terlambat. Selvy tidak pernah merasa disayang ibunya selama ini. Ia memilih pulang ke Rumah Bapa, mengadukan kepedihan hidupnya di bumi ini.

Saya jadi teringat kata-kata firman Tuhan, "Hai orang tua, jangan bangkitkan amarah anak-anakmu!" Selvy adalah salah satu remaja yang sangat kepahitan diperlakukan tidak adil oleh ibunya. Apakah remaja seperti Selvy harus berakhir tragis di tali gantungan? Ketika seorang ibu bertanya kepada mama Selvy, mamanya berkata, "Selvy itu anak pemberontak, tidak bisa diatur orang tua!" Ia masih menyalahkan anaknya. Seorang anak itu menjadi pemberontak atau tidak, karena kurang kasih sayang orang tuanya, khususnya kasih ayah sebagai figur Bapa di muka bumi ini. Kalau seorang anak mendapati ayahnya di bawah otoritas ibunya yang galak dan tidak mengasihi anaknya, sangat mungkin anak itu menjadi seorang pemberontak. Ia memberontak karena ada sesuatu yang salah di dalam struktur keluarga: ayah seharusnya menjadi bapa, pemimpin, pelindung, pengemong bagi anak-anaknya. Yang dihadapi Selvy terbalik-balik, ayahnya lemah dan di bawah perintah isterinya, dan tidak dapat melindungi Selvy dari intimidasi mamanya.

Dalam sebuah retret yang diikuti anak-anak Sekolah Minggu, banyak diantara anak-anak yang orang tuanya mengaku orang Kristen, bahkan pengerja gereja, mereka ada yang ingin bunuh diri, karena memiliki ayah yang cuek, galak, kejam atau lemah yang di bawah otoritas isterinya. Untunglah mereka mendapat pemulihan Hati Bapa, pemulihan gambar diri, dan pemulihan luka-luka batin. Bagaimana anak-anak yang tidak sempat tertolong? Bisa-bisa mereka putus asa. Ada ungkapan: Manusia bisa tahan tidak makan selama 40 hari, bisa tahan tidak minum selama 4 hari, bisa tahan tidak bernafas selama 4 menit, namun tidak bisa tahan tanpa harapan selama 4 detik. Itulah yang dialami Selvy, ia tidak melihat ada harapan lagi.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com