Kalau saya teringat kesaksian dari Levi Supit, saya sungguh terharu atas apa yang terjadi dalam perjalanan kehidupannya. Setelah suaminya, Edward Supit, terpanggil untuk mendirikan jemaat dan membangun gedung gereja. Mereka sepakat menjual rumah yang mereka miliki, menjual mobil-mobil yang mereka miliki untuk membeli tanah dan membangun gedung gereja. Sejak itu mereka tinggal di rumah kontrakan. Dan sejak itu Edward kemana-mana menggunakan kendaraan umum.
Bahkan suatu saat ketika kehidupan mereka sulit sekali, Levi Supit harus rela menjual cincin perhiasan yang disukainya untuk kehidupan sehari-hari. Edward mengantar isterinya menjual cincin itu, namun ia tidak ikut sampai ke toko emas itu. Ia berdiri agak jauh dari sana. Malu juga rupanya kalau ketahuan orang lain, bahwa mereka sampai menjual milik pribadi.
Bukan itu saja pengorbanan pasangan ini. Levi Supit akhirnya juga keluar dari pekerjaannya di group Astra dengan posisi yang lumayan. Ia tinggalkan semua fasilitas kantor, termasuk mobilnya. Sejak itu kemana-mana Levi naik kendaraan umum, dan pernah juga naik Bajaj untuk pelayanan.
Bayangkan, Levi yang terbiasa naik sedan kemana-mana, ia rela naik Bajaj. Semuanya ia lakukan karena mengasihi Tuhan dan jemaat. Mereka berdua hidup prihatin waktu itu. Namun sekarang mereka sungguh diberkati Tuhan. Dulu mereka menabur dengan air mata, sekarang mereka menuai jiwa-jiwa dengan sorak sorai. Apa yang mereka perbuat bagi Tuhan, itu tidak pernah sia-sia.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com