Friday, August 3, 2007

Benci Sang Saka

Seorang pemuda Ambon sangat benci pada upacara Bendera (Merah Putih). Hatinya selalu tersayat pedih jika mengingat betapa kejam ayahnya ditembaki TNI gara-gara dituduh sebagai anggota gerakan RMS (Republik Maluku Selatan). Ia selalu terbayang-bayang ketika sendirian menunggui peti mati dengan jasad ayahnya terbujur kaku. Hatinya sangat membenci TNI dan membenci upacara pengibaran bendera di sekolah atau dimanapun.

Setelah hatinya mengalami pemulihan, menerima kasih Bapa, ia dibukakan mata rohaninya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada waktu di depan peti mati ayahnya. Pendeta yang melayani pemulihan luka-luka batinnya bertanya, "Coba bayangkan ketika engkau sendirian di depan peti mati itu, apa yang engkau lihat?" "Saya sendirian, pak!" Kemudian pendeta itu berdoa, "Tuhan, bukakan apa yang sebenarnya terjadi saat itu." Ia bertanya lagi kepada pemuda itu, "Sekarang, apa yang engkau lihat?" Ketika ia melihat pada kejadian yang menyakitkan itu, ia kaget dan berkata, "Saya melihat Tuhan Yesus, pak. Tuhan memeluk saya. Tuhan mengasihi saya." Pendeta itu bilang, "Nah, memang itulah yang sebenarnya terjadi. Ia tidak pernah meninggalkan engkau sendirian. Ia ada di sana ketika engkau sedih sekali."

Pendeta itu kemudian melanjutkan pelayanan luka-luka batinnya dan meminta pemuda yang punya marga Manuhutu itu untuk mengampuni anggota TNI yang membunuh ayahnya. "Ampuni mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Ampuni tentara itu karena engkau juga sudah diampuni Tuhan." Karena di hati pemuda ini ada damai yang melampaui segala akal, ia rela mengampuni para tentara itu. Ia terlepas dari beban berat yang selama ini terpendam di hatinya. Ia kini tidak membenci TNI lagi, tidak membenci upacara bendera lagi. Hatinya penuh pengampunan, hatinya penuh kasih karena mengalir dengan deras kasih dari Tuhan Yesus, kasih dari Sorga.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com