Pada suatu Jumat pagi seorang pendeta shock berat ketika diantara para pemimpin lain seseorang teman sepelayanannya berkata, “Pak Robert (nama samaran), bapak itu kelebihannya satu, yaitu dalam hal kepemimpinan oke, tapi kelemahan bapak adalah satu: . . . ., dua:…., tiga: …., dst sampai enam belas kejelekan bapak ini….” Di depan orang banyak itu, Robert diam saja. Hatinya hancur dipermalukan di depan orang banyak itu.
Setelah sampai kembali di kantor, ia masih shock. Hatinya pedih. Kepalanya pusing. Ia tidak nafsu makan. Ia memilih meminum obat sakit kepala karena rasa peningnya demikian hebat.
Sore harinya handphone-nya berdering, ada telpon dari temannya yang tadi pagi menghancurkan karakternya di depan banyak orang. Ia tolak telpon itu. Handphone-nya berdering lagi. Ditolak lagi. Lebih dari enam belas kali temannya itu mencoba telpon Robert. “Ada apa lagi ia mau telpon saya? Apakah dia mau menyakiti hati saya lagi? Apakah serangannya tadi pagi masih kurang? Awas, ya, Senin pagi akan saya kumpulkan teman-teman pengerja, dan akan saya beberkan kejelekan dia!” Namun di hati kecilnya ada bisikan, “Jangan balas kejahatan dengan kejahatan! Ampuni dia!” Apa, ampuni dia? Dia sudah membunuh karakter saya, Tuhan? Sakit kepala terus berdenyut, padahal dia tidak punya tekanan darah tinggi.
Besok paginya sang teman yang telah menyakiti hatinya menelpon ke rumah dan diterima isterinya. “Apakah saya harus bilang, papa lagi pergi?” tanya isterinya. “Ah, jangan! Masa saya berbohong?” Robert menerima telpon itu dengan ragu.
“Ya, ….”
“Pak Robert, saya minta maaf. Saya benar-benar menyesal telah menyakiti hati Bapak!”
Oh, ternyata orang ini bukan mau menyerang lagi? Minta maaf.
“Ya, saya maafkan anda.” Begitu Robert memaafkan, melepaskan pengampunan kepada temannya ini, seketika itu juga sakit kepalanya hilang. Lega! Pengampunan itu memerdekaan tekanan, beban, sakit hati dan sakit kepala. Percayalah!
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com