Kerusuhan Sampit dan di Kalimantan Tengah pada tahun 2001 merupakan kerusuhan yang paling sadis di dunia. Mayat-mayat tanpa kepala berserakan di jalan-jalan. Kepala-kepala manusia diperlakukan tidak manusiawi, ditancapkan di pagar, dijadikan tontonan. Banyak tengkorak kepala sudah tidak ada otaknya lagi karena bagian itu dimakan orang-orang yang sudah kerasukan iblis. Kengerian menyebar kemana-mana, khususnya bagi saudara-saudara suku pendatang tertentu.
Nur yang menikahi gadis Dayak tetap terancam jiwanya, karena keluarga Dayak inipun tidak dapat melindungi Nur dari ancaman suku Dayak yang baru turun dari gunung dan hutan belantara. Rupanya suku Dayak itu beraneka ragam, ada clan atau keluarga-keluarga yang berbeda-beda. Orang-orang sesama suku Nur dari pulau di Jawa Timur itu sudah pada mati dibantai. Yang dibantai bukan hanya pria dewasa, tetapi kakek-kakek, perempuan, anak-anak, bayi-bayi. Bau kematian ada dimana-mana.
Nur minta tolong kepada isterinya, sebagai sesama orang Dayak, apakah dapat menolong Nur? Eva katakan, "Kami tidak dapat menolong mas, yang dapat menolong hanya Tuhan Yesus!" Kalau dalam keadaan normal, perkataan isterinya itu pasti mengundang amuk dan amarah Nur. Tapi pada saat itu Nur sudah ketakutan sekali. Kematian nampaknya sudah di depan mata. Tinggal menunggu giliran saja. Bahkan orang-orang Dayak keluarga Eva menganjurkan Nur untuk memakai mandau (pedang) mereka. Artinya, kalau Nur diserang, daripada tidak membela diri sama sekali, lebih baik bertahan atau menyerang dengan mandau itu. Tapi Nur tidak tertarik dengan ide ini.
Orang Dayak dari pedalaman mempunyai keistimewaan tertentu. Kalau hidung mereka sudah diolesi minyak tertentu yang sudah diberi mantera, maka mereka dapat mengendus dan melacak orang-orang dari suku seberang yang diburu mereka dari jarak 500 meter. Nur sebagai orang seberang yang sedang diburu tidak dapat bersembunyi. Pasti keberadaan Nur mudah dilacak mereka.
Pada suatu pagi ada pengumuman dari aparat negara (TNI) yang mengumumkan bahwa pagi itu akan ada pengungsian terakhir dari desa itu ke Sampit. Empat anggota TNI akan mengawal mereka menempuh jarak 17 km ke Sampit. Mereka semua harus tiarap di bak truk untuk menghindari serangan dalam bentuk tembakan sumpit. Di Kalimantan, kalau ada orang disumpit, tergores sedikit saja, tidak usah tembus ke jantung, maka racun dari sumpit itu akan cepat bekerja dan membunuhnya.
Dalam keadaan tergesa-gesa Nur mengajak anak dan isterinya untuk pergi mengungsi. Isterinya menolak. Nur tidak berdaya. Ia merasa dibiarkan sendirian. Dengan segera Nur hendak pergi, tapi ia ingat bahwa ia belum membawa bekal pakaian atau makanan. Ia meminta Eva, isterinya, menyiapkan segala keperluannya. "Ini, mas! Semua kebutuhan mas ada di dalam tas ini!" kata Eva sembari menyodorkan sebuah tas tenteng kecil. Dalam keadaan darurat dan sangat menegangkan, tanpa berpikir panjang Nur segera meraih tas kecil itu lalu meninggalkan anak dan isteri yang dicintainya di desa itu.
Di dalam truk itu ada sekitar 20 orang pengungsi yang berasal dari suku yang sama dengan Nur, yang menjadi korban dan incaran suku setempat. Ada diantara mereka sepasang suami isteri yang membawa seorang bayi. Aparat TNI mengingatkan mereka semua agar tidak memunculkan kepala atau anggota badan, semua harus tiarap selama perjalanan karena bisa-bisa tembakan sumpit mengenai mereka dan fatal akibatnya.
Di tengah jalan truk itu dicegat ratusan orang Dayak yang baru keluar dari hutan. Anggota TNI mengatakan, "Jangan ganggu, pengungsi ini sudah menyerah, mau diungsikan!"
"Tidak bisa, kami belum dapat jatah makan orang!"
"Jangan ganggu, nanti kami tembak!"
Orang-orang Dayak itu kebal dari tembakan senjata api. Mereka tidak takut, mereka maju merangsek mengepung truk itu.
"Berhenti!" kata anggota TNI yang gagah berani itu yang siap menembakkan senapannya.
Gedebuk! Itu bunyi sesosok tubuh yang jatuh. Bukan orang Dayak yang jatuh, tapi anggota TNI itu jatuh, mati disumpit. Tiga anggota TNI yang lain segera lari tunggang langgang meninggalkan truk itu, lari ke hutan. Para pengungsi ditinggalkan. Para pengungsi yang berjumlah 20 orang, termasuk Nur, menunggu apa yang akan terjadi. Kematian sudah di depan mata. Orang-orang itu mengepung truk, mereka mengitari truk itu sambil meneriakkan pekik peperangan. Mereka mengelilingi truk itu dengan kepastian bahwa mereka pasti akan membantai habis semua orang yang ada di bak truk itu. Mereka menikmati ketegangan yang dialami korban mereka.
Sepasang suami isteri itu mulai gelisah sekali. Isterinya berkata, "Mas, ayo kita lari ke luar! Kalau kita lari, masih ada kesempatan. Kalaupun mati, kita sudah berusaha, tidak pasrah dipenggal di sini. Ayo!" Isterinya secepat kilat bangkit, hendak turun dari bak truk itu. Secepat itu pula berkelebat mandau menebas leher perempuan itu. Kepala perempuan ini jatuh menggelinding di bak truk, lehernya memancarkan darah kemana-mana. Suaminya juga bangkit hendak melarikan diri. Kali ini sebatang tombak menembus dadanya, mati seketika. Lalu bayi yang digendongnya diambil. Para pengungsi ini mengira orang-orang ini akan berbelas kasihan kepada bayi yang tak berdaya. Namun apa yang terjadi? Bayi itu dilempar keatas setingggi-tingginya dan dibiarkan jatuh membentur tanah atau bebatuan. Kepala bayi yang masih lembut itu pecah berantakan.
Semua pengungsi berdoa menurut keyakinan agama mereka. Semua tegang. Semua ketakutan. Semua menunggu nasib. Nur tiarap di pojokkan bak truk, tak berdaya. Ia juga tak dapat berdoa. Mulutnya terkunci melihat pemandangan mengerikan di depan mereka. Kematian tinggal selangkah di depan hidungnya. Satu persatu pengungsi dipenggal. Satu per satu otak mereka dimakan. Banjir darah ada di truk itu. Nur tinggal menunggu giliran.(Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
kesaksian hidup - #inspiring story - #kisah nyata - #mukjizat kehidupan - #sign and wonders - #miracles - inspirational christian story - nice story - true story - inspirational touching story - an amazing story: kisah orang biasa dengan pengalaman luar biasa - ordinary people living the extra-ordinary lives
Search This Blog
Thursday, May 31, 2007
Lolos dari Kerusuhan Sampit (1)
Pemuda ini adalah seorang guru agama, sebut saja namanya Nur, tinggal 17 km dari Sampit, Kalimantan Tengah. Dia adalah seorang pendatang dari sebuah pulau di Jawa Timur. Pada waktu itu dia sangat benci orang Kristen. Dia sering mengerjai orang-orang yang akan berangkat beribadah pada hari Minggu. Lubang-lubang got dibuka dan ditutupi dengan rumput kering atau jerami, sehingga orang yang menginjak lubang itu akan terperosok, memar-memar, keseleo, atau bisa-bisa patah tulang. Kalau melihat orang-orang celaka yang terjebak lubang sehingga tidak jadi beribadah, ia dan teman-temannya sangat puas dan senang sekali. Tidak jarang ia dan teman-teman mengumpulkan batu-batu dan mereka melempari gedung-gedung gereja. Saking fanatiknya, apabila ia tanpa sengaja berkunjung ke rumah seorang kristen, maka ia akan mandi kembang di rumah untuk menyucikan diri.
Nur ini rupanya ingin belajar gitar. Di desa itu ada seorang pria yang mahir sekali bermain dan mengajarkan gitar. Ia berguru gitar sekitar sebulan lamanya dan ia juga mengenal puteri gurunya, Eva. Selama belajar gitar di rumah gurunya, Nur tak menduga bahwa keluarga Eva adalah orang Kristen, karena di rumah itu tak ada tanda salib, atau kalender kristiani yang memuat gambar Tuhan Yesus.
Pada suatu hari Eva, puteri gurunya, mengajak ngobrol serius. Setelah berbasa-basi ngalor ngidul, Eva memberanikan diri bilang, "Mas, saya ini senang sama mas Nur. Eva cinta sama sampean." Nur kaget sekali mendengar pengakuan polos dan spontan dari gadis Dayak ini. Nur tersanjung. Wah, selama ini tak ada gadis yang berani lebih dahulu menyatakan cinta kepada dirinya. Namun, karena gengsi, Nur cuma berkata, "Yah,lihat nanti deh..." Dia tidak berani menanggapi cinta Eva karena ia belum mengenal gadis manis ini.
Beberapa hari kemudian Nur bertemu dengan seorang gadis, yang rupanya adalah kenalan Eva juga. Mereka mengobrol, dan Nur yang ingin kenal Eva lebih lanjut bilang kepada gadis teman Eva ini, "Gimana ya kalo Eva naksir saya?" Temannya kaget, "Lho, 'kan kalian beda agama?" Nur juga kaget karena baru tahu bahwa Eva adalah orang Kristen. Padahal selama ini ia sangat fanatik dan tidak mau berkunjung ke rumah mereka.
Pada kesempatan berikutnya Nur latihan main gitar lagi. Eva juga mencoba mendekati Nur. Ia mencoba meyakinkan Nur bahwa cintanya itu sungguh-sungguh, sehingga ia bilang, "Mas, kalau saya harus meninggalkan iman saya, saya rela asal bisa bersatu dengan mas Nur..." Dengan perkataan Eva ini, Nur mulai luluh hatinya karena ia juga mulai jatuh cinta pada gadis berkulit kuning langsat ini.
Akhirnya mereka menikah di depan penghulu. Eva menyatakan diri memeluk agama suaminya. Mereka membina rumah tangga yang baru dengan penuh harapan dan impian sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Namun kebahagiaan dan bulan madu itu tidaklah berlangsung lama, karena pada suatu hari Nur memergoki Eva menyenandungkan lagu kristiani dan membaca Alkitab.
Nur marah sekali. Nur merasa ditipu. Eva dihajar. Eva dipukuli. Eva ditendangi. Wajah Eva berdarah-darah, sekujur tubuhnya memar. Lehernya sampai kaku dihajar Nur, sehingga kalau Eva mau menengok, ia harus menggerakkan seluruh tubuhnya. Pada hari pertama Nur menghajar Eva dari pukul 12 siang sampai pukul 12 malam. Tiada hari tanpa siksaan. Nur ingin membakar Alkitab yang dibaca Eva, tapi Eva mempertahankan buku itu. Eva bilang, "Eva boleh dihajar, Eva boleh dipukuli, tapi jangan bakar Alkitab ini. Eva boleh disiksa, tapi jangan pisahkan Eva dari Tuhan Yesus. Eva boleh diapain aja, tapi jangan ceraikan Eva...." Eva memang rela membayar harga apapun untuk mempertahankan imannya.
Hari-hari Eva dilalui dalam siksaan dan layaknya rumah tangga itu seperti neraka. Selama 11 bulan kemudian Eva harus menanggung amarah dan kebencian Nur yang merasa tertipu Eva. Keadaan itu berlangsung terus hingga suatu hari di tahun 2001 terjadi kerusuhan etnis di Sampit dan seluruh Kalimantan Selatan. Apa yang terjadi setelah itu? (Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Nur ini rupanya ingin belajar gitar. Di desa itu ada seorang pria yang mahir sekali bermain dan mengajarkan gitar. Ia berguru gitar sekitar sebulan lamanya dan ia juga mengenal puteri gurunya, Eva. Selama belajar gitar di rumah gurunya, Nur tak menduga bahwa keluarga Eva adalah orang Kristen, karena di rumah itu tak ada tanda salib, atau kalender kristiani yang memuat gambar Tuhan Yesus.
Pada suatu hari Eva, puteri gurunya, mengajak ngobrol serius. Setelah berbasa-basi ngalor ngidul, Eva memberanikan diri bilang, "Mas, saya ini senang sama mas Nur. Eva cinta sama sampean." Nur kaget sekali mendengar pengakuan polos dan spontan dari gadis Dayak ini. Nur tersanjung. Wah, selama ini tak ada gadis yang berani lebih dahulu menyatakan cinta kepada dirinya. Namun, karena gengsi, Nur cuma berkata, "Yah,lihat nanti deh..." Dia tidak berani menanggapi cinta Eva karena ia belum mengenal gadis manis ini.
Beberapa hari kemudian Nur bertemu dengan seorang gadis, yang rupanya adalah kenalan Eva juga. Mereka mengobrol, dan Nur yang ingin kenal Eva lebih lanjut bilang kepada gadis teman Eva ini, "Gimana ya kalo Eva naksir saya?" Temannya kaget, "Lho, 'kan kalian beda agama?" Nur juga kaget karena baru tahu bahwa Eva adalah orang Kristen. Padahal selama ini ia sangat fanatik dan tidak mau berkunjung ke rumah mereka.
Pada kesempatan berikutnya Nur latihan main gitar lagi. Eva juga mencoba mendekati Nur. Ia mencoba meyakinkan Nur bahwa cintanya itu sungguh-sungguh, sehingga ia bilang, "Mas, kalau saya harus meninggalkan iman saya, saya rela asal bisa bersatu dengan mas Nur..." Dengan perkataan Eva ini, Nur mulai luluh hatinya karena ia juga mulai jatuh cinta pada gadis berkulit kuning langsat ini.
Akhirnya mereka menikah di depan penghulu. Eva menyatakan diri memeluk agama suaminya. Mereka membina rumah tangga yang baru dengan penuh harapan dan impian sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Namun kebahagiaan dan bulan madu itu tidaklah berlangsung lama, karena pada suatu hari Nur memergoki Eva menyenandungkan lagu kristiani dan membaca Alkitab.
Nur marah sekali. Nur merasa ditipu. Eva dihajar. Eva dipukuli. Eva ditendangi. Wajah Eva berdarah-darah, sekujur tubuhnya memar. Lehernya sampai kaku dihajar Nur, sehingga kalau Eva mau menengok, ia harus menggerakkan seluruh tubuhnya. Pada hari pertama Nur menghajar Eva dari pukul 12 siang sampai pukul 12 malam. Tiada hari tanpa siksaan. Nur ingin membakar Alkitab yang dibaca Eva, tapi Eva mempertahankan buku itu. Eva bilang, "Eva boleh dihajar, Eva boleh dipukuli, tapi jangan bakar Alkitab ini. Eva boleh disiksa, tapi jangan pisahkan Eva dari Tuhan Yesus. Eva boleh diapain aja, tapi jangan ceraikan Eva...." Eva memang rela membayar harga apapun untuk mempertahankan imannya.
Hari-hari Eva dilalui dalam siksaan dan layaknya rumah tangga itu seperti neraka. Selama 11 bulan kemudian Eva harus menanggung amarah dan kebencian Nur yang merasa tertipu Eva. Keadaan itu berlangsung terus hingga suatu hari di tahun 2001 terjadi kerusuhan etnis di Sampit dan seluruh Kalimantan Selatan. Apa yang terjadi setelah itu? (Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, May 30, 2007
Inner Healing
Saya dibesarkan oleh orang tua yang bercerai sejak saya masih kecil. Saat itu saya belum mengerti apa-apa. Papa masih tetap membiayai sampai saya berumur 4 tahun. Namun karena kesulitan ekonomi yang begitu rupa, dengan sangat terpaksa mama memasukkan saya ke sebuah panti asuhan di Madiun. Di sini saya mengalami bagaimana kami makan dua kali sehari. Kadang-kadang karena begitu laparnya, saya dan teman-teman makan buah asam atau ampas kelapa. Saya ada di panti asuhan ini kurang lebih selama 2 tahun.
Karena saya sakit, mama memindahkan saya ke panti asuhan yang lain di kota Bandung yang fasilitasnya lebih baik dari panti sebelumnya. Namun di sini saya mengalami penyiksaan dari pimpinan panti. Saya pernah dikurung di kebun belakang panti sampai jam 4 pagi, sampai saya tertidur di sana. Saya ingat waktu itu tanggal 14 Desember 1995, hari Sabtu, rambut saya dijambak dan telinga saya dijewer sampai berdarah-darah. Dengan posisi tertidur saya diseret dari lantai atas hingga lantai bawah. Semua teman-teman di panti hanya bisa memandang, namun mereka tak dapat menolong saya. Semakin saya berteriak, semakin saya disiksa. Pada akhirnya salah satu staf pengasuh panti memberi kabar kepada orang tua asuh saya yang kemudian memberitahu mama saya, sehingga saya diambil keluar dari panti.
Pengalaman itu merupakan trauma terbesar dalam hidup saya dan saya baru menyadarinya saat saya ikut pembinaan Wanita Bijak. Tadinya saya berpikir bahwa bila kita ingin hidup senang dan tidak memiliki masalah, maka kita jangan memikirkan masa lalu kita. Tuhan ubah pola pikir saya yang salah dan lewat pembinaan ini saya disadarkan bahwa trauma itu telah menjadikan saya sebagai wanita yang bertumbuh dengan penuh kepahitan.
Saya mengambil keputusan untuk mengampuni orang tua saya dan juga orang yang telah menyiksa saya. Sesungguhnya saya adalah wanita yang berharga di mata Tuhan, dan apa yang pernah hilang dalam hidup saya sudah Tuhan gantikan. Tuhan berikan saya seorang calon suami yang sangat mengasihi saya dan Tuhan pulihkan hidup saya. Sekarang saya merasa bahagia, sukacita dan damai sejahtera. Terima kasih, Bapa yang baik! (Ivana Agustina, Cirebon)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Karena saya sakit, mama memindahkan saya ke panti asuhan yang lain di kota Bandung yang fasilitasnya lebih baik dari panti sebelumnya. Namun di sini saya mengalami penyiksaan dari pimpinan panti. Saya pernah dikurung di kebun belakang panti sampai jam 4 pagi, sampai saya tertidur di sana. Saya ingat waktu itu tanggal 14 Desember 1995, hari Sabtu, rambut saya dijambak dan telinga saya dijewer sampai berdarah-darah. Dengan posisi tertidur saya diseret dari lantai atas hingga lantai bawah. Semua teman-teman di panti hanya bisa memandang, namun mereka tak dapat menolong saya. Semakin saya berteriak, semakin saya disiksa. Pada akhirnya salah satu staf pengasuh panti memberi kabar kepada orang tua asuh saya yang kemudian memberitahu mama saya, sehingga saya diambil keluar dari panti.
Pengalaman itu merupakan trauma terbesar dalam hidup saya dan saya baru menyadarinya saat saya ikut pembinaan Wanita Bijak. Tadinya saya berpikir bahwa bila kita ingin hidup senang dan tidak memiliki masalah, maka kita jangan memikirkan masa lalu kita. Tuhan ubah pola pikir saya yang salah dan lewat pembinaan ini saya disadarkan bahwa trauma itu telah menjadikan saya sebagai wanita yang bertumbuh dengan penuh kepahitan.
Saya mengambil keputusan untuk mengampuni orang tua saya dan juga orang yang telah menyiksa saya. Sesungguhnya saya adalah wanita yang berharga di mata Tuhan, dan apa yang pernah hilang dalam hidup saya sudah Tuhan gantikan. Tuhan berikan saya seorang calon suami yang sangat mengasihi saya dan Tuhan pulihkan hidup saya. Sekarang saya merasa bahagia, sukacita dan damai sejahtera. Terima kasih, Bapa yang baik! (Ivana Agustina, Cirebon)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Abundant Blessings: A Success Story of Prudential Agency
Seorang agen jasa keuangan menunjukkan kepada saya bukti pemotongan pajak dari boss-nya, seorang Agency Manager, di situ tertera pendapatan kotor di bulan April 2007 yang lalu sebesar Rp. 750 jutaan, dan potongan pajak untuk bulan April itu di atas Rp. 200 juta. Itu pendapatan sebulan lho! Padahal boss-nya ini tahun 2001 yang lalu masih naik motor, keliling menawarkan produk jasa keuangan.
Ketika pertama-tama kali boss ini, sebut saja Denny, memulai pemasaran jasa keuangan, itu sangat berat. Ditolak terus. Ketika pulang, isterinya tanya, "Sudah closing berapa banyak?" Dengan lemas Denny berkata, "Gak ada!" Isterinya tanya, "Lalu, kita mau makan apa?" Pertanyaan itu sangat menusuk kesadarannya. Dengan tekad yang lebih kuat ia berkomitmen ia akan menjalankan bisnis ini lebih giat, lebih keras, lebih smart. Penolakan tidak membuatnya malu. Yang lebih malu, kalau ia tidak punya uang. Hari demi hari dilalui dengan perjuangan. Hari demi hari mulai menampakkan hasil. Hari demi hari rezeki dinikmati.
Hingga kini ia memiliki kantor sendiri di 2 lokasi, di dua gedung perkantoran berjajar di bilangan Jl. M.H Thamrin, Jakarta. Kalau kita lihat ruang kantor pribadinya, sangat sederhana, cuma sebuah ruangan di sekat partisi. Namun ia adalah orang yang paling berhasil di bidang jasa keuangan ini. Ia menikmati banyak perjalanan ke luar negeri gratis. Ia membangun jaringan pemasaran yang terus berkembang. Setiap hari Sabtu, terlihat ratusan orang berbondong-bondong mengikuti training di perusahaannya.
Cerita lain saya baru dengar juga. Seorang pengerja gereja di JHCC - Jakarta berhasil menutup asuransi untuk seorang pejabat tinggi dan keluarganya! Komisi yang diterimanya membuat ia diberkati luar biasa.
Inilah waktunya kita menikmati kebaikan Tuhan. Kasih setia Tuhan selalu baru setiap hari. Ulangan 8:18 menyatakan, "Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini."
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Ketika pertama-tama kali boss ini, sebut saja Denny, memulai pemasaran jasa keuangan, itu sangat berat. Ditolak terus. Ketika pulang, isterinya tanya, "Sudah closing berapa banyak?" Dengan lemas Denny berkata, "Gak ada!" Isterinya tanya, "Lalu, kita mau makan apa?" Pertanyaan itu sangat menusuk kesadarannya. Dengan tekad yang lebih kuat ia berkomitmen ia akan menjalankan bisnis ini lebih giat, lebih keras, lebih smart. Penolakan tidak membuatnya malu. Yang lebih malu, kalau ia tidak punya uang. Hari demi hari dilalui dengan perjuangan. Hari demi hari mulai menampakkan hasil. Hari demi hari rezeki dinikmati.
Hingga kini ia memiliki kantor sendiri di 2 lokasi, di dua gedung perkantoran berjajar di bilangan Jl. M.H Thamrin, Jakarta. Kalau kita lihat ruang kantor pribadinya, sangat sederhana, cuma sebuah ruangan di sekat partisi. Namun ia adalah orang yang paling berhasil di bidang jasa keuangan ini. Ia menikmati banyak perjalanan ke luar negeri gratis. Ia membangun jaringan pemasaran yang terus berkembang. Setiap hari Sabtu, terlihat ratusan orang berbondong-bondong mengikuti training di perusahaannya.
Cerita lain saya baru dengar juga. Seorang pengerja gereja di JHCC - Jakarta berhasil menutup asuransi untuk seorang pejabat tinggi dan keluarganya! Komisi yang diterimanya membuat ia diberkati luar biasa.
Inilah waktunya kita menikmati kebaikan Tuhan. Kasih setia Tuhan selalu baru setiap hari. Ulangan 8:18 menyatakan, "Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini."
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Who is the Richest Man?
Saya tidak tahu apakah ini kisah nyata atau tidak, namun ada pelajaran yang sangat bagus untuk kita renungkan bersama.
Seorang petani yang hidupnya pas-pasan, pak Lukas, sedang nongkrong di sebuah warung nasi. Ia makan dengan lauk pauk seadanya, nasi dengan tempe tahu dan sayur asem. Sebelum makan, ia berdoa. Terdengar ia mengatakan, "Terima kasih, Tuhan. Terima kasih banyak untuk tempe tahu ini. Haleluya!" Di dekatnya ada seseorang yang paling kaya di desa itu, pak Indra, makan dengan lauk pauk yang lebih berkualitas : ikan goreng, ayam bakar, cumi bakar dll.
Berkatalah pak Lukas kepada orang-orang lain yang sedang makan di situ.
"Tadi malam saya bermimpi, ih serem deh, orang yang paling kaya di desa kita akan meninggal malam ini!"
"Hah? Apa kata sampean?" tanya pak Indra terkejut.
"Ya, dalam mimpi saya itu tampak orang yang paling kaya di desa kita akan meninggal malam ini!"
"Apa benar?"
"Saya tidak tahu. Itu dalam mimpi saya..."
Pulang dari warung nasi itu pak Indra sangat gelisah. Ia segera mendatangi Puskesmas, check kesehatan. Ia konsultasi dengan dokter, apakah ada penyakit kritis yang dapat membahayakan kesehatan dalam waktu dekat."
"Kesehatan bapak baik-baik saja!" jelas dokter dengan puas.
Tapi pak Indra tidak puas. Ia mendatangi lagi orang pintar di desa itu.
"Pak, bagaimana nasib saya?"
Setelah orang pintar itu meneliti garis tangan, menghitung-hitung hari kelahiran,lalu merapal mantera-mantera, sang dukun bilang:
"Nasib sampean oke oke saja!"
"Maksudnya?"
"Ya, tidak ada keapesan dalam waktu dekat ini!"
"Apa benar?"
"Ya, begitulah yang saya terima berdasarkan wangsit!"
Pak Indra masih gelisah. Ia tidak habis pikir, koq semua orang pandai dan pintar tidak menemukan isyarat kematiannya? Sepanjang hari itu pak Indra gelisah terus. Ia serba salah. Bagaimana sih menghadapi kematian ini? Apa benar ia akan meninggal malam ini? Apakah mimpi pak Lukas benar? Sepanjang malam itu pak Indra tidak dapat tidur. Detik detik kehidupan ini terasa berjalan lambat sekali. Ia menunggu waktu sampai jam 12 malam. Berat sekali menghadapi ketidak-pastian ini. Ia sangat tegang. Apakah malam ini ia akan meninggal?
Jam 12 malam berdentang. Jam 1 dini hari berdentang. Ia masih mendengar jam berbunyi, berarti ia belum meninggal. Ia ikuti perjalanan jam pada malam itu, sampai subuh.
Dengan mata mengantuk ia bangun dan segera keluar rumah, hendak menemui pak Lukas yang kata-katanya penuh kebohongan. Buktinya ia masih sehat wal afiat. Mimpi pak Lukas cuma bunga tidur belaka.
Di datanginya rumah pak Lukas. Ia mengetuk pintu. Di dalam ada kegaduhan. Di dalam ada tangisan. Ia kaget.
"Ada pak Lukas?"
"Bapak saya meninggal tadi malam, Oom!" demikian kata anak perempuan pak Lukas.
"Oh!"
Pak Indra heran. Koq yang meninggal malah pak Lukas? Padahal ia orang pas-pasan, kalau tidak dapat dikatakan orang miskin. Ia bukan orang paling kaya. Sepanjang yang ia ketahui, pak Lukas hanyalah orang yang suka bersyukur. Makan tempe tahu bersyukur. Tinggal di rumah sederhana bersyukur. Memiliki keluarga yang sederhana, ia dapat bersyukur. Apakah pak Lukas dipandang Tuhan sebagai orang yang paling kaya di desa ini karena dalam keadaan apapun ia dapat bersyukur?
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Seorang petani yang hidupnya pas-pasan, pak Lukas, sedang nongkrong di sebuah warung nasi. Ia makan dengan lauk pauk seadanya, nasi dengan tempe tahu dan sayur asem. Sebelum makan, ia berdoa. Terdengar ia mengatakan, "Terima kasih, Tuhan. Terima kasih banyak untuk tempe tahu ini. Haleluya!" Di dekatnya ada seseorang yang paling kaya di desa itu, pak Indra, makan dengan lauk pauk yang lebih berkualitas : ikan goreng, ayam bakar, cumi bakar dll.
Berkatalah pak Lukas kepada orang-orang lain yang sedang makan di situ.
"Tadi malam saya bermimpi, ih serem deh, orang yang paling kaya di desa kita akan meninggal malam ini!"
"Hah? Apa kata sampean?" tanya pak Indra terkejut.
"Ya, dalam mimpi saya itu tampak orang yang paling kaya di desa kita akan meninggal malam ini!"
"Apa benar?"
"Saya tidak tahu. Itu dalam mimpi saya..."
Pulang dari warung nasi itu pak Indra sangat gelisah. Ia segera mendatangi Puskesmas, check kesehatan. Ia konsultasi dengan dokter, apakah ada penyakit kritis yang dapat membahayakan kesehatan dalam waktu dekat."
"Kesehatan bapak baik-baik saja!" jelas dokter dengan puas.
Tapi pak Indra tidak puas. Ia mendatangi lagi orang pintar di desa itu.
"Pak, bagaimana nasib saya?"
Setelah orang pintar itu meneliti garis tangan, menghitung-hitung hari kelahiran,lalu merapal mantera-mantera, sang dukun bilang:
"Nasib sampean oke oke saja!"
"Maksudnya?"
"Ya, tidak ada keapesan dalam waktu dekat ini!"
"Apa benar?"
"Ya, begitulah yang saya terima berdasarkan wangsit!"
Pak Indra masih gelisah. Ia tidak habis pikir, koq semua orang pandai dan pintar tidak menemukan isyarat kematiannya? Sepanjang hari itu pak Indra gelisah terus. Ia serba salah. Bagaimana sih menghadapi kematian ini? Apa benar ia akan meninggal malam ini? Apakah mimpi pak Lukas benar? Sepanjang malam itu pak Indra tidak dapat tidur. Detik detik kehidupan ini terasa berjalan lambat sekali. Ia menunggu waktu sampai jam 12 malam. Berat sekali menghadapi ketidak-pastian ini. Ia sangat tegang. Apakah malam ini ia akan meninggal?
Jam 12 malam berdentang. Jam 1 dini hari berdentang. Ia masih mendengar jam berbunyi, berarti ia belum meninggal. Ia ikuti perjalanan jam pada malam itu, sampai subuh.
Dengan mata mengantuk ia bangun dan segera keluar rumah, hendak menemui pak Lukas yang kata-katanya penuh kebohongan. Buktinya ia masih sehat wal afiat. Mimpi pak Lukas cuma bunga tidur belaka.
Di datanginya rumah pak Lukas. Ia mengetuk pintu. Di dalam ada kegaduhan. Di dalam ada tangisan. Ia kaget.
"Ada pak Lukas?"
"Bapak saya meninggal tadi malam, Oom!" demikian kata anak perempuan pak Lukas.
"Oh!"
Pak Indra heran. Koq yang meninggal malah pak Lukas? Padahal ia orang pas-pasan, kalau tidak dapat dikatakan orang miskin. Ia bukan orang paling kaya. Sepanjang yang ia ketahui, pak Lukas hanyalah orang yang suka bersyukur. Makan tempe tahu bersyukur. Tinggal di rumah sederhana bersyukur. Memiliki keluarga yang sederhana, ia dapat bersyukur. Apakah pak Lukas dipandang Tuhan sebagai orang yang paling kaya di desa ini karena dalam keadaan apapun ia dapat bersyukur?
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, May 29, 2007
Renewed Person: A Story of Mother Wise Camp
"Banyak sekali berkat yang saya terima dari Camp Pembinaan Wanita Bijak (WB) ini. Dari semua sesi yang diikuti saya selalu 'disentil' dan membuat saya menyadari tentang diri saya selama ini. Lebih dari semuanya, sesi Emosi adalah sesi yang begitu banyak mengena dan memulihkan hati saya.
Saya tumbuh dalam keluarga yang 'broken home'. Orang tua saya bercerai pada waktu saya berumur 8 tahun. Sejak saat itu saya tinggal bersama nenek, sedangkan papa-mama masing-masing kembali menikah lagi. Latar belakang keluarga yang demikian membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang keras hati. Ternyata pengalaman serta perlakuan yang saya terima selama ini menjadi suatu 'masalah' setelah saya berumah-tangga, bukan hanya terhadap suami tetapi juga terhadap anak-anak.
Sebagai seorang ibu, saya sering bersikap kasar dan tidak sabar dalam menghadapi mereka. Seringkali saya hilang kendali di saat saya emosi, padahal anak-anak masih sangat kecil. Pada waktu mereka menangis, saya justru merasa semakin marah dan kesal. Namun saya sering berdoa agar Tuhan mengubah saya dan memberikan hati yang baru buat saya agar saya lebih sabar.
Kemudian saya mendengar tentang Camp WB dan bertekad untuk mengikutinya. Selama mengikuti camp ini saya terus memohon agar Tuhan menolong saya, karena saya sendiri sudah merasa benar-benar putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa. Saya bersyukur bahwa Tuhan mendengar kerinduan hati saya. Saya boleh dipulihkan menjadi pribadi yang baru. Hal itu dikuatkan oleh God's Special Words yang saya terima, yaitu dari Yehezkiel 36:26, 'Kamu akan Kuberi hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.' Ayat tersebut adalah jawaban Tuhan yang sangat menguatkan hati saya, membuat saya bersyukur atas kasih-Nya. Apa yang sudah saya terima dari Tuhan melalui camp WB ini membangkitkan tekad dalam diri saya untuk terus berusaha menjadi mutiara yang indah dan berharga." (Ratih, Semarang)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Saya tumbuh dalam keluarga yang 'broken home'. Orang tua saya bercerai pada waktu saya berumur 8 tahun. Sejak saat itu saya tinggal bersama nenek, sedangkan papa-mama masing-masing kembali menikah lagi. Latar belakang keluarga yang demikian membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang keras hati. Ternyata pengalaman serta perlakuan yang saya terima selama ini menjadi suatu 'masalah' setelah saya berumah-tangga, bukan hanya terhadap suami tetapi juga terhadap anak-anak.
Sebagai seorang ibu, saya sering bersikap kasar dan tidak sabar dalam menghadapi mereka. Seringkali saya hilang kendali di saat saya emosi, padahal anak-anak masih sangat kecil. Pada waktu mereka menangis, saya justru merasa semakin marah dan kesal. Namun saya sering berdoa agar Tuhan mengubah saya dan memberikan hati yang baru buat saya agar saya lebih sabar.
Kemudian saya mendengar tentang Camp WB dan bertekad untuk mengikutinya. Selama mengikuti camp ini saya terus memohon agar Tuhan menolong saya, karena saya sendiri sudah merasa benar-benar putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa. Saya bersyukur bahwa Tuhan mendengar kerinduan hati saya. Saya boleh dipulihkan menjadi pribadi yang baru. Hal itu dikuatkan oleh God's Special Words yang saya terima, yaitu dari Yehezkiel 36:26, 'Kamu akan Kuberi hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.' Ayat tersebut adalah jawaban Tuhan yang sangat menguatkan hati saya, membuat saya bersyukur atas kasih-Nya. Apa yang sudah saya terima dari Tuhan melalui camp WB ini membangkitkan tekad dalam diri saya untuk terus berusaha menjadi mutiara yang indah dan berharga." (Ratih, Semarang)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, May 28, 2007
The Testimony of Rev. Pramono Limanto
Hari Minggu kemarin saya mendengar kesaksian Pdt. Pramono Limanto. Tahun 2001 yang lalu dia mencari-cari tempat tinggal di Jakarta, diutus suatu gereja di Surabaya yang di bawah penggembalaan Bapak Jusuf B.S. Setelah mencari-cari tempat yang cocok di Jakarta, Bekasi, Cibubur, Bogor, koq tak ada tempat yang terasa sreg? Terakhir, Pdt. Pramono diajak temannya melihat-lihat daerah Serpong.
Memasuki daerah Serpong, hati hamba Tuhan ini merasa kerasan. Mereka mendatangi agen properti dan mencari rumah-rumah yang disewakan. Ada satu rumah yang menarik perhatian Pdt. Pram, sebuah rumah cukup besar, 10 x 25 m, berlantai 2, di pinggir jalan besar. Ketika mereka melihat rumah itu, sayangnya pemilik rumah sedang tidak ada, sehingga mereka tidak dapat masuk dan melihat-lihat bagian dalamnya. Namun di hati Pdt. Pram, rumah ini terasa cocok. Agen itu menawarkan harga sewa Rp. 13 juta per tahun dan minimum harus disewa 2 tahun.
Setelah melihat rumah yang dirasa cocok ini, Pdt. Pram kembali lagi ke Surabaya, membicarakan hal itu dengan Bapak Pdt. Jusuf B.S. Gereja setuju untuk membiayai uang sewa selama 2 tahun, sebesar Rp. 20 juta, atau Rp. 10 juta per tahun, ditambah biaya penghidupan.
Satu minggu kemudian, Pdt. Pram kembali mendatangi rumah yang akan disewa itu di Serpong. Kali ini ia berhasil ketemu dengan pemilik rumah.
“Tahu dari mana, pak, bahwa rumah ini mau disewakan?” tanya ibu pemilik rumah.
“Bu, minggu lalu saya diantar oleh agen properti anu.”
“Oh, begitu. Beberapa hari yang lalu kontrak dengan agen properti itu sudah habis, jadi bapak bisa berhubungan langsung dengan saya. Berapa harga sewa yang ditawarkan agen properti itu, pak?”
“Tiga belas juta per tahun, bu!”
“Saya akan bekerja di Jepang dua tahun, rumah ini tidak ada yang menempati. Apakah bapak cocok tinggal di rumah ini?”
“Kelihatannya begitu, bu!”
“Begini saja. Uang sewanya saya kasih Rp. 10 juta per tahun, tapi jangan ditawar lagi ya?”
Mendengar penawaran sang ibu pemilik rumah tersebut, Pdt. Pram langsung bilang di hatinya : Deal! Rumah itu kelihatan bagus, baru direnovasi, lengkap dengan perabotan, bahkan termasuk peralatan dan perlengkapan dapur. Pdt. Pram dan keluarganya tinggal masuk membawa pakaian saja. Selebihnya sudah tersedia. Itulah berkat dari Tuhan. Mereka akhirnya sepakat mengikatkan diri dalam perjanjian sewa menyewa selama 2 tahun.
Dalam pelayanannya di Jakarta, Pdt. Pram tidak diutus Tuhan untuk membuka gereja baru, namun pelayanannya aneh dan unik, yaitu membangun generasi baru melalui pelayanan pemuridan. Selama itulah ada banyak orang-orang yang hidupnya dipersiapkan Tuhan melalui pelayanan hamba-Nya, Pdt. Pramono Limanto.
Setelah berlangsung setahun lebih, pada bulan Oktober 2002, Pdt. Pram berani menyatakan kepada gembala dan gereja yang mengutusnya di Surabaya, bahwa mulai saat itu bantuan keuangan untuk diri dan keluarganya boleh dialihkan kepada hamba-hamba Tuhan lain yang lebih memerlukan.
Gembalanya tanya, “Sudah berapa banyak jemaat yang digembalakan di Jakarta?”
“Ah, cuma beberapa orang murid saja…”
“Tapi, sebenarnya bantuan keuangan ini masih jatahmu, lho!”
“Baiklah, pak Jusuf, saya dengan iman percaya bahwa Bapa di Sorga akan mencukupi kebutuhan kami menurut kekayaan dan kemuliaan dalam Tuhan Yesus Kristus!”
“Amin!” kata gembala seniornya, pak Jusuf.
Mulailah perjalanan iman, mengandalkan keuangan dari Tuhan langsung, dalam pelayanannya di Jakarta. Empat bulan lagi Pdt. Pram harus membayar uang sewa rumah untuk dua tahun ke depan, padahal saat itu belum ada uang di tangan. Pdt. Pram hanya berdoa, dan ketika ia percaya, mukjizat itu nyata.
Pada suatu pagi, jam 5.30, pintu rumahnya diketuk orang. Rupanya seorang tetangga bertamu pagi-pagi itu. Pdt. Pram yang masih mengantuk karena malam sebelumnya melayani konseling via internet, agak kaget menerima tamu sepagi itu.
“Shalom, pak. Ada yang bisa saya bantu?”
“Oh, maaf, pak Pram, mengganggu. Ini ada oleh-oleh untuk anak-anak bapak.”
Pdt. Pram menerima kantong kresek warna hitam dari tangan seorang tetangganya. Ia pikir, isinya donat buat anak-anak.
“Terima kasih, ya pak. Koq merepotkan sih…” demikian basa-basi Pdt. Pram.
“Ya, sama-sama, pak. Mari pak, saya mohon pamit dulu, karena mau langsung berangkat ke kantor.” Memang orang di sekitar Jakarta ini, pergi pagi-pagi, pulang petang.
Ditaruhnya kantong kresek ini di meja makan, lalu Pdt. Pram tidur lagi. Di pagi itu isterinya yang tahu ada tamu yang datang, menanyakan ada apa.
“Oh, ada tetangga kita yang kasih donat!”
“Dimana donatnya?”
“Di meja makan!”
Setelah isterinya mencari-cari di meja makan, tidak ada donat. Yang ada cuma kantong kresek. Dibukannya kantong itu dan . . .
“Pap, donatnya tidak ada. Yang ada, ini…” Isterinya mengangkat dua gepok uang ratusan ribu. Pdt. Pram kaget sekali. Dihitungnya uang itu. Jumlahnya dua puluh juta rupiah! Tetangganya yang tidak terlalu dikenalnya itu memberi dua puluh juta rupiah. Buru-buru ia bangkit dan mencari nomor Handphone tetangganya.
“Shallom, pak!”
“Ya, shallom, juga…”
“Pak, bapak memberi untuk anak-anak... Saya kira donat.”
“Oh, ya, untuk beli donat juga bisa koq.”
“Wah, pak. Saya tidak kira, pak. Saya kaget sekali, karena saya baru memutuskan agar kiriman uang dari gereja pusat bagi saya dihentikan saja. Tidak tahunya Tuhan mengirimkan bantuan lewat bapak…”
“Oh, kalau gitu kurang dong ya, pak!”
“Pak, bukan maksud saya, pemberian bapak kurang, maaf pak. Bukan itu maksud saya. Cuma saya terharu saja, melihat kebaikan Tuhan yang pas waktunya. Terima kasih banyak, pak. Kiranya Tuhan membalaskan kebaikan bapak ini berlipat ganda.”
“Ya, terima kasih.”
Malamnya tetangga itu yang merasa pemberiannya kurang, ternyata memberi lagi enam juta rupiah. Meskipun Pdt. Pramono dengan segala cara hendak menolak pemberian itu, karena merasa tidak enak, sepertinya memanfaatkan orang untuk berbelas kasihan kepadanya, tapi tetangga itu memaksa. Ia baru tahu kemudian, mengapa ia perlu uang Rp. 26 juta.
Segera Pdt. Pram, menghubungi pemilik rumah di Jepang. Via email, ia mendapat jawaban.
“Begini, pak Pram. Kebetulan kerja saya di Jepang diperpanjang dua tahun lagi. Uang sewanya disamakan saja dengan penawaran agen properti itu, Rp. 13 juta per tahun dan jangan ditawar lagi!”
“Ya, setuju deh bu! Bagaimana bayarnya?”
“Nanti kalau saya kebetulan ke Jakarta, transfer ke rekening saya.”
“Baiklah, bu!”
Enam bulan kemudian, setelah keluarga Pdt. Pram menempati rumah itu untuk periode dua tahun berikutnya, pemilik rumah tiba di Jakarta.
“Pak Pram, saya sekarang ada di bandara Soekarno Hatta, mau ke Jogja, tidak sempat mampir ke Serpong. Tapi saya perlu Rp. 5 juta, tolong transfer ya, sisa uang sewa, dipegang bapak dulu saja ya..”
Pdt. Pram mentransfer jumlah uang yang dikehendaki, Rp. 5 juta, padahal uang Rp. 26 juta siap ada di tangannya untuk dibayarkan kepada pemilik rumah itu. Aneh juga, ya?
Beberapa minggu kemudian, ibu pemilik rumah telpon lagi.
“Pak Pram, saya akan pulang ke Jepang, tapi saya perlu beli oleh-oleh. Apakah bisa transfer Rp. 2 juta lagi?”
“Bisa, bu! Tapi sisa Rp. 19 jutanya bagaimana?”
“Pak Pram simpan saja dulu, barangkali buat renovasi nanti-nanti.”
Pdt. Pram baru membayar Rp. 7 juta untuk menempati rumah itu selama dua tahun lagi. Benar-benar ia bersyukur mendapatkan 'land lord' yang murah hati ini, padahal ibu ini bukan orang Kristen.
Dan pada suatu saat ada di dalam hati Pdt. Pram hasrat untuk membeli rumah itu. Ia memiliki rumah di Surabaya seluas 10 x 15 m. Ia tanya kepada ibu pemilik rumah via email lagi.
“Bu, maaf, adakah rencana ibu untuk menjual rumah itu kepada saya? Rasanya saya cocok sekali tinggal di rumah ini!”
“Pak Pram, kayaknya saya juga cocok tinggal di Jepang ini. Dan kalau saya ke Indonesia, saya tidak perlu ke Serpong. Saya hanya mengunjungi saudara-saudara di Jawa. Yah, saya juga berniat menjual rumah di Serpong itu. Tolong ya, pak, carikan informasi dari tetangga dan agen properti, berapa harga pasaran rumah saya itu?”
Pdt. Pram mengadakan survai kecil-kecilan dan mendapatkan informasi yang lengkap tentang harga tanah dan rumah di sekitar situ. Ia mengirimkan data itu kepada ibu pemilik rumah.
“Bapak memang pendeta!”
Di hati Pdt. Pram timbul pertanyaan atas isi email yang pendek itu, “Maksud lu?” Tapi itu tidak ditulis di emailnya, sebaliknya ia menulis, “Berapa bu, harga rumah yang ibu tawarkan?”
“Begini, pak. Saya juga meminta teman-teman mengecek harga. Ternyata angka yang diberikan bapak itu akurat, tidak dikurang-kurangi. Saya salut, bapak memang pendeta yang jujur. Oleh karena itu saya mau jual rumah itu seharga Rp. 410 juta, jangan ditawar lagi, pak!”
Begitulah selalu, penawaran si ibu selalu diembel-embeli, “Jangan ditawar lagi!” Tapi uang dari Tuhan selalu mencukupi sehingga sang Pendeta tidak harus minta diskon. Rumah Pdt. Pram di Surabaya itu laku terjual dengan harga Rp. 400 juta. Ia setuju mengadakan transaksi jual beli rumah itu dengan harga Rp. 410 juta.
Setelah segala urusan jual beli itu selesai, ada satu hal yang masih mengganjal, yaitu sisa uang Rp. 19 juta, uang sewa yang masih harus dibayar itu.
Pdt. Pramono menanyakan hal ini kepada sang ibu penjual rumah.
“Bu, ada satu hal lagi yang belum beres.”
“Apa itu, pak?”
“Kan, uang sewa ibu masih ada di saya Rp. 19 juta.”
“Wah, bapak memang pendeta jujur. Saya anggap, uang sewa Rp. 7 juta yang sudah saya terima itu sudah cukup, pegang saja uang itu untuk bapak!”
Puji Tuhan! Benar-benar kasih karunia Tuhan menyertai kehidupan Pdt. Pramono Limanto ini.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Memasuki daerah Serpong, hati hamba Tuhan ini merasa kerasan. Mereka mendatangi agen properti dan mencari rumah-rumah yang disewakan. Ada satu rumah yang menarik perhatian Pdt. Pram, sebuah rumah cukup besar, 10 x 25 m, berlantai 2, di pinggir jalan besar. Ketika mereka melihat rumah itu, sayangnya pemilik rumah sedang tidak ada, sehingga mereka tidak dapat masuk dan melihat-lihat bagian dalamnya. Namun di hati Pdt. Pram, rumah ini terasa cocok. Agen itu menawarkan harga sewa Rp. 13 juta per tahun dan minimum harus disewa 2 tahun.
Setelah melihat rumah yang dirasa cocok ini, Pdt. Pram kembali lagi ke Surabaya, membicarakan hal itu dengan Bapak Pdt. Jusuf B.S. Gereja setuju untuk membiayai uang sewa selama 2 tahun, sebesar Rp. 20 juta, atau Rp. 10 juta per tahun, ditambah biaya penghidupan.
Satu minggu kemudian, Pdt. Pram kembali mendatangi rumah yang akan disewa itu di Serpong. Kali ini ia berhasil ketemu dengan pemilik rumah.
“Tahu dari mana, pak, bahwa rumah ini mau disewakan?” tanya ibu pemilik rumah.
“Bu, minggu lalu saya diantar oleh agen properti anu.”
“Oh, begitu. Beberapa hari yang lalu kontrak dengan agen properti itu sudah habis, jadi bapak bisa berhubungan langsung dengan saya. Berapa harga sewa yang ditawarkan agen properti itu, pak?”
“Tiga belas juta per tahun, bu!”
“Saya akan bekerja di Jepang dua tahun, rumah ini tidak ada yang menempati. Apakah bapak cocok tinggal di rumah ini?”
“Kelihatannya begitu, bu!”
“Begini saja. Uang sewanya saya kasih Rp. 10 juta per tahun, tapi jangan ditawar lagi ya?”
Mendengar penawaran sang ibu pemilik rumah tersebut, Pdt. Pram langsung bilang di hatinya : Deal! Rumah itu kelihatan bagus, baru direnovasi, lengkap dengan perabotan, bahkan termasuk peralatan dan perlengkapan dapur. Pdt. Pram dan keluarganya tinggal masuk membawa pakaian saja. Selebihnya sudah tersedia. Itulah berkat dari Tuhan. Mereka akhirnya sepakat mengikatkan diri dalam perjanjian sewa menyewa selama 2 tahun.
Dalam pelayanannya di Jakarta, Pdt. Pram tidak diutus Tuhan untuk membuka gereja baru, namun pelayanannya aneh dan unik, yaitu membangun generasi baru melalui pelayanan pemuridan. Selama itulah ada banyak orang-orang yang hidupnya dipersiapkan Tuhan melalui pelayanan hamba-Nya, Pdt. Pramono Limanto.
Setelah berlangsung setahun lebih, pada bulan Oktober 2002, Pdt. Pram berani menyatakan kepada gembala dan gereja yang mengutusnya di Surabaya, bahwa mulai saat itu bantuan keuangan untuk diri dan keluarganya boleh dialihkan kepada hamba-hamba Tuhan lain yang lebih memerlukan.
Gembalanya tanya, “Sudah berapa banyak jemaat yang digembalakan di Jakarta?”
“Ah, cuma beberapa orang murid saja…”
“Tapi, sebenarnya bantuan keuangan ini masih jatahmu, lho!”
“Baiklah, pak Jusuf, saya dengan iman percaya bahwa Bapa di Sorga akan mencukupi kebutuhan kami menurut kekayaan dan kemuliaan dalam Tuhan Yesus Kristus!”
“Amin!” kata gembala seniornya, pak Jusuf.
Mulailah perjalanan iman, mengandalkan keuangan dari Tuhan langsung, dalam pelayanannya di Jakarta. Empat bulan lagi Pdt. Pram harus membayar uang sewa rumah untuk dua tahun ke depan, padahal saat itu belum ada uang di tangan. Pdt. Pram hanya berdoa, dan ketika ia percaya, mukjizat itu nyata.
Pada suatu pagi, jam 5.30, pintu rumahnya diketuk orang. Rupanya seorang tetangga bertamu pagi-pagi itu. Pdt. Pram yang masih mengantuk karena malam sebelumnya melayani konseling via internet, agak kaget menerima tamu sepagi itu.
“Shalom, pak. Ada yang bisa saya bantu?”
“Oh, maaf, pak Pram, mengganggu. Ini ada oleh-oleh untuk anak-anak bapak.”
Pdt. Pram menerima kantong kresek warna hitam dari tangan seorang tetangganya. Ia pikir, isinya donat buat anak-anak.
“Terima kasih, ya pak. Koq merepotkan sih…” demikian basa-basi Pdt. Pram.
“Ya, sama-sama, pak. Mari pak, saya mohon pamit dulu, karena mau langsung berangkat ke kantor.” Memang orang di sekitar Jakarta ini, pergi pagi-pagi, pulang petang.
Ditaruhnya kantong kresek ini di meja makan, lalu Pdt. Pram tidur lagi. Di pagi itu isterinya yang tahu ada tamu yang datang, menanyakan ada apa.
“Oh, ada tetangga kita yang kasih donat!”
“Dimana donatnya?”
“Di meja makan!”
Setelah isterinya mencari-cari di meja makan, tidak ada donat. Yang ada cuma kantong kresek. Dibukannya kantong itu dan . . .
“Pap, donatnya tidak ada. Yang ada, ini…” Isterinya mengangkat dua gepok uang ratusan ribu. Pdt. Pram kaget sekali. Dihitungnya uang itu. Jumlahnya dua puluh juta rupiah! Tetangganya yang tidak terlalu dikenalnya itu memberi dua puluh juta rupiah. Buru-buru ia bangkit dan mencari nomor Handphone tetangganya.
“Shallom, pak!”
“Ya, shallom, juga…”
“Pak, bapak memberi untuk anak-anak... Saya kira donat.”
“Oh, ya, untuk beli donat juga bisa koq.”
“Wah, pak. Saya tidak kira, pak. Saya kaget sekali, karena saya baru memutuskan agar kiriman uang dari gereja pusat bagi saya dihentikan saja. Tidak tahunya Tuhan mengirimkan bantuan lewat bapak…”
“Oh, kalau gitu kurang dong ya, pak!”
“Pak, bukan maksud saya, pemberian bapak kurang, maaf pak. Bukan itu maksud saya. Cuma saya terharu saja, melihat kebaikan Tuhan yang pas waktunya. Terima kasih banyak, pak. Kiranya Tuhan membalaskan kebaikan bapak ini berlipat ganda.”
“Ya, terima kasih.”
Malamnya tetangga itu yang merasa pemberiannya kurang, ternyata memberi lagi enam juta rupiah. Meskipun Pdt. Pramono dengan segala cara hendak menolak pemberian itu, karena merasa tidak enak, sepertinya memanfaatkan orang untuk berbelas kasihan kepadanya, tapi tetangga itu memaksa. Ia baru tahu kemudian, mengapa ia perlu uang Rp. 26 juta.
Segera Pdt. Pram, menghubungi pemilik rumah di Jepang. Via email, ia mendapat jawaban.
“Begini, pak Pram. Kebetulan kerja saya di Jepang diperpanjang dua tahun lagi. Uang sewanya disamakan saja dengan penawaran agen properti itu, Rp. 13 juta per tahun dan jangan ditawar lagi!”
“Ya, setuju deh bu! Bagaimana bayarnya?”
“Nanti kalau saya kebetulan ke Jakarta, transfer ke rekening saya.”
“Baiklah, bu!”
Enam bulan kemudian, setelah keluarga Pdt. Pram menempati rumah itu untuk periode dua tahun berikutnya, pemilik rumah tiba di Jakarta.
“Pak Pram, saya sekarang ada di bandara Soekarno Hatta, mau ke Jogja, tidak sempat mampir ke Serpong. Tapi saya perlu Rp. 5 juta, tolong transfer ya, sisa uang sewa, dipegang bapak dulu saja ya..”
Pdt. Pram mentransfer jumlah uang yang dikehendaki, Rp. 5 juta, padahal uang Rp. 26 juta siap ada di tangannya untuk dibayarkan kepada pemilik rumah itu. Aneh juga, ya?
Beberapa minggu kemudian, ibu pemilik rumah telpon lagi.
“Pak Pram, saya akan pulang ke Jepang, tapi saya perlu beli oleh-oleh. Apakah bisa transfer Rp. 2 juta lagi?”
“Bisa, bu! Tapi sisa Rp. 19 jutanya bagaimana?”
“Pak Pram simpan saja dulu, barangkali buat renovasi nanti-nanti.”
Pdt. Pram baru membayar Rp. 7 juta untuk menempati rumah itu selama dua tahun lagi. Benar-benar ia bersyukur mendapatkan 'land lord' yang murah hati ini, padahal ibu ini bukan orang Kristen.
Dan pada suatu saat ada di dalam hati Pdt. Pram hasrat untuk membeli rumah itu. Ia memiliki rumah di Surabaya seluas 10 x 15 m. Ia tanya kepada ibu pemilik rumah via email lagi.
“Bu, maaf, adakah rencana ibu untuk menjual rumah itu kepada saya? Rasanya saya cocok sekali tinggal di rumah ini!”
“Pak Pram, kayaknya saya juga cocok tinggal di Jepang ini. Dan kalau saya ke Indonesia, saya tidak perlu ke Serpong. Saya hanya mengunjungi saudara-saudara di Jawa. Yah, saya juga berniat menjual rumah di Serpong itu. Tolong ya, pak, carikan informasi dari tetangga dan agen properti, berapa harga pasaran rumah saya itu?”
Pdt. Pram mengadakan survai kecil-kecilan dan mendapatkan informasi yang lengkap tentang harga tanah dan rumah di sekitar situ. Ia mengirimkan data itu kepada ibu pemilik rumah.
“Bapak memang pendeta!”
Di hati Pdt. Pram timbul pertanyaan atas isi email yang pendek itu, “Maksud lu?” Tapi itu tidak ditulis di emailnya, sebaliknya ia menulis, “Berapa bu, harga rumah yang ibu tawarkan?”
“Begini, pak. Saya juga meminta teman-teman mengecek harga. Ternyata angka yang diberikan bapak itu akurat, tidak dikurang-kurangi. Saya salut, bapak memang pendeta yang jujur. Oleh karena itu saya mau jual rumah itu seharga Rp. 410 juta, jangan ditawar lagi, pak!”
Begitulah selalu, penawaran si ibu selalu diembel-embeli, “Jangan ditawar lagi!” Tapi uang dari Tuhan selalu mencukupi sehingga sang Pendeta tidak harus minta diskon. Rumah Pdt. Pram di Surabaya itu laku terjual dengan harga Rp. 400 juta. Ia setuju mengadakan transaksi jual beli rumah itu dengan harga Rp. 410 juta.
Setelah segala urusan jual beli itu selesai, ada satu hal yang masih mengganjal, yaitu sisa uang Rp. 19 juta, uang sewa yang masih harus dibayar itu.
Pdt. Pramono menanyakan hal ini kepada sang ibu penjual rumah.
“Bu, ada satu hal lagi yang belum beres.”
“Apa itu, pak?”
“Kan, uang sewa ibu masih ada di saya Rp. 19 juta.”
“Wah, bapak memang pendeta jujur. Saya anggap, uang sewa Rp. 7 juta yang sudah saya terima itu sudah cukup, pegang saja uang itu untuk bapak!”
Puji Tuhan! Benar-benar kasih karunia Tuhan menyertai kehidupan Pdt. Pramono Limanto ini.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
A Story from Mother Wise Camp
Tuhan Melakukan Perubahan
"Saya adalah anak bungsu dari enam bersaudara. Sejak kecil saya biasa dimanja dan tidak pernah melakukan pekerjaan rumah, sehingga saya tumbuh menjadi seorang gadis manja, egoistis, dan keras kepala. Sifat tersebut terbawa sampai saya menikah. Sampai saat menikah itu saya belum percaya kepada Tuhan Yesus.
Suami saya adalah seorang Kristen. Tetapi sejak saya menikah dengan dia, saya tidak pernah mendukung dan ikut suami bila dia pergi ke gereja, sehingga hal itu berpengaruh kepada suami saya. Sampai kurang lebih 8 tahun pernikahan kami, suami saya jadi malas beribadah. Sifat saya yang egoistis dan keras kepala, serta perbedaan keyakinan diantara kami menyebabkan terjadinya pertengkaran-pertengkaran di sepanjang pernikahan kami. Hal itu terus terjadi hingga kami dikaruniai tiga orang anak. Pada tahun ke-8 pernikahan kami, terjadi badai yang mengguncang ikatan kasih dan kepercayaan kami satu sama lain, sehingga pada tahun 2001 kami memutuskan untuk bercerai, tanpa memikirkan perasaan dan masa depan anak-anak kami.
Namun kemurahan dan kasih Tuhan tetap berlaku atas keluarga kami. Di tahun 2004 suami saya diajak seorang teman untuk mengikuti KKR Pria Sejati dan sebulan kemudian mengikuti Camp Pembinaan Pria Sejati. Lewat semuanya ini Tuhan menyadarkan suami saya untuk sungguh-sungguh bertobat dan mengalami perubahan demi perubahan. Menyaksikan hal tersebut, saya bertobat dan mengalami kelahiran baru. Saya mengambil keputusan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi saya.
Akhirnya di tahun yang sama saya juga mengikuti pembinaan Wanita Bijak, yang mengubah cara berpikir saya dan mengajarkan saya bagaimana menjadi isteri, penolong suami dan terus belajar melepaskan pengampunan kepada suami saya. Pemulihan pribadi yang lebih lagi saya alami. Setelah mengikuti pembinaan, saya juga terus berada dalam komunitas persekutuan doa yang sangat menolong saya untuk semakin bertumbuh. Atas semua pemulihan yang kami alami, maka di tahun yang sama kami memutuskan untuk bersatu kembali, namun masih dengan status bercerai.
Perubahan demi perubahan terus Tuhan kerjakan di dalam keluarga saya. Hal itu terutama saya rasakan pada saya pribadi. Saya yang dulunya keras kepala dan egoistis, karena kasih karunia Tuhan diberikan hati yang lembut. Sejak mengikuti pembinaan Wanita Bijak saya terus belajar berubah menjadi penolong bagi suami saya dan menjadi wanita bijak yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Saya bersyukur kepada Tuhan karena saya dipilih untuk menjadi anak-Nya. Lewat pembinaan Wanita Bijak (WB) saya mengerti bahwa saya adalah wanita yang berharga di mata Tuhan, bagaimanapun keadaan saya. Saya juga belajar untuk tunduk pada otoritas suami dengan pertolongan Tuhan.
Tahun 2005 kami memutuskan untuk menikah ulang di Catatan Sipil dan pernikahan kami kali ini diteguhkan ulang di Gereja. Sungguh, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan kita!" (Erly, Pembinaan WB Angkatan 1, Cirebon)- Hubungi Sekretariat Pelayanan "Wanita Bijak" untuk informasi lebih lanjut : 021 - 4585 2632 - Sdri Chica/Tantri.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
"Saya adalah anak bungsu dari enam bersaudara. Sejak kecil saya biasa dimanja dan tidak pernah melakukan pekerjaan rumah, sehingga saya tumbuh menjadi seorang gadis manja, egoistis, dan keras kepala. Sifat tersebut terbawa sampai saya menikah. Sampai saat menikah itu saya belum percaya kepada Tuhan Yesus.
Suami saya adalah seorang Kristen. Tetapi sejak saya menikah dengan dia, saya tidak pernah mendukung dan ikut suami bila dia pergi ke gereja, sehingga hal itu berpengaruh kepada suami saya. Sampai kurang lebih 8 tahun pernikahan kami, suami saya jadi malas beribadah. Sifat saya yang egoistis dan keras kepala, serta perbedaan keyakinan diantara kami menyebabkan terjadinya pertengkaran-pertengkaran di sepanjang pernikahan kami. Hal itu terus terjadi hingga kami dikaruniai tiga orang anak. Pada tahun ke-8 pernikahan kami, terjadi badai yang mengguncang ikatan kasih dan kepercayaan kami satu sama lain, sehingga pada tahun 2001 kami memutuskan untuk bercerai, tanpa memikirkan perasaan dan masa depan anak-anak kami.
Namun kemurahan dan kasih Tuhan tetap berlaku atas keluarga kami. Di tahun 2004 suami saya diajak seorang teman untuk mengikuti KKR Pria Sejati dan sebulan kemudian mengikuti Camp Pembinaan Pria Sejati. Lewat semuanya ini Tuhan menyadarkan suami saya untuk sungguh-sungguh bertobat dan mengalami perubahan demi perubahan. Menyaksikan hal tersebut, saya bertobat dan mengalami kelahiran baru. Saya mengambil keputusan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi saya.
Akhirnya di tahun yang sama saya juga mengikuti pembinaan Wanita Bijak, yang mengubah cara berpikir saya dan mengajarkan saya bagaimana menjadi isteri, penolong suami dan terus belajar melepaskan pengampunan kepada suami saya. Pemulihan pribadi yang lebih lagi saya alami. Setelah mengikuti pembinaan, saya juga terus berada dalam komunitas persekutuan doa yang sangat menolong saya untuk semakin bertumbuh. Atas semua pemulihan yang kami alami, maka di tahun yang sama kami memutuskan untuk bersatu kembali, namun masih dengan status bercerai.
Perubahan demi perubahan terus Tuhan kerjakan di dalam keluarga saya. Hal itu terutama saya rasakan pada saya pribadi. Saya yang dulunya keras kepala dan egoistis, karena kasih karunia Tuhan diberikan hati yang lembut. Sejak mengikuti pembinaan Wanita Bijak saya terus belajar berubah menjadi penolong bagi suami saya dan menjadi wanita bijak yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Saya bersyukur kepada Tuhan karena saya dipilih untuk menjadi anak-Nya. Lewat pembinaan Wanita Bijak (WB) saya mengerti bahwa saya adalah wanita yang berharga di mata Tuhan, bagaimanapun keadaan saya. Saya juga belajar untuk tunduk pada otoritas suami dengan pertolongan Tuhan.
Tahun 2005 kami memutuskan untuk menikah ulang di Catatan Sipil dan pernikahan kami kali ini diteguhkan ulang di Gereja. Sungguh, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan kita!" (Erly, Pembinaan WB Angkatan 1, Cirebon)- Hubungi Sekretariat Pelayanan "Wanita Bijak" untuk informasi lebih lanjut : 021 - 4585 2632 - Sdri Chica/Tantri.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
A Wedding Party in the Earthquake (2)
Setelah gempa bumi terjadi di Jogja dan sekitarnya, seluruh jaringan komunikasi mati total. Handphone tidak berfungsi sama sekali. Aku yang baru saja sembuh tidak dapat menghubungi Event Organizer (EO)ku. Kami tidak tahu apakah besok pesta pernikahan yang “once in a life time” dapat tetap berlangsung atau tidak, atau menjadi seperti apa.
Sabtu siang, beberapa saudara ada yang berhasil menelpon, itupun hanya menanyakan : apakah pemberkatan dan resepsi pernikahan kami akan tetap berjalan. Kami hanya bisa berucap, “Ya, ya!” dengan iman.
Sabtu malam itu tanggal 27 Mei 2006, sesuai jadwal Pak Jeffry S. Tjandra datang dari Jakarta untuk mengisi acara dan sekaligus menjadi MC di acara pernikahan kami. Ternyata bandara Adi Sucipto, Jogja, ditutup. Semua penerbangan ke Jogja dibatalkan, karena bandaranya terkena gempa, tidak dapat dipakai untuk mendarat ataupun lepas landas. Sebagai gantinya, semua penerbangan ke Jogja dialihkan ke Solo dan Semarang. Sebagian tamu-tamu luar kota yang akan datang dan sudah membeli tiket terpaksa dibatalkan.
Namun Pak Jeffry S. Tjandra tetap konsisten. Beliau tetap datang walaupun harus lewat Semarang dan kemudian naik bis ke Jogja. Pada Sabtu malam itu kota Jogja gelap gulita karena semua jaringan listrik dipadamkan PLN.
Ya, Tuhan! Malam itu aku dan (calon) suamiku hanya berlutut, menangis dan berdoa. Kami hanya pasrah. Tuhan, kami benar-benar tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Kami hanya mau ikut jalan Tuhan. Bila Tuhan tidak mengizinkan kami menikah besok, Minggu 28 Mei 2006, kami hanya bisa pasrah dan ikut semua rencana-Nya. Tetapi kami percaya Tuhan pasti memberi yang terindah untuk anak-anak yang mengasihi-Nya.
Sabtu malam jam 11 akhirnya kami mengadakan meeting dengan EO untuk membahas dan merevisi ulang semua rencana pernikahan kami untuk keesokannya. Ketika meeting itu saya hanya bisa menangis dan menangis. Entahlah apa yang akan terjadi esok hari.
Meeting selesai pada pukul 3 dini hari, karena begitu banyak hal yang harus kami bicarakan. Jam 4 subuh aku sudah harus pergi ke Salon. Bisa dikatakan beberapa minggu ini kami kurang tidur terus karena harus mengurus pernikahan. Padahal kalau mengingat kondisiku yang baru sembuh dari sakit, seharusnya aku harus banyak istirahat. Tapi kenyataannya kondisinya tidak memungkinkan, mau bagaimana lagi?
Jam 4.30 subuh aku datang ke Salon dengan mata sembab. Pada saat di-make-up pun aku tak kuasa menahan air mataku yang jatuh terus menerus mengalir membasahi pipiku. Dalam hati aku hanya berharap satu hal: jika pemberkatan di gereja dan Catatan Sipil bisa berjalan lancar saja, aku sudah sangat senang karena aku pikir, itulah moment sakralku saat aku diberkati oleh Tuhan dalam pernikahan kudus ini.
Puji Tuhan, semua pendukung acara pernikahanku bisa melaksanakan kewajibannya dan akhirnya kami bisa melewati pemberkatan di Gereja dan acara di Catatan Sipil. Oh, saat itu aku sudah sangat lega dan bersyukur kepada Tuhan. Kami sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi pada saat resepsi sore harinya karena Jogjakarta masih dalam kondisi pasca gempa yang mencekam, dimana aliran listrik dan air masih belum berfungsi.
Pada saat acara “Pai Ciu”(salah satu rangkaian acara dalam adat Tionghoa), kami sangat bergembira karena pada saat dikumpulkan ternyata cukup banyak saudara-saudara kami yang datang meskipun di tengah-tengan suasana gempa. Kami sangat bersyukur karena mereka masih tetap mau datang. Setelah Pai Ciu selesai, mereka diarahkan masuk ke dalam Ballroom sambil menunggu acara dimulai. Saat itu kami bertanya kepada EO, kira-kira berapa meja yang telah terisi? Oh, Tuhan! Ternyata baru 10 % dari total meja undangan.
Oh, Tuhan! Di dalam pikiran kami sudah terbayang meja-meja bakal kosong. Tetapi kami sangat memahami mereka yang tak dapat datang, karena mereka mungkin masih trauma akibat gempa kemarin. Mungkin diantara mereka ada yang sudah pergi mengungsi keluar dari Jogja.
Kami kembali pasrah. Namun di dalam hati ini kami sudah sangat sangat bersyukur: di tengah bencana melanda Jogja sekalipun acara pemberkatan pernikahan kami di Gereja dan di Catatan Sipil boleh berjalan dengan lancar.
Satu jam kemudian kami ditelpon oleh pihak Event Organizer (EO) agar mempelai siap-siap untuk turun dari kamar hotel dan memasuki Ballroom. Dengan perasaan berdebar-debar kami bertanya kepada EO berapa jumlah meja undangan yang sudah terisi? Oh, puji Tuhan, 90% terisi, suatu jumlah yang sangat tidak kami bayangkan sebelumnya.
Bahkan Tuhan masih menyatakan mukjizat-Nya. Sepuluh menit setelah mempelai memasuki Ballroom, pihak Hotel harus menyediakan dua meja tambahan. Jumlah undangan yang fantastis dan benar-benar di luar perkiraan kami! Jika kita mau berserah, berharap dan percaya kepada-Nya, mukjizat itu nyata!
Keesokan hari setelah acara pernikahan, kami dikabari bahwa visa tour ke Eropa sudah keluar, padahal sebelumnya tour ini sempat di-cancel karena jumlah peserta kurang. Kami harus berangkat besok lusa. Di saat itu kami berdoa, ”Tuhan kalau memang kami boleh berangkat bulan madu, biarlah aku diberi kesehatan selama tour ini.”
Kami menikmati perjalanan bulan madu ke Eropa dan kami pulang dari Eropa dengan selamat. Bahkan Tuhan menyatakan mukjizat-Nya sekali lagi. Setelah pulang dari Eropa aku baru menyadari bahwa aku telat mens. Ya, ternyata aku positif hamil. Oh, betapa bahagianya!
Terima kasih, Tuhan! Terima kasih untuk semua hal yang boleh kami jalani bersama Engkau! Kami percaya kesaksian ini dapat menguatkan semua orang yang membacanya, untuk kemuliaan Tuhan.(Selesai)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sabtu siang, beberapa saudara ada yang berhasil menelpon, itupun hanya menanyakan : apakah pemberkatan dan resepsi pernikahan kami akan tetap berjalan. Kami hanya bisa berucap, “Ya, ya!” dengan iman.
Sabtu malam itu tanggal 27 Mei 2006, sesuai jadwal Pak Jeffry S. Tjandra datang dari Jakarta untuk mengisi acara dan sekaligus menjadi MC di acara pernikahan kami. Ternyata bandara Adi Sucipto, Jogja, ditutup. Semua penerbangan ke Jogja dibatalkan, karena bandaranya terkena gempa, tidak dapat dipakai untuk mendarat ataupun lepas landas. Sebagai gantinya, semua penerbangan ke Jogja dialihkan ke Solo dan Semarang. Sebagian tamu-tamu luar kota yang akan datang dan sudah membeli tiket terpaksa dibatalkan.
Namun Pak Jeffry S. Tjandra tetap konsisten. Beliau tetap datang walaupun harus lewat Semarang dan kemudian naik bis ke Jogja. Pada Sabtu malam itu kota Jogja gelap gulita karena semua jaringan listrik dipadamkan PLN.
Ya, Tuhan! Malam itu aku dan (calon) suamiku hanya berlutut, menangis dan berdoa. Kami hanya pasrah. Tuhan, kami benar-benar tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Kami hanya mau ikut jalan Tuhan. Bila Tuhan tidak mengizinkan kami menikah besok, Minggu 28 Mei 2006, kami hanya bisa pasrah dan ikut semua rencana-Nya. Tetapi kami percaya Tuhan pasti memberi yang terindah untuk anak-anak yang mengasihi-Nya.
Sabtu malam jam 11 akhirnya kami mengadakan meeting dengan EO untuk membahas dan merevisi ulang semua rencana pernikahan kami untuk keesokannya. Ketika meeting itu saya hanya bisa menangis dan menangis. Entahlah apa yang akan terjadi esok hari.
Meeting selesai pada pukul 3 dini hari, karena begitu banyak hal yang harus kami bicarakan. Jam 4 subuh aku sudah harus pergi ke Salon. Bisa dikatakan beberapa minggu ini kami kurang tidur terus karena harus mengurus pernikahan. Padahal kalau mengingat kondisiku yang baru sembuh dari sakit, seharusnya aku harus banyak istirahat. Tapi kenyataannya kondisinya tidak memungkinkan, mau bagaimana lagi?
Jam 4.30 subuh aku datang ke Salon dengan mata sembab. Pada saat di-make-up pun aku tak kuasa menahan air mataku yang jatuh terus menerus mengalir membasahi pipiku. Dalam hati aku hanya berharap satu hal: jika pemberkatan di gereja dan Catatan Sipil bisa berjalan lancar saja, aku sudah sangat senang karena aku pikir, itulah moment sakralku saat aku diberkati oleh Tuhan dalam pernikahan kudus ini.
Puji Tuhan, semua pendukung acara pernikahanku bisa melaksanakan kewajibannya dan akhirnya kami bisa melewati pemberkatan di Gereja dan acara di Catatan Sipil. Oh, saat itu aku sudah sangat lega dan bersyukur kepada Tuhan. Kami sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi pada saat resepsi sore harinya karena Jogjakarta masih dalam kondisi pasca gempa yang mencekam, dimana aliran listrik dan air masih belum berfungsi.
Pada saat acara “Pai Ciu”(salah satu rangkaian acara dalam adat Tionghoa), kami sangat bergembira karena pada saat dikumpulkan ternyata cukup banyak saudara-saudara kami yang datang meskipun di tengah-tengan suasana gempa. Kami sangat bersyukur karena mereka masih tetap mau datang. Setelah Pai Ciu selesai, mereka diarahkan masuk ke dalam Ballroom sambil menunggu acara dimulai. Saat itu kami bertanya kepada EO, kira-kira berapa meja yang telah terisi? Oh, Tuhan! Ternyata baru 10 % dari total meja undangan.
Oh, Tuhan! Di dalam pikiran kami sudah terbayang meja-meja bakal kosong. Tetapi kami sangat memahami mereka yang tak dapat datang, karena mereka mungkin masih trauma akibat gempa kemarin. Mungkin diantara mereka ada yang sudah pergi mengungsi keluar dari Jogja.
Kami kembali pasrah. Namun di dalam hati ini kami sudah sangat sangat bersyukur: di tengah bencana melanda Jogja sekalipun acara pemberkatan pernikahan kami di Gereja dan di Catatan Sipil boleh berjalan dengan lancar.
Satu jam kemudian kami ditelpon oleh pihak Event Organizer (EO) agar mempelai siap-siap untuk turun dari kamar hotel dan memasuki Ballroom. Dengan perasaan berdebar-debar kami bertanya kepada EO berapa jumlah meja undangan yang sudah terisi? Oh, puji Tuhan, 90% terisi, suatu jumlah yang sangat tidak kami bayangkan sebelumnya.
Bahkan Tuhan masih menyatakan mukjizat-Nya. Sepuluh menit setelah mempelai memasuki Ballroom, pihak Hotel harus menyediakan dua meja tambahan. Jumlah undangan yang fantastis dan benar-benar di luar perkiraan kami! Jika kita mau berserah, berharap dan percaya kepada-Nya, mukjizat itu nyata!
Keesokan hari setelah acara pernikahan, kami dikabari bahwa visa tour ke Eropa sudah keluar, padahal sebelumnya tour ini sempat di-cancel karena jumlah peserta kurang. Kami harus berangkat besok lusa. Di saat itu kami berdoa, ”Tuhan kalau memang kami boleh berangkat bulan madu, biarlah aku diberi kesehatan selama tour ini.”
Kami menikmati perjalanan bulan madu ke Eropa dan kami pulang dari Eropa dengan selamat. Bahkan Tuhan menyatakan mukjizat-Nya sekali lagi. Setelah pulang dari Eropa aku baru menyadari bahwa aku telat mens. Ya, ternyata aku positif hamil. Oh, betapa bahagianya!
Terima kasih, Tuhan! Terima kasih untuk semua hal yang boleh kami jalani bersama Engkau! Kami percaya kesaksian ini dapat menguatkan semua orang yang membacanya, untuk kemuliaan Tuhan.(Selesai)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, May 25, 2007
A Wedding Party in the Earthquake (1)
Jalan serta Tuhan tidaklah selalu melewati jalan mulus tanpa hambatan. Seringkali Tuhan membawa kita di jalan yang terjal, penuh bebatuan, berliku dan melewati tikungan yang tajam dan curam. Namun dalam semuanya itu, yang penting ada bersama Tuhan.
Kisah berikut ini diceritakan oleh Silvia dari Jogjakarta, seperti yang dikisahkan dalam buletin REFLECTA (Semarang) edisi Januari dan Februari 2007. Naskahnya telah saya edit agar lebih enak dibaca.
Namaku Silvia, dan nama suamiku Andri. Kisah ini menceritakan apa yang terjadi ketika kami mengadakan pesta pernikahan di Jogjakarta pada tahun 2006 yang lalu. Sebelum menikah kami harus melalui banyak ujian yang datang. Semoga kesaksian ini dapat menguatkan iman banyak orang dan mendatangkan kebaikan bagi kita semua.
Ujian pertama kali datang tepat dua minggu sebelum pernikahan dilangsungkan. Adik kandungku harus dirawat di Rumah Sakit. Ya, adikku menderita Demam Berdarah Dengue (DBD). Oh, Tuhan, betapa shock-nya aku saat itu! Karena selain memikirkan kondisi adikku, aku juga memikirkan kondisi kesehatan kedua orang tuaku tentunya. Menjelang pernikahan putrinya, tentu orang-tuaku sangat sibuk mengurusi persiapan pernikahanku. Ternyata kesibukan orang-tuaku harus ditambah dengan masuknya adikku ke rumah sakit. Aku sangat mengkhawatirkan kondisi papaku yang pernah mengalami operasi jantung koroner. Tentunya bagi seorang penderita sakit jantung, beliau tidak boleh dibebani pikiran yang terlampau berat, selain kondisi fisiknya harus terjaga.
Kondisi kesehatan adikku bertambah parah, trombositnya turun sampai tinggal 7.000, padahal normalnya 150 – 200.000. Meskipun sudah diobati dengan obat paling canggih dan paling mahal, ternyata semua itu tidak dapat menahan turunnya trombosit sampai demikian rendah. Keadaan ini sangat mengkhawatirkan. Dokter berkata, apabila trombosit drop terus, maka darah akan keluar dari hidung, telinga dan mulut karena semua pembuluh darah pecah. Kalau hal itu terjadi, maka dokter angkat tangan. Dalam keadaan seperti itu kami semua percaya kalau mukjizat Tuhan masih terus berlangsung sampai saat ini. Dan aku percaya, pertolongan Tuhan pasti akan terjadi tepat pada waktu-Nya.
Benar saja. Waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Beberapa hari kemudian kondisi adikku semakin membaik. Adikku berangsung-angsur sembuh dan lima hari menjelang pesta pernikahanku, adikku sudah boleh pulang dari rumah sakit. Kami sangat bersyukur sekali kepada Tuhan. Dalam waktu yang sangat mepet, aku sekeluarga harus mempersiapkan hal-hal yang belum sempat kami urus berkaitan dengan pernikahanku.
Pagi hari ketika adikku pulang dari rumah sakit, kami semua senang. Namun pada malam harinya gantian aku yang menderita sakit dengan gejala yang sama seperti adikku, demam berdarah. Oh, Tuhan begitu beratnya ujian yang harus aku lewati! Aku ingin menjerit. Aku sampai tidak berdaya untuk melakukan apapun.
Pada saat aku cek ke dokter, dia belum dapat memastikan penyebab demam yang mencapai 40 derajat Celcius. Dokter hanya menyarankan agar aku cek darah lagi 7 – 10 hari setelah sakit demamku. Oh, Tuhan! Padahal lima hari lagi, hari Minggu itu adalah peristiwa penting dalam hidupku, aku akan menikah!
Aku dan (calon) suamiku hanya bisa berdoa, berdoa dan berdoa. Kami yakin satu hal, bahwa mukjizat Tuhan pasti akan terjadi. Kami sangat yakin dan mengimani hal itu.
Ternyata demamku masih belum membaik, padahal sudah begitu banyak obat dari dokter dan obat-obatan chinese yang kuminum. Tuhan, aku percaya! Aku mengandalkan Engkau dalam setiap perkara yang terjadi. Pada saat seperti itu aku teringat perkataan Pak Jeffry S. Tjandra pada waktu aku dan (calon) suamiku menghadiri KKR-nya. Dia berkata, “Dalam segala perkara yang terjadi dalam kehidupan kita, Tuhan pasti punya rencana yang terindah jika kita mau berserah pada kehendak-Nya dan percaya kepada-Nya. Sehelai rambutpun hanya jatuh jika seijin Tuhan.” Kami juga percaya bahwa ujian yang terjadi atas kehidupan kami tidak akan melebihi kekuatan kami.
Keesokan harinya, Kamis, demamku masih belum juga sembuh. Begitu juga dengan keesokkan harinya, Jumat. Sementara itu hari Minggu aku akan melangsungkan pernikahanku. Satu hal yang pasti, muncul keyakinan di hatiku bahwa apapun penyakitku, pasti Tuhan akan berikan mukjizat untukku. Aku dan (calon)suamiku punya iman kalau nanti pada hari Sabtu aku pasti sudah sembuh dan pada hari Minggunya pernikahan kami pasti akan berlangsung dan berjalan dengan lancar.
Benar, Tuhan menunjukkan mukjizat-Nya kembali. Pada hari Sabtu dini hari, 27 Mei 2007, aku merasa kondisi tubuhku membaik, bahkan demamku hilang. Oh, puji Tuhan! Berarti pernikahanku esok hari pasti berlangsung. Ternyata ujian yang harus aku lewati belum selesai.
Sabtu pagi hari itu, pada tanggal 27 Mei 2006 di Jogjakarta dan sekitarnya terjadi gempa bumi dahsyat yang mengerikan dengan kekuatan sampai 6,2 skala Richter. Gempa ini menewaskan puluhan ribu jiwa, meluluh-lantakkan ribuan rumah dan bangunan. Hatiku benar-benar shock! Tuhan, apa salahku? Dari kecil aku dan (calon) suamiku bukan orang nakal, bukan orang jahat. Kami dari keluarga baik-baik. Kenapa kami harus mengalami semua ini menjelang detik-detik pesta pernikahanku? Oh, Tuhan! Hatiku berteriak, “Kenapa Tuhan?”
Akibat gempa, kamarku rusak cukup parah. Tapi aku masih bisa bersyukur karena aku dan (calon) suamiku dan keluarga kami tidak ada yang terluka sedikitpun. Pada saat gempa bumi berlangsung aku tidak bergerak sedikitpun dari tempat tidurku. Aku sudah sangat pasrah atas semua yang terjadi, sampai-sampai aku berkata kepada Tuhan, “Jika Tuhan mau ambil aku sekarang, aku siap dan aku tidak pernah menyalahkan Tuhan.”
Pada saat gempa bumi di Jogja, semua orang panik, takut, ditambah lagi dengan isu tentang tsunami yang bakal menyerang. Semua orang tumplek blek di jalan. Yang dari Utara mau ke Selatan, yang dari Selatan mau ke Utara. Jalan raya macet, dimana-mana banyak terjadi kecelakaan. Orang-orang berhamburan di jalan, tidak tahu harus ke mana. Semua rumah sakit penuh. Begitu penuhnya sehingga banyak pasien diletakkan begitu saja di jalan aspal karena kurangnya tenaga medis dibandingkan dengan jumlah korban saat itu.
Tuhan, mengapa semua ini harus terjadi satu hari menjelang pesta pernikahanku? Besok kami harus menikah, bayangkan! Apakah pesta pernikahanku harus diundur, ditunda, atau jalan terus? Apakah para undangan dapat menghadiri pernikahanku besok? (Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Kisah berikut ini diceritakan oleh Silvia dari Jogjakarta, seperti yang dikisahkan dalam buletin REFLECTA (Semarang) edisi Januari dan Februari 2007. Naskahnya telah saya edit agar lebih enak dibaca.
Namaku Silvia, dan nama suamiku Andri. Kisah ini menceritakan apa yang terjadi ketika kami mengadakan pesta pernikahan di Jogjakarta pada tahun 2006 yang lalu. Sebelum menikah kami harus melalui banyak ujian yang datang. Semoga kesaksian ini dapat menguatkan iman banyak orang dan mendatangkan kebaikan bagi kita semua.
Ujian pertama kali datang tepat dua minggu sebelum pernikahan dilangsungkan. Adik kandungku harus dirawat di Rumah Sakit. Ya, adikku menderita Demam Berdarah Dengue (DBD). Oh, Tuhan, betapa shock-nya aku saat itu! Karena selain memikirkan kondisi adikku, aku juga memikirkan kondisi kesehatan kedua orang tuaku tentunya. Menjelang pernikahan putrinya, tentu orang-tuaku sangat sibuk mengurusi persiapan pernikahanku. Ternyata kesibukan orang-tuaku harus ditambah dengan masuknya adikku ke rumah sakit. Aku sangat mengkhawatirkan kondisi papaku yang pernah mengalami operasi jantung koroner. Tentunya bagi seorang penderita sakit jantung, beliau tidak boleh dibebani pikiran yang terlampau berat, selain kondisi fisiknya harus terjaga.
Kondisi kesehatan adikku bertambah parah, trombositnya turun sampai tinggal 7.000, padahal normalnya 150 – 200.000. Meskipun sudah diobati dengan obat paling canggih dan paling mahal, ternyata semua itu tidak dapat menahan turunnya trombosit sampai demikian rendah. Keadaan ini sangat mengkhawatirkan. Dokter berkata, apabila trombosit drop terus, maka darah akan keluar dari hidung, telinga dan mulut karena semua pembuluh darah pecah. Kalau hal itu terjadi, maka dokter angkat tangan. Dalam keadaan seperti itu kami semua percaya kalau mukjizat Tuhan masih terus berlangsung sampai saat ini. Dan aku percaya, pertolongan Tuhan pasti akan terjadi tepat pada waktu-Nya.
Benar saja. Waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Beberapa hari kemudian kondisi adikku semakin membaik. Adikku berangsung-angsur sembuh dan lima hari menjelang pesta pernikahanku, adikku sudah boleh pulang dari rumah sakit. Kami sangat bersyukur sekali kepada Tuhan. Dalam waktu yang sangat mepet, aku sekeluarga harus mempersiapkan hal-hal yang belum sempat kami urus berkaitan dengan pernikahanku.
Pagi hari ketika adikku pulang dari rumah sakit, kami semua senang. Namun pada malam harinya gantian aku yang menderita sakit dengan gejala yang sama seperti adikku, demam berdarah. Oh, Tuhan begitu beratnya ujian yang harus aku lewati! Aku ingin menjerit. Aku sampai tidak berdaya untuk melakukan apapun.
Pada saat aku cek ke dokter, dia belum dapat memastikan penyebab demam yang mencapai 40 derajat Celcius. Dokter hanya menyarankan agar aku cek darah lagi 7 – 10 hari setelah sakit demamku. Oh, Tuhan! Padahal lima hari lagi, hari Minggu itu adalah peristiwa penting dalam hidupku, aku akan menikah!
Aku dan (calon) suamiku hanya bisa berdoa, berdoa dan berdoa. Kami yakin satu hal, bahwa mukjizat Tuhan pasti akan terjadi. Kami sangat yakin dan mengimani hal itu.
Ternyata demamku masih belum membaik, padahal sudah begitu banyak obat dari dokter dan obat-obatan chinese yang kuminum. Tuhan, aku percaya! Aku mengandalkan Engkau dalam setiap perkara yang terjadi. Pada saat seperti itu aku teringat perkataan Pak Jeffry S. Tjandra pada waktu aku dan (calon) suamiku menghadiri KKR-nya. Dia berkata, “Dalam segala perkara yang terjadi dalam kehidupan kita, Tuhan pasti punya rencana yang terindah jika kita mau berserah pada kehendak-Nya dan percaya kepada-Nya. Sehelai rambutpun hanya jatuh jika seijin Tuhan.” Kami juga percaya bahwa ujian yang terjadi atas kehidupan kami tidak akan melebihi kekuatan kami.
Keesokan harinya, Kamis, demamku masih belum juga sembuh. Begitu juga dengan keesokkan harinya, Jumat. Sementara itu hari Minggu aku akan melangsungkan pernikahanku. Satu hal yang pasti, muncul keyakinan di hatiku bahwa apapun penyakitku, pasti Tuhan akan berikan mukjizat untukku. Aku dan (calon)suamiku punya iman kalau nanti pada hari Sabtu aku pasti sudah sembuh dan pada hari Minggunya pernikahan kami pasti akan berlangsung dan berjalan dengan lancar.
Benar, Tuhan menunjukkan mukjizat-Nya kembali. Pada hari Sabtu dini hari, 27 Mei 2007, aku merasa kondisi tubuhku membaik, bahkan demamku hilang. Oh, puji Tuhan! Berarti pernikahanku esok hari pasti berlangsung. Ternyata ujian yang harus aku lewati belum selesai.
Sabtu pagi hari itu, pada tanggal 27 Mei 2006 di Jogjakarta dan sekitarnya terjadi gempa bumi dahsyat yang mengerikan dengan kekuatan sampai 6,2 skala Richter. Gempa ini menewaskan puluhan ribu jiwa, meluluh-lantakkan ribuan rumah dan bangunan. Hatiku benar-benar shock! Tuhan, apa salahku? Dari kecil aku dan (calon) suamiku bukan orang nakal, bukan orang jahat. Kami dari keluarga baik-baik. Kenapa kami harus mengalami semua ini menjelang detik-detik pesta pernikahanku? Oh, Tuhan! Hatiku berteriak, “Kenapa Tuhan?”
Akibat gempa, kamarku rusak cukup parah. Tapi aku masih bisa bersyukur karena aku dan (calon) suamiku dan keluarga kami tidak ada yang terluka sedikitpun. Pada saat gempa bumi berlangsung aku tidak bergerak sedikitpun dari tempat tidurku. Aku sudah sangat pasrah atas semua yang terjadi, sampai-sampai aku berkata kepada Tuhan, “Jika Tuhan mau ambil aku sekarang, aku siap dan aku tidak pernah menyalahkan Tuhan.”
Pada saat gempa bumi di Jogja, semua orang panik, takut, ditambah lagi dengan isu tentang tsunami yang bakal menyerang. Semua orang tumplek blek di jalan. Yang dari Utara mau ke Selatan, yang dari Selatan mau ke Utara. Jalan raya macet, dimana-mana banyak terjadi kecelakaan. Orang-orang berhamburan di jalan, tidak tahu harus ke mana. Semua rumah sakit penuh. Begitu penuhnya sehingga banyak pasien diletakkan begitu saja di jalan aspal karena kurangnya tenaga medis dibandingkan dengan jumlah korban saat itu.
Tuhan, mengapa semua ini harus terjadi satu hari menjelang pesta pernikahanku? Besok kami harus menikah, bayangkan! Apakah pesta pernikahanku harus diundur, ditunda, atau jalan terus? Apakah para undangan dapat menghadiri pernikahanku besok? (Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, May 24, 2007
A Defend from RCTI Big Boss
Teman saya, Alberd Tanoni, adalah produser dan arranger Album Rohani "UntukMu Tuhan" yang memuat lagu Original Sound Track Sinetron "Mukjizat Itu Nyata". Setelah beredar, ternyata di pasaran beredar lagu "Mukjizat Itu Nyata" yang mengaku sebagai Original Sound Track sinetron itu.
Albert hanya berdoa saja, tidak tahu bagaimana mengatasi pembajakan tak etis yang biasa terjadi di dunia rekaman. Alberd hanya mengandalkan pertolongan Tuhan. Ketika Albert berdoa, mukjizat itu nyata! Pada suatu kesempatan pelayanan, Alberd bertemu dengan Bapak Harry Tanusoedibyo, boss RCTI yang memutarkan sinetron itu. Pak Harry tanya bagaimana peredaran album baru yang di-release Alberd. Pada saat itu Alberd mengutarakan masalah yang dihadapinya.
"Albert, itu sih gampang diselesaikan!" kata pak Harry dengan yakin. Segera pak Harry memerintahkan staff RCTI untuk menayangkan sebagai News Sticker pada saat penayangan sinetron "Mukjizat Itu Nyata". Pengumumannya kira-kira berbunyi: ORIGINAL SOUND TRACK lagu "Mukjizat Itu Nyata" terdapat dalam Album "Untuk-Mu Tuhan". Selain itu pak Harry juga melarang pihak lain meng-claim original sound track sinetron itu.
Pemazmur berkata, "Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi." Itu pula yang dialami Alberd.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Albert hanya berdoa saja, tidak tahu bagaimana mengatasi pembajakan tak etis yang biasa terjadi di dunia rekaman. Alberd hanya mengandalkan pertolongan Tuhan. Ketika Albert berdoa, mukjizat itu nyata! Pada suatu kesempatan pelayanan, Alberd bertemu dengan Bapak Harry Tanusoedibyo, boss RCTI yang memutarkan sinetron itu. Pak Harry tanya bagaimana peredaran album baru yang di-release Alberd. Pada saat itu Alberd mengutarakan masalah yang dihadapinya.
"Albert, itu sih gampang diselesaikan!" kata pak Harry dengan yakin. Segera pak Harry memerintahkan staff RCTI untuk menayangkan sebagai News Sticker pada saat penayangan sinetron "Mukjizat Itu Nyata". Pengumumannya kira-kira berbunyi: ORIGINAL SOUND TRACK lagu "Mukjizat Itu Nyata" terdapat dalam Album "Untuk-Mu Tuhan". Selain itu pak Harry juga melarang pihak lain meng-claim original sound track sinetron itu.
Pemazmur berkata, "Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi." Itu pula yang dialami Alberd.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
A High Praise to God
Ibu Kristina Farakhnimela, adik Bapak Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo bercerita tentang seorang pengusaha dan pelayan Tuhan: Pak Sonny Waplau yang dipercaya menjadi Ketua Panitia Pembangunan Rumah Doa Sentul City Convention Centre. Pak Sonny mengalami banyak terobosan dalam bidang usahanya karena beliau setiap pagi dalam masa Saat Teduh pribadinya menyerukan “High Praises”, pujian bagi Bapa Sorgawi dan Tuhan Yesus!
Setiap pagi beliau memperkatakan dengan suara keras: “Terima kasih, Bapa! Terima kasih, Tuhan Yesus! Terima kasih atas kasih karunia-Mu! Terima kasih atas berkat-berkat-Mu! Terima kasih atas kebaikan Tuhan!” Dia katakan itu sambil bertepuk tangan, sendirian. Seru sekali tepuk tangannya. Lalu beliau teriakkan, “Allahku dahsyat! Allahku luar biasa! Allahku bangkit, maka terseraklah musuh-musuh-Nya! Tuhan Yesus ajaib! Saya raih kemenangan! Saya raih jalan keluar! Saya raih berkat-berkat-Mu! Saya raih rahmat-Mu yang baru! Saya raih mukjizat! Saya raih keberhasilan! Saya raih kesehatan! Saya raih rezeki! Saya raih sukacita! Saya raih kasih karunia!” Itu diperkatakan dengan suara keras dan penuh semangat dan antusiasme sepertinya semua itu telah beliau terima. Mulanya pak Sonny melakukan itu sendirian, belakangan sang isteri juga ikut mendukung. Jangan heran, kalau pak Sonny bersaksi kemudian bahwa sejak itu berkat-berkat tambah melimpah, banyak urusan dan masalah di kantornya berkurang, dan segala yang baik sesuai dengan ‘high praises’nya didapat dari Tuhan.
Saat ini jika berbagai persoalan dan masalah mengintimidasi dan mengganggu anda, teriakkanlah pujian yang kuat dan keras! High Praises! Sorakkan kemenangan! Itu adalah pernyataan kepada iblis bahwa Allah kita dahsyat, Allah kita bangkit, Allah kita berperang bagi kita, Allah kita sanggup! Dan lihatlah persoalan-persoalan diselesaikan. Ada jalan keluar. Ada hikmat untuk mengambil keputusan yang tepat. Haleluya!
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Setiap pagi beliau memperkatakan dengan suara keras: “Terima kasih, Bapa! Terima kasih, Tuhan Yesus! Terima kasih atas kasih karunia-Mu! Terima kasih atas berkat-berkat-Mu! Terima kasih atas kebaikan Tuhan!” Dia katakan itu sambil bertepuk tangan, sendirian. Seru sekali tepuk tangannya. Lalu beliau teriakkan, “Allahku dahsyat! Allahku luar biasa! Allahku bangkit, maka terseraklah musuh-musuh-Nya! Tuhan Yesus ajaib! Saya raih kemenangan! Saya raih jalan keluar! Saya raih berkat-berkat-Mu! Saya raih rahmat-Mu yang baru! Saya raih mukjizat! Saya raih keberhasilan! Saya raih kesehatan! Saya raih rezeki! Saya raih sukacita! Saya raih kasih karunia!” Itu diperkatakan dengan suara keras dan penuh semangat dan antusiasme sepertinya semua itu telah beliau terima. Mulanya pak Sonny melakukan itu sendirian, belakangan sang isteri juga ikut mendukung. Jangan heran, kalau pak Sonny bersaksi kemudian bahwa sejak itu berkat-berkat tambah melimpah, banyak urusan dan masalah di kantornya berkurang, dan segala yang baik sesuai dengan ‘high praises’nya didapat dari Tuhan.
Saat ini jika berbagai persoalan dan masalah mengintimidasi dan mengganggu anda, teriakkanlah pujian yang kuat dan keras! High Praises! Sorakkan kemenangan! Itu adalah pernyataan kepada iblis bahwa Allah kita dahsyat, Allah kita bangkit, Allah kita berperang bagi kita, Allah kita sanggup! Dan lihatlah persoalan-persoalan diselesaikan. Ada jalan keluar. Ada hikmat untuk mengambil keputusan yang tepat. Haleluya!
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, May 23, 2007
Owning A House for Free
Ini kisah dari seorang messenger di kantor saya, pak Matius. Dia bercerita tentang bagaimana dia mendapat rumahnya. Bertahun-tahun dia tinggal di rumah kontrakan bersama isterinya yang seorang pendoa syafaat. Mereka tinggal di belakang RS Siloam Hospitals (d/h Graha Medika)- Kebon Jeruk Jakarta.
Satu hal yang luar biasa dari mereka adalah kesukaan mereka untuk menabur berkat di ladang Tuhan. Meskipun penghasilan mereka tidaklah besar, mereka ikhlas menyumbang pembangunan gedung gereja. Pada suatu KKR mereka ditantang untuk memberikan janji iman dan mereka menyanggupi memberikan Rp. 1 juta per bulan selama 6 bulan. Selain itu mereka juga sering menitipkan uang untuk pelayanan di Israel. Jika ada teman yang pergi pelayanan ke Yerusalem, mereka menitipkan uang yang cukup besar. Bukan itu saja, saat ini pak Matius dengan setia menyumbang bagi pembangunan Rumah Doa Sentul City Convention Centre, setiap bulan Rp. 250 ribu selama pembangunan berlangsung (dua tahun). Padahal uang Rp. 250 ribu itu sangat berarti bagi keluarga seperti pak Matius.
Ketika janji iman Rp. 1 juta per bulan dipenuhi 4 kali, mereka mendengar dari seorang ibu bahwa kalau ibu ini dapat menjual rumahnya seharga Rp. 1 milyard, maka sepersepuluhnya akan diberikan kepada pak Matius. Ibu ini berpesan, "Pak Matius, segera cari rumah buat kalian ya?" Mendengar hal itu pak Matius ragu, "Lha, uangnya aja belum dapat, gimana mau cari rumah?" pikirnya. Rupanya dia pernah mendengar ada rekan yang dijanjikan dapat uang persembahan kasih, tapi ternyata tidak jadi. Selain itu, uang di tangan pak Matius setelah dihitung-hitung, untuk membayar kontrak rumah satu tahun saja tidak cukup, bagaimana harus membeli rumah?
Pada suatu siang pak Matius melintas di depan RS Siloam dan di situ bertemu seorang tukang ojek kenalannya.
"Bang, mau beli rumah gak nih?"
"Coba lihat dulu..." kata pak Matius.
"Harganya Rp. 80 juta."
"Ya, nanti saya lihat bersama isteri, besok-besok."
Ketika dua hari ketemu lagi :
"Bang, wah rumah yang itu udah laku. Yang laen mau gak?"
"Berapa?"
"Seratus juta!"
"Coba kita lihat ya!"
Pak Matius dan isterinya melihat rumah itu, dan ternyata di depan, dekat rumah kontrakannya, di belakang RS Graha Medika juga, dengan ukuran 50 m2. Mereka tawar menawar, tapi harganya tak bergoyang, tetap Rp. 100 juta. Dan mereka harus bayar uang muka, disepakati Rp. 5 juta dan uang ini akan hangus kalau pelunasan tidak dilakukan dalam 1 bulan. Berdasarkan transaksi ini pak Matius memberitahukan kepada ibu yang menjanjikan akan memberi uang Rp. 100 juta bahwa mereka sudah dapatkan rumahnya dan membayar uang muka yang akan hilang kalau mereka tidak dapat melunasi pada waktunya. Sementara itu pak Matius mendengar penjelasan bahwa penjualan rumah sang ibu dermawan itu perlu waktu karena sertifikatnya harus dipisahkan dulu dari bagian milik saudaranya. Mereka dag dig dug karena batas waktu pelunasan semakin mendekat, dan belum ada kabar dari ibu donatur. Mereka berdoa saja. Mereka tidak menelpon ibu ini.
Dua hari sebelum jatuh tempo pembayaran, ibu yang dermawan itu menelpon dan mengatakan bahwa telah tersedia Rp. 30 juta dulu, karena pembayaran rumah itu bertahap. Dengan perasaan khawatir karena tidak dapat melunasi sisa Rp. 95 juta pada waktunya, pak Matius menemui pemilik rumah. Yang ajaib, pemilik rumah itu bilang, "Pak, jangan bayar sekaligus ya! Karena sekarang ini saya butuhnya Rp. 30 juta, bayarlah segitu dulu, sisanya dicicil aja!" Aneh sekali, jarang penjual meminta pembayaran dicicil. Seharusnya pak Matiuslah yang minta begitu. Memang kebaikan Tuhan dinyatakan dengan berbagai cara. Pak Matius selama ini dikenal sebagai karyawan yang baik, jujur sekali kalau diminta menyetor atau mengambil uang di bank, atau mengurus apapun. Dia suka menolong orang. Dia suka menabur dana di ladang Tuhan yang subur. Kebaikannya diingat Tuhan dan Tuhan membalas kebaikannya dalam soal pembelian rumah ini. Dengan sukacita pak Matius menyerahkan dana Rp. 30 juta. Begitulah seterusnya. Ketika Ibu yang dermawan mengirim uang lagi Rp. 30 juta, pak Matius langsung membayarkan kepada penjual rumah. Akhirnya rumah itu terbayar lunas. Pak Matius tidak keluar uang sepeserpun, semuanya disediakan Tuhan melalui seorang ibu dermawan. Puji Tuhan!
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Satu hal yang luar biasa dari mereka adalah kesukaan mereka untuk menabur berkat di ladang Tuhan. Meskipun penghasilan mereka tidaklah besar, mereka ikhlas menyumbang pembangunan gedung gereja. Pada suatu KKR mereka ditantang untuk memberikan janji iman dan mereka menyanggupi memberikan Rp. 1 juta per bulan selama 6 bulan. Selain itu mereka juga sering menitipkan uang untuk pelayanan di Israel. Jika ada teman yang pergi pelayanan ke Yerusalem, mereka menitipkan uang yang cukup besar. Bukan itu saja, saat ini pak Matius dengan setia menyumbang bagi pembangunan Rumah Doa Sentul City Convention Centre, setiap bulan Rp. 250 ribu selama pembangunan berlangsung (dua tahun). Padahal uang Rp. 250 ribu itu sangat berarti bagi keluarga seperti pak Matius.
Ketika janji iman Rp. 1 juta per bulan dipenuhi 4 kali, mereka mendengar dari seorang ibu bahwa kalau ibu ini dapat menjual rumahnya seharga Rp. 1 milyard, maka sepersepuluhnya akan diberikan kepada pak Matius. Ibu ini berpesan, "Pak Matius, segera cari rumah buat kalian ya?" Mendengar hal itu pak Matius ragu, "Lha, uangnya aja belum dapat, gimana mau cari rumah?" pikirnya. Rupanya dia pernah mendengar ada rekan yang dijanjikan dapat uang persembahan kasih, tapi ternyata tidak jadi. Selain itu, uang di tangan pak Matius setelah dihitung-hitung, untuk membayar kontrak rumah satu tahun saja tidak cukup, bagaimana harus membeli rumah?
Pada suatu siang pak Matius melintas di depan RS Siloam dan di situ bertemu seorang tukang ojek kenalannya.
"Bang, mau beli rumah gak nih?"
"Coba lihat dulu..." kata pak Matius.
"Harganya Rp. 80 juta."
"Ya, nanti saya lihat bersama isteri, besok-besok."
Ketika dua hari ketemu lagi :
"Bang, wah rumah yang itu udah laku. Yang laen mau gak?"
"Berapa?"
"Seratus juta!"
"Coba kita lihat ya!"
Pak Matius dan isterinya melihat rumah itu, dan ternyata di depan, dekat rumah kontrakannya, di belakang RS Graha Medika juga, dengan ukuran 50 m2. Mereka tawar menawar, tapi harganya tak bergoyang, tetap Rp. 100 juta. Dan mereka harus bayar uang muka, disepakati Rp. 5 juta dan uang ini akan hangus kalau pelunasan tidak dilakukan dalam 1 bulan. Berdasarkan transaksi ini pak Matius memberitahukan kepada ibu yang menjanjikan akan memberi uang Rp. 100 juta bahwa mereka sudah dapatkan rumahnya dan membayar uang muka yang akan hilang kalau mereka tidak dapat melunasi pada waktunya. Sementara itu pak Matius mendengar penjelasan bahwa penjualan rumah sang ibu dermawan itu perlu waktu karena sertifikatnya harus dipisahkan dulu dari bagian milik saudaranya. Mereka dag dig dug karena batas waktu pelunasan semakin mendekat, dan belum ada kabar dari ibu donatur. Mereka berdoa saja. Mereka tidak menelpon ibu ini.
Dua hari sebelum jatuh tempo pembayaran, ibu yang dermawan itu menelpon dan mengatakan bahwa telah tersedia Rp. 30 juta dulu, karena pembayaran rumah itu bertahap. Dengan perasaan khawatir karena tidak dapat melunasi sisa Rp. 95 juta pada waktunya, pak Matius menemui pemilik rumah. Yang ajaib, pemilik rumah itu bilang, "Pak, jangan bayar sekaligus ya! Karena sekarang ini saya butuhnya Rp. 30 juta, bayarlah segitu dulu, sisanya dicicil aja!" Aneh sekali, jarang penjual meminta pembayaran dicicil. Seharusnya pak Matiuslah yang minta begitu. Memang kebaikan Tuhan dinyatakan dengan berbagai cara. Pak Matius selama ini dikenal sebagai karyawan yang baik, jujur sekali kalau diminta menyetor atau mengambil uang di bank, atau mengurus apapun. Dia suka menolong orang. Dia suka menabur dana di ladang Tuhan yang subur. Kebaikannya diingat Tuhan dan Tuhan membalas kebaikannya dalam soal pembelian rumah ini. Dengan sukacita pak Matius menyerahkan dana Rp. 30 juta. Begitulah seterusnya. Ketika Ibu yang dermawan mengirim uang lagi Rp. 30 juta, pak Matius langsung membayarkan kepada penjual rumah. Akhirnya rumah itu terbayar lunas. Pak Matius tidak keluar uang sepeserpun, semuanya disediakan Tuhan melalui seorang ibu dermawan. Puji Tuhan!
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, May 22, 2007
The Story about Ika (2)
(Lanjutan)
Mulailah Ika kembali membangun keluarganya dari nol. Arnold yang tidak dibebani siapapun malah menuntut harta bersama, padahal semua itu merupakan harta Ika, peninggalan dari orang tuanya. Sedangkan dirinya, harus membesarkan empat orang anak, harus bekerja keras mencari penghidupan. Disinilah ketegaran Ika ditempa. Wanita yang semasa kecil dimanja bak Cinderella ini dipaksa bekerja membanting tulang, dan membangun kariernya. Pada saat Ika tak berdaya, kuasa Tuhan Yesus yang sempurna memberikan kekuatan dan jalan keluar.
Selama pergumulan ini Ika banyak didukung doa oleh saudara-saudara seiman dari PD Ribkah di Jakarta Selatan. Ketua Pengurus Persekutuan Doa itu adalah kawan lamanya dan selalu memberi kekuatan dan dorongan untuk tetap bertahan dalam iman. Selain itu, saudara Ika yang menjadi menantu pengacara kondang selalu memberi dukungan moril yang berarti.
Persoalan dengan Arnold rupanya tidak selesai begitu saja. Setelah uangnya habis, Arnold mulai meneror dan mengintimidasi untuk merebut kembali Alex. Melalui telpon Arnold mulai mencari gara-gara untuk bertemu dengan Alex, anaknya. Ika hanya dapat berdoa. Tuhan Yesuslah perlindungan Ika. Dialah kubu pertahanan Ika. Dialah gunung batu Ika. Tuhan selalu menolong dan melindungi Ika. Ia terbebas dari Arnold ketika Arnold kemudian menikah lagi dengan wanita yang cukup kaya.
Selama masa pembentukan karakter agar hatinya menjadi serupa dengan hati Kristus, Ika dituntun untuk mengandalkan Tuhan sepenuhnya. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku,” demikianlah firman TUHAN. “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”
Akhirnya masa kontrak apartemen itu habis tanggal 30 Maret 2007. Ika dan keluarganya harus mencari tempat tinggal lain setelah dalam suatu dinner adiknya membujuk Ika untuk kembali ke agama lamanya.
“Kak, papa dan keluarga akan mendukung seluruh kebutuhan keuangan atau tempat tinggal kakak, tapi syaratnya kak Ika harus bertobat. Saya akan carikan tempat tinggal segera. Bagaimana?”
“Dengan berat hati kakak sampaikan keputusan ini. Kakak sudah mantap mengikuti Yesus…”
Dengan kecewa adiknya berpisah dengan Ika. Beberapa hari kemudian adiknya menelpon lagi,
“Kak, bantuan keuangan dari kami buat kakak tidak bisa diberikan lagi. Sebenarnya kakak masih perlu tidak sih?”
“Yah, bantuan itu sangat membantu anak-anak.”
“Tapi kami perlu membeli rumah lagi…” kata adiknya.
“Ya, gak apa-apa deh.”
Ika merasakan bahwa itu merupakan akibat dari penolakan dirinya untuk memeluk kembali agama lamanya.
Perlu diceritakan di sini, telah beberapa kali Ika bertemu dengan Pdt. M. Reza Solichin, seorang gembala GBI Sawangan. Ika bisa berkenalan dengan Pdt. Reza karena pada suatu kesempatan Ika mendengarkan khotbah hamba Tuhan ini di gereja Duta Injil di Gedung BIP Jl. Gatot Subroto, Jakarta. Karena Pdt. Reza dulunya memiliki latar belakang agama yang sama dengan dirinya, maka Ika mulai konseling dengan beliau. Pada saat kepepet inipun, Ika meminta advis Pdt. Reza dan didoakan. Waktu itu awal Maret 2007 dan Pdt. Reza dengan yakin berkata, “Pasti Tuhan sediakan rumah buat Ika sekeluarga bulan depan!” Tapi di hati Ika terbit tanda tanya, “Bagaimana cara Tuhan mengadakan rumah ini, ya? Mungkinkah dalam hitungan minggu bakal tersedia rumah? Apalagi di pertengahan bulan Maret ini saya harus pergi tugas kantor ke Bali, mengurus konferensi selama dua minggu. Sebelum saya pergi ke Bali, urusan rumah ini harus sudah ada jalan keluarnya.” Ketika Ika tak berdaya, kuasa Tuhan Yesus yang sempurna menolongnya.
Pada hari Minggu itu Ika datang ke gereja dan bertemu dengan “Nan tulangnya”. Saudara dari pihak ibunya ini adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas dirinya apabila terjadi sesuatu. Ika sudah lama tak bertemu dengan nan tulangnya ini. Nan tulangnya sudah berusia 72 tahun, namun beliau masih sehat. Beliau adalah seorang yang sukses, anak-anaknya bersekolah di luar negeri semua. Bahkan salah seorang anaknya mengundurkan diri, pensiun dini dari sebuah perusahaan minyak terkenal, karena ia telah memiliki bisnis sendiri yang besar dan berhasil dalam jaringan Network 21. Anaknya itu ‘retire rich, retire young’. Beliau memiliki banyak ‘property’ yang disewakan kepada para ‘expatriates’, tenaga kerja asing.
Setelah mereka mengobrol sebentar, nan tulangnya bertanya, “Ada yang perlu kubantu?”
“Ada, nan tulang! Saya perlu tempat tinggal.”
“Pasti Tuhan Yesus akan bantu kamu!” Wah, ya memang benar. Tapi nan tulang ini tidak menunjukkan gelagat akan membantu.
“Besok, datanglah ke kantorku!” kata nan tulangnya.
Esok harinya terjadi keajaiban. Dari sekian rumah yang disewakan kepada orang asing, ada sebuah rumah di bilangan Jakarta Selatan yang tiba-tiba dilepaskan oleh orang Jerman yang berselisih dalam urusan kantor dengan partner lokalnya, sehingga orang ini pulang ke negerinya. Padahal orang Jerman ini sudah menempati rumah di Jakarta Selatan ini selama 8 tahun. Rumah itu besar, dengan luas tanah 2500 m2, lux, sewanya di atas US $ 3.000,- per bulan.
“Ika, ini ada rumah nan tulang kosong.”
“Tapi, saya tak sanggup membayar US $ 3300 per bulan, nan tulang!” kata Ika polos.
“Pasti Tuhan Yesus tolong! Pakai saja rumah itu tanpa bayar.”
“Puji Tuhan, terima kasih Tuhan, terima kasih nan tulang!”
Ika kaget sekali melihat rumah mewah itu. Memang anak-anaknya bilang, kalau nanti pindah rumah, mereka minta agar masing-masing menempati kamar sendiri. Mereka sudah merasakan betapa tidak enaknya tinggal di apartemen yang sempit. Apartemen saja belum ada, apalagi rumah dengan lima kamar? Namun, kasih karunia Tuhan luar biasa! Pemazmur berkata, “Kiranya diberikan-Nya kepadamu apa yang kaukehendaki dan dijadikan-Nya berhasil apa yang kaurancangkan. Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya.” Firman Tuhan itu telah digenapi. Dengan cara yang luar biasa, Tuhan menyediakan rumah mewah bagi keluarga Ika melalui nan tulangnya.
Sebelum Ika pergi ke Bali mengurus tugas kantor, ia telah mendapat rumah baru. Pindah rumah dilakukan segera dan pada tanggal 23 Maret 2007, kunci apartemen sudah diserahkan kepada pemiliknya. Ia sungguh bersyukur memiliki Bapa Sorgawi yang luar biasa. Ia tidak pernah meninggalkan dirinya sendirian. Ia mencukupi segala keperluan Ika dan keluarganya menurut kekayaan dan kemuliaan dalam Kristus Yesus.
Kini yang Ika ingin lakukan adalah bersaksi kemana-mana tentang kasih dan kebaikan Tuhan, tentang pengampunan dosa di kayu salib, tentang keselamatan dalam Nama Yesus Kristus. Ika ingin suatu hari melayani Tuhan dengan menjadi seorang Worship Leader. Ika ingin ayahnya percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadinya. Oleh karena itu Ika terus berdoa dan berpegang pada firman Tuhan : "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”
Kini Ika memiliki karier yang gemilang sebagai seorang direktris di perusahaan yang bonafid. Anak-anaknya bersekolah di sekolah yang terbaik dan ia terus mengalami kebaikan Tuhan dari hari ke sehari.
Pernah ayahanda tercintanya bertanya kepada anak perempuan Ika, “Apakah mama kamu mungkin pindah agama lagi?”
“Ato, biarlah mama dengan agamanya sekarang. Dia berubah jadi semakin baik setelah menghayati agamanya yang sekarang…” kata anak gadis itu kepada kakeknya terus terang.
Pernah temannya yang saat ini menjadi Menteri Koordinator dalam Kabinet Indonesia Bersatu ngobrol-ngobrol dengannya, lalu beliau nyeletuk, “Eh, Ika, kapan kamu pindah agama lagi?” Ika hanya tersenyum.(Tamat)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Mulailah Ika kembali membangun keluarganya dari nol. Arnold yang tidak dibebani siapapun malah menuntut harta bersama, padahal semua itu merupakan harta Ika, peninggalan dari orang tuanya. Sedangkan dirinya, harus membesarkan empat orang anak, harus bekerja keras mencari penghidupan. Disinilah ketegaran Ika ditempa. Wanita yang semasa kecil dimanja bak Cinderella ini dipaksa bekerja membanting tulang, dan membangun kariernya. Pada saat Ika tak berdaya, kuasa Tuhan Yesus yang sempurna memberikan kekuatan dan jalan keluar.
Selama pergumulan ini Ika banyak didukung doa oleh saudara-saudara seiman dari PD Ribkah di Jakarta Selatan. Ketua Pengurus Persekutuan Doa itu adalah kawan lamanya dan selalu memberi kekuatan dan dorongan untuk tetap bertahan dalam iman. Selain itu, saudara Ika yang menjadi menantu pengacara kondang selalu memberi dukungan moril yang berarti.
Persoalan dengan Arnold rupanya tidak selesai begitu saja. Setelah uangnya habis, Arnold mulai meneror dan mengintimidasi untuk merebut kembali Alex. Melalui telpon Arnold mulai mencari gara-gara untuk bertemu dengan Alex, anaknya. Ika hanya dapat berdoa. Tuhan Yesuslah perlindungan Ika. Dialah kubu pertahanan Ika. Dialah gunung batu Ika. Tuhan selalu menolong dan melindungi Ika. Ia terbebas dari Arnold ketika Arnold kemudian menikah lagi dengan wanita yang cukup kaya.
Selama masa pembentukan karakter agar hatinya menjadi serupa dengan hati Kristus, Ika dituntun untuk mengandalkan Tuhan sepenuhnya. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku,” demikianlah firman TUHAN. “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”
Akhirnya masa kontrak apartemen itu habis tanggal 30 Maret 2007. Ika dan keluarganya harus mencari tempat tinggal lain setelah dalam suatu dinner adiknya membujuk Ika untuk kembali ke agama lamanya.
“Kak, papa dan keluarga akan mendukung seluruh kebutuhan keuangan atau tempat tinggal kakak, tapi syaratnya kak Ika harus bertobat. Saya akan carikan tempat tinggal segera. Bagaimana?”
“Dengan berat hati kakak sampaikan keputusan ini. Kakak sudah mantap mengikuti Yesus…”
Dengan kecewa adiknya berpisah dengan Ika. Beberapa hari kemudian adiknya menelpon lagi,
“Kak, bantuan keuangan dari kami buat kakak tidak bisa diberikan lagi. Sebenarnya kakak masih perlu tidak sih?”
“Yah, bantuan itu sangat membantu anak-anak.”
“Tapi kami perlu membeli rumah lagi…” kata adiknya.
“Ya, gak apa-apa deh.”
Ika merasakan bahwa itu merupakan akibat dari penolakan dirinya untuk memeluk kembali agama lamanya.
Perlu diceritakan di sini, telah beberapa kali Ika bertemu dengan Pdt. M. Reza Solichin, seorang gembala GBI Sawangan. Ika bisa berkenalan dengan Pdt. Reza karena pada suatu kesempatan Ika mendengarkan khotbah hamba Tuhan ini di gereja Duta Injil di Gedung BIP Jl. Gatot Subroto, Jakarta. Karena Pdt. Reza dulunya memiliki latar belakang agama yang sama dengan dirinya, maka Ika mulai konseling dengan beliau. Pada saat kepepet inipun, Ika meminta advis Pdt. Reza dan didoakan. Waktu itu awal Maret 2007 dan Pdt. Reza dengan yakin berkata, “Pasti Tuhan sediakan rumah buat Ika sekeluarga bulan depan!” Tapi di hati Ika terbit tanda tanya, “Bagaimana cara Tuhan mengadakan rumah ini, ya? Mungkinkah dalam hitungan minggu bakal tersedia rumah? Apalagi di pertengahan bulan Maret ini saya harus pergi tugas kantor ke Bali, mengurus konferensi selama dua minggu. Sebelum saya pergi ke Bali, urusan rumah ini harus sudah ada jalan keluarnya.” Ketika Ika tak berdaya, kuasa Tuhan Yesus yang sempurna menolongnya.
Pada hari Minggu itu Ika datang ke gereja dan bertemu dengan “Nan tulangnya”. Saudara dari pihak ibunya ini adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas dirinya apabila terjadi sesuatu. Ika sudah lama tak bertemu dengan nan tulangnya ini. Nan tulangnya sudah berusia 72 tahun, namun beliau masih sehat. Beliau adalah seorang yang sukses, anak-anaknya bersekolah di luar negeri semua. Bahkan salah seorang anaknya mengundurkan diri, pensiun dini dari sebuah perusahaan minyak terkenal, karena ia telah memiliki bisnis sendiri yang besar dan berhasil dalam jaringan Network 21. Anaknya itu ‘retire rich, retire young’. Beliau memiliki banyak ‘property’ yang disewakan kepada para ‘expatriates’, tenaga kerja asing.
Setelah mereka mengobrol sebentar, nan tulangnya bertanya, “Ada yang perlu kubantu?”
“Ada, nan tulang! Saya perlu tempat tinggal.”
“Pasti Tuhan Yesus akan bantu kamu!” Wah, ya memang benar. Tapi nan tulang ini tidak menunjukkan gelagat akan membantu.
“Besok, datanglah ke kantorku!” kata nan tulangnya.
Esok harinya terjadi keajaiban. Dari sekian rumah yang disewakan kepada orang asing, ada sebuah rumah di bilangan Jakarta Selatan yang tiba-tiba dilepaskan oleh orang Jerman yang berselisih dalam urusan kantor dengan partner lokalnya, sehingga orang ini pulang ke negerinya. Padahal orang Jerman ini sudah menempati rumah di Jakarta Selatan ini selama 8 tahun. Rumah itu besar, dengan luas tanah 2500 m2, lux, sewanya di atas US $ 3.000,- per bulan.
“Ika, ini ada rumah nan tulang kosong.”
“Tapi, saya tak sanggup membayar US $ 3300 per bulan, nan tulang!” kata Ika polos.
“Pasti Tuhan Yesus tolong! Pakai saja rumah itu tanpa bayar.”
“Puji Tuhan, terima kasih Tuhan, terima kasih nan tulang!”
Ika kaget sekali melihat rumah mewah itu. Memang anak-anaknya bilang, kalau nanti pindah rumah, mereka minta agar masing-masing menempati kamar sendiri. Mereka sudah merasakan betapa tidak enaknya tinggal di apartemen yang sempit. Apartemen saja belum ada, apalagi rumah dengan lima kamar? Namun, kasih karunia Tuhan luar biasa! Pemazmur berkata, “Kiranya diberikan-Nya kepadamu apa yang kaukehendaki dan dijadikan-Nya berhasil apa yang kaurancangkan. Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya.” Firman Tuhan itu telah digenapi. Dengan cara yang luar biasa, Tuhan menyediakan rumah mewah bagi keluarga Ika melalui nan tulangnya.
Sebelum Ika pergi ke Bali mengurus tugas kantor, ia telah mendapat rumah baru. Pindah rumah dilakukan segera dan pada tanggal 23 Maret 2007, kunci apartemen sudah diserahkan kepada pemiliknya. Ia sungguh bersyukur memiliki Bapa Sorgawi yang luar biasa. Ia tidak pernah meninggalkan dirinya sendirian. Ia mencukupi segala keperluan Ika dan keluarganya menurut kekayaan dan kemuliaan dalam Kristus Yesus.
Kini yang Ika ingin lakukan adalah bersaksi kemana-mana tentang kasih dan kebaikan Tuhan, tentang pengampunan dosa di kayu salib, tentang keselamatan dalam Nama Yesus Kristus. Ika ingin suatu hari melayani Tuhan dengan menjadi seorang Worship Leader. Ika ingin ayahnya percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadinya. Oleh karena itu Ika terus berdoa dan berpegang pada firman Tuhan : "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”
Kini Ika memiliki karier yang gemilang sebagai seorang direktris di perusahaan yang bonafid. Anak-anaknya bersekolah di sekolah yang terbaik dan ia terus mengalami kebaikan Tuhan dari hari ke sehari.
Pernah ayahanda tercintanya bertanya kepada anak perempuan Ika, “Apakah mama kamu mungkin pindah agama lagi?”
“Ato, biarlah mama dengan agamanya sekarang. Dia berubah jadi semakin baik setelah menghayati agamanya yang sekarang…” kata anak gadis itu kepada kakeknya terus terang.
Pernah temannya yang saat ini menjadi Menteri Koordinator dalam Kabinet Indonesia Bersatu ngobrol-ngobrol dengannya, lalu beliau nyeletuk, “Eh, Ika, kapan kamu pindah agama lagi?” Ika hanya tersenyum.(Tamat)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
The Story about Ika (1)
Tadi malam kami datang berkunjung ke rumah seseorang yang kesaksiannya luar biasa. Sebut saja namanya Ika, seorang wanita cantik, 'smart', dan pandai bergaul. Ayahandanya berasal dari Cirebon, seorang mantan pejabat di negeri ini. Ibundanya berasal dari Tapanuli. Karena mereka saling mencintai, ibunya rela melepaskan iman kristianinya. Ika dibesarkan di dalam keluarga yang taat beribadah. Ia dibesarkan seperti Cinderella, dimanja, disayang dalam keluarga bersama 2 adik laki-lakinya. Mereka kebanyakan tinggal di Eropa, sehingga tidaklah mengherankan jika Ika fasih berbicara dalam empat bahasa asing. Dari kecil Ika tidak mengenal kekristenan, namun suasana Natal dan Tahun Baru di Eropa sangat berkesan di hatinya.
Ketika dewasa, Ika sudah membaca kitab sucinya dari awal hingga akhir sebanyak 3 kali dan Ika sering diundang untuk berceramah di pertemuan-pertemuan rohani. Obsesi ayahnya agar Ika menikah di tanah suci akhirnya terlaksana juga ketika Ika mengikat janji dengan seseorang yang dia cintai. Dalam pernikahan itu mereka dikaruniai seorang putera dan dua orang puteri.
Sayangnya, pernikahan ini kandas di tengah jalan. Ika yang biasa hidup seperti Cinderella tidak tahan menghadapi gelombang kehidupan rumah tangga. Ia kemudian banyak menghabiskan waktu di dunia gemerlapan. Ia banyak gaul di kafe-kafe di Jakarta. Karena sering duduk dekat panggung 'live music' di suatu kafe, ia mulai memperhatikan sang vokalis yang sering tampil di kafe itu. Mulanya biasa saja, ia suka ngobrol dengan Arnold, katakan saja begitu nama vokalis itu. Arnold membangkitkan simpati Ika, karena vokalis band ini baru ditinggal mati isteri dan anaknya. Arnold, duda sebatang kara dalam kesedihan, makin menjadi teman ngobrol yang menyenangkan bagi Ika. Mulanya biasa, namun lambat tapi pasti, diantara mereka mulai ada rasa saling sayang. Tapi sejak awal Ika membatasi diri, karena Arnold berbeda keyakinan. Dalam curhatnya Arnold kadang-kadang menunjukkan emosinya yang suka meledak. Ika dengan sabar menghadapinya, menasihatinya. Namun seringkali nasihat Ika ditanggapi negatif. “Jangan hakimi saya begitu dong, Ka!” keluh Arnold ketika sudah merasa risi dengan nasihat Ika.
Suatu saat pada bulan Ramadhan Ika melintas di sekitar gereja Mawar Sharon di Kelapa Gading. Ia ingin datang dan masuk untuk beribadah di situ. Aneh sekali. Dia sedang berpuasa, dan bagi orang berpuasa apabila masuk ke gereja, maka puasanya batal. Karena kebelet ke toilet, ia akhirnya mampir juga ke area gereja, mendatangi toilet. Ternyata Ika mendapat mens pada hari itu. Artinya, puasanya otomatis batal. Karena terlanjur batal puasa, maka ia masuk ke ruang kebaktian sekalian. Pada hari Minggu itu pas habis ibadah sebelumnya dan akan dimulai ibadah berikutnya di jam 3.00 sore. Ia duduk di situ dan merasakan bahwa ruang ibadah itu mengingatkan suasana Natal atau Tahun Baru di Eropa, walaupun saat itu bukan hari Natal atau Tahun Baru. Ika melihat lukisan Yesus yang akrab dilihatnya semasa kecil. Pada saat ibadah raya dimulai dan dibuka dengan lagu “Glory-glory, Haleluya!” Ika semakin diingatkan dengan masa kecilnya yang sering mendengar lagu ini diperdengarkan di gereja-gereja di Eropa. Ika merasa “at home” sekali di dalam gereja.
Mulailah di hatinya timbul keinginan. Ia berdoa, “Tuhan, kalau Engkau ada di sini. Kabulkanlah permohonan saya!” Dengan ragu Ika meminta sesuatu yang menurutnya mustahil pada waktu itu. “Datangkan Arnold ke sini, Tuhan!” Ika sangat ingin merasakan bahwa Tuhan itu seperti ayahnya yang selalu mengabulkan apa yang ia minta. Beberapa saat kemudian, Ika kaget sekali ketika sesosok tubuh yang dikenalnya masuk dan duduk di bagian depan. Arnold! Ia segera menemui lelaki itu.
“Hai!” kata Arnold kaget. “Ngapain kesini?”
“Mau doain kamu!” kata Ika sungguh-sungguh.
Sejak saat itu hubungan Arnold dan Ika semakin mesra. Dapat diterka, ketika Ika memohon restu dari ayahandanya untuk menikah dengan Arnold, dengan serta merta ditolak, karena Ika menyatakan diri untuk berpindah agama. Ika dianggap murtad oleh ayahanda tercinta. Sejak itu Ika dikucilkan keluarganya, sedangkan ibundanya telah wafat.
Dalam pernikahan kedua ini pasangan Arnold dan Ika dikaruniai Tuhan seorang anak lelaki yang lucu. Kelahiran anak inipun penuh mukjizat, karena bayi ini hampir saja tidak dapat bertahan hidup. Hanya karena iman Ika yang ngotot terhadap Tuhan, ia berdoa sungguh-sungguh, dan anak ini lahir dengan selamat.
Selama pernikahannya yang kedua, Ika tidak mendapat bimbingan rohani dari suaminya. Ika mencari tahu sendiri tentang Tuhan Yesus dari Alkitab. Ika belajar sendiri mengenai cara berdoa orang Kristen. Kehidupan rohani suaminya suam-suam kuku sekali. Bahkan Arnold sering melarang Ika menunjukkan identitas kristianinya apabila mereka bertemu teman-teman lama Ika atau ketika sekedar mengobrol di telpon. “Jangan pamerkan imanmu!” kata Arnold ketus, padahal menurut Ika wajar-wajar saja ia mengakui imannya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya.
Dalam kehidupan bersama Arnold, Ika yang dulunya hidup bak Cinderella, semakin diperhadapkan dengan kehidupan nyata yang penuh tantangan. Ika dilatih untuk mengandalkan Tuhan Yesus. Karakter Ika dibentuk, meskipun dengan cara yang sulit. Ia tidak membayangkan betapa sulitnya hidup bersama seniman yang satu ini.
Rupanya kehidupan rumah tangga Ika dengan seniman ini tidak dapat bertahan lama. Mereka harus berpisah, akhirnya. Yang tidak diharapkan adalah munculnya persoalan anak dan keuangan dalam proses perceraian ini. Arnold memaksa Ika untuk mendapatkan hak perwalian atas Alex, anak terkecil mereka. Ika pikir, “Apakah seorang seniman seperti Arnold dapat membesarkan dan mengasihi anak kecil hasil buah perkawinan mereka?” Dengan tekad yang bulat, Ika tidak mau melepaskan anak keempatnya.
Perselisihan ini sampai melibatkan pengacara. Arnold menggunakan pengacara, Ika juga. Selain itu, suaminya menuntut harta bersama mereka. Sebenarnya harta bersama itu adalah harta Ika dari peninggalan orang tuanya. Mulanya Ika tidak rela menyerahkan harta benda atau uang, namun di hatinya kemudian muncul kedamaian. “Daripada Arnold mengambil Alex, lebih baik saya berikan dia uang!” demikian pertimbangan Ika. Pada hari yang dijanjikan, Ika membawa uang tunai di suatu tas besar. Semula pengacara Arnold membesarkan hati Ika, “Tenang saja, pasti Arnold akan kembalikan uang itu kepada kamu agar dipakai untuk membesarkan Alex...” Eh, ternyata, meskipun pengacara Arnold membujuk agar memberikan uang itu kembali kepada Ika, Arnold cuek saja. Arnold berkilah, “Bang, aku perlu duit untuk kontrak rumah dan untuk hidup juga!” Dengan enteng dia meraih tas berisi uang tunai itu dan segera berlalu. Ika tabah dan ikhlas sekali. “Tidak lama lagi uang itu pasti ludes, buat pesta pora, buat mabuk-mabukan!” kata Ika dalam hati setelah melihat kelakuan mantan suaminya yang mengaku Kristen ini.
Sejak perpisahan kedua ini, Ika didekati pihak keluarganya kembali. Mereka terus membujuk agar Ika kembali ke agamanya yang lama. Adik lelakinya membayari dan menyediakan satu unit apartemen di Kemang. Selain itu adik lelakinya juga membantu keuangan Ika sekeluarga. (Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Ketika dewasa, Ika sudah membaca kitab sucinya dari awal hingga akhir sebanyak 3 kali dan Ika sering diundang untuk berceramah di pertemuan-pertemuan rohani. Obsesi ayahnya agar Ika menikah di tanah suci akhirnya terlaksana juga ketika Ika mengikat janji dengan seseorang yang dia cintai. Dalam pernikahan itu mereka dikaruniai seorang putera dan dua orang puteri.
Sayangnya, pernikahan ini kandas di tengah jalan. Ika yang biasa hidup seperti Cinderella tidak tahan menghadapi gelombang kehidupan rumah tangga. Ia kemudian banyak menghabiskan waktu di dunia gemerlapan. Ia banyak gaul di kafe-kafe di Jakarta. Karena sering duduk dekat panggung 'live music' di suatu kafe, ia mulai memperhatikan sang vokalis yang sering tampil di kafe itu. Mulanya biasa saja, ia suka ngobrol dengan Arnold, katakan saja begitu nama vokalis itu. Arnold membangkitkan simpati Ika, karena vokalis band ini baru ditinggal mati isteri dan anaknya. Arnold, duda sebatang kara dalam kesedihan, makin menjadi teman ngobrol yang menyenangkan bagi Ika. Mulanya biasa, namun lambat tapi pasti, diantara mereka mulai ada rasa saling sayang. Tapi sejak awal Ika membatasi diri, karena Arnold berbeda keyakinan. Dalam curhatnya Arnold kadang-kadang menunjukkan emosinya yang suka meledak. Ika dengan sabar menghadapinya, menasihatinya. Namun seringkali nasihat Ika ditanggapi negatif. “Jangan hakimi saya begitu dong, Ka!” keluh Arnold ketika sudah merasa risi dengan nasihat Ika.
Suatu saat pada bulan Ramadhan Ika melintas di sekitar gereja Mawar Sharon di Kelapa Gading. Ia ingin datang dan masuk untuk beribadah di situ. Aneh sekali. Dia sedang berpuasa, dan bagi orang berpuasa apabila masuk ke gereja, maka puasanya batal. Karena kebelet ke toilet, ia akhirnya mampir juga ke area gereja, mendatangi toilet. Ternyata Ika mendapat mens pada hari itu. Artinya, puasanya otomatis batal. Karena terlanjur batal puasa, maka ia masuk ke ruang kebaktian sekalian. Pada hari Minggu itu pas habis ibadah sebelumnya dan akan dimulai ibadah berikutnya di jam 3.00 sore. Ia duduk di situ dan merasakan bahwa ruang ibadah itu mengingatkan suasana Natal atau Tahun Baru di Eropa, walaupun saat itu bukan hari Natal atau Tahun Baru. Ika melihat lukisan Yesus yang akrab dilihatnya semasa kecil. Pada saat ibadah raya dimulai dan dibuka dengan lagu “Glory-glory, Haleluya!” Ika semakin diingatkan dengan masa kecilnya yang sering mendengar lagu ini diperdengarkan di gereja-gereja di Eropa. Ika merasa “at home” sekali di dalam gereja.
Mulailah di hatinya timbul keinginan. Ia berdoa, “Tuhan, kalau Engkau ada di sini. Kabulkanlah permohonan saya!” Dengan ragu Ika meminta sesuatu yang menurutnya mustahil pada waktu itu. “Datangkan Arnold ke sini, Tuhan!” Ika sangat ingin merasakan bahwa Tuhan itu seperti ayahnya yang selalu mengabulkan apa yang ia minta. Beberapa saat kemudian, Ika kaget sekali ketika sesosok tubuh yang dikenalnya masuk dan duduk di bagian depan. Arnold! Ia segera menemui lelaki itu.
“Hai!” kata Arnold kaget. “Ngapain kesini?”
“Mau doain kamu!” kata Ika sungguh-sungguh.
Sejak saat itu hubungan Arnold dan Ika semakin mesra. Dapat diterka, ketika Ika memohon restu dari ayahandanya untuk menikah dengan Arnold, dengan serta merta ditolak, karena Ika menyatakan diri untuk berpindah agama. Ika dianggap murtad oleh ayahanda tercinta. Sejak itu Ika dikucilkan keluarganya, sedangkan ibundanya telah wafat.
Dalam pernikahan kedua ini pasangan Arnold dan Ika dikaruniai Tuhan seorang anak lelaki yang lucu. Kelahiran anak inipun penuh mukjizat, karena bayi ini hampir saja tidak dapat bertahan hidup. Hanya karena iman Ika yang ngotot terhadap Tuhan, ia berdoa sungguh-sungguh, dan anak ini lahir dengan selamat.
Selama pernikahannya yang kedua, Ika tidak mendapat bimbingan rohani dari suaminya. Ika mencari tahu sendiri tentang Tuhan Yesus dari Alkitab. Ika belajar sendiri mengenai cara berdoa orang Kristen. Kehidupan rohani suaminya suam-suam kuku sekali. Bahkan Arnold sering melarang Ika menunjukkan identitas kristianinya apabila mereka bertemu teman-teman lama Ika atau ketika sekedar mengobrol di telpon. “Jangan pamerkan imanmu!” kata Arnold ketus, padahal menurut Ika wajar-wajar saja ia mengakui imannya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya.
Dalam kehidupan bersama Arnold, Ika yang dulunya hidup bak Cinderella, semakin diperhadapkan dengan kehidupan nyata yang penuh tantangan. Ika dilatih untuk mengandalkan Tuhan Yesus. Karakter Ika dibentuk, meskipun dengan cara yang sulit. Ia tidak membayangkan betapa sulitnya hidup bersama seniman yang satu ini.
Rupanya kehidupan rumah tangga Ika dengan seniman ini tidak dapat bertahan lama. Mereka harus berpisah, akhirnya. Yang tidak diharapkan adalah munculnya persoalan anak dan keuangan dalam proses perceraian ini. Arnold memaksa Ika untuk mendapatkan hak perwalian atas Alex, anak terkecil mereka. Ika pikir, “Apakah seorang seniman seperti Arnold dapat membesarkan dan mengasihi anak kecil hasil buah perkawinan mereka?” Dengan tekad yang bulat, Ika tidak mau melepaskan anak keempatnya.
Perselisihan ini sampai melibatkan pengacara. Arnold menggunakan pengacara, Ika juga. Selain itu, suaminya menuntut harta bersama mereka. Sebenarnya harta bersama itu adalah harta Ika dari peninggalan orang tuanya. Mulanya Ika tidak rela menyerahkan harta benda atau uang, namun di hatinya kemudian muncul kedamaian. “Daripada Arnold mengambil Alex, lebih baik saya berikan dia uang!” demikian pertimbangan Ika. Pada hari yang dijanjikan, Ika membawa uang tunai di suatu tas besar. Semula pengacara Arnold membesarkan hati Ika, “Tenang saja, pasti Arnold akan kembalikan uang itu kepada kamu agar dipakai untuk membesarkan Alex...” Eh, ternyata, meskipun pengacara Arnold membujuk agar memberikan uang itu kembali kepada Ika, Arnold cuek saja. Arnold berkilah, “Bang, aku perlu duit untuk kontrak rumah dan untuk hidup juga!” Dengan enteng dia meraih tas berisi uang tunai itu dan segera berlalu. Ika tabah dan ikhlas sekali. “Tidak lama lagi uang itu pasti ludes, buat pesta pora, buat mabuk-mabukan!” kata Ika dalam hati setelah melihat kelakuan mantan suaminya yang mengaku Kristen ini.
Sejak perpisahan kedua ini, Ika didekati pihak keluarganya kembali. Mereka terus membujuk agar Ika kembali ke agamanya yang lama. Adik lelakinya membayari dan menyediakan satu unit apartemen di Kemang. Selain itu adik lelakinya juga membantu keuangan Ika sekeluarga. (Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, May 18, 2007
Diberkati Kesaksian Eka Deli
Minggu lalu adik perempuan saya membaca kisah kesaksian Eka Deli seperti yang dimuat dalam majalah Kartini edisi 3 – 17 Mei 2007. Setelah membaca, adik saya ingin tahu apakah sebenarnya Tuhan Yesus pernah datang ke dalam kehidupannya seperti yang dialami Eka Deli. Lebih baik, kita baca dulu kesaksian Eka yang luar biasa ini dan kemudian kita simak apa yang dialami adik saya.
Beginilah Eka Deli bersaksi dalam majalah Kartini :
Berkali-kali aku ingin lari dari Tuhan. Bahkan beberapa kali kucoba bunuh diri. Namun tangan kasih-Nya jauh lebih panjang. Empat kali kualami mukjizat. Ketika kecil, aku sembuh dari sakit panas setelah menyanyikan lagu yang memuliakan nama-Nya. Selanjutnya, ia sembuhkan sakit jantung, lever dan kelainan darah yang kuderita. Juga kelainan tulang yang telah kualami sejak kecil. Kini mukjizat-Nya hadir melalui kehamilanku.
Aku terlahir sebagai anak tunggal pasangan musisi Achmad Matius dan Lies Rieza Anggoman. Lahir dan dibesarkan dalam keluarga non-kristen membuatku tak mengenal Yesus. Anehnya, waktu berumur lima tahun, beberapa kali aku bermimpi berjumpa dengan Yesus. Aku bermimpi dihampiri seorang pria saat bermain bersama tetangga. Pria itu memperkenalkan diri sebagai Oom Yesus.
Beberapa hari berselang aku kembali bermimpi hal yang sama. Dalam mimpi itu aku melihat bumi tertutup air bah. Beberapa tahun kemudian aku baru tahu kalau mimpi itu serupa cerita air bah di zaman Nuh. Padahal aku belum pernah mendengar cerita itu sebelumnya. Dalam mimpi itu aku tenggelam dan hampir kehabisan nafas. Namun sebuah tangan meraihku dengan cepat. Setelah berhasil diselamatkan, akupun mengucapkan terima kasih dan menanyakan nama pria yang menyelamatkanku itu. Ternyata Dia adalah pria yang sama dalam mimpiku sebelumnya, Oom Yesus.
Suatu hari aku mengalami demam inggi dan orang tuaku tak punya uang untuk membawaku ke dokter. Mereka mencari pinjaman kemana-mana, namun tak berhasil. Aku ingat, wajah mereka sangat sedih karena tidak bisa membawaku ke dokter. Saat itu iseng-iseng aku bertanya kepada mama tentang Oom Yesus. Mama bilang, Yesus itu Tuhan. Karena aku ingin mengenal Yesus, mama lalu mengajariku lagu Sekolah Minggu. “Yesus cinta anak-anak, anak-anak sedunia, Merah kuning, putih dan hitam, semua dicinta Yesus. Yesus cinta anak-anak sedunia.” Layaknya anak-anak, lagu riang yang baru pertama kali kukenal itu kunyanyikan berulang-ulang. Sungguh ajaib, sesudah itu aku sembuh.
Sejak saat itu aku ke Sekolah Minggu dan mulai mengenal Yesus lebih jauh. Namun ternyata aku tidak sungguh-sungguh mengenal-Nya. Aku tidak tahu apa kehendak Tuhan dalam hidupku. Tahun 1999 aku mengalami stres berat yang tidak kuketahui penyebabnya. Saat itu usiaku masih belia, namun sudah sarjana dan memiliki penghasilan lebih dari cukup. Aku tiba di suatu titik, dimana aku butuh pengisi jiwaku. Meskipun berkecukupan secara materi, jiwaku kosong.
Aku stres dan mengalami jatuh bangun dalam hidup. Bahkan pernah beberapa kali mencoba bunuh diri. Aku minum beberapa obat tidur yang dicampur obat lain. Tapi efeknya, aku hanya mengantuk dan tetap hidup. Aku pernah mencoba memotong nadiku atau membenturkan kepala ke dinding. Namun selalu saja ada yang datang menggagalkannya. Akupun pernah menggunduli rambutku hingga nyaris botak. Namun itu semua tak dapat mengisi kekosongan jiwaku.
Tuhan tidak pernah menutup mata. Dia mempertemukanku dengan senior di kampus. Mereka adalah kak Enny dan kak Ria, yang menawarkan diri untuk mendoakanku. Baru kali ini aku melihat ada orang yang bersedia berdoa untukku hingga menitikkan air mata. Mereka juga menginjiliku. Semula aku menolak. “Doakan saja, tetapi aku gak akan balik sama Yesus!” jawabku ketus. Meski begitu, aku masih saja stres. Bahkan lebih parah lagi, aku sempat mabuk-mabukan. Padahal aku tidak suka minuman beralkohol.
Awal tahun 2000 kak Ria kembali menelponku. Dia mengajakku berdoa di Gua Doa yang ada di Tapos Bogor. Semula aku ogah-ogahan, namun dengan telaten dia membujukku. Akhirnya akupun pergi bersamanya.
Saat aku berada di gua, aku tak tahu harus bagaimana. Aku sudah lupa cara berdoa. Aku hanya duduk berdiam diri. Tanpa kusadari aku mulai menangis. Saat itu aku seperti melihat layar besar yang memutar kehidupankiu sejak kecil: pertemuanku dengan Oom Yesus, saat Dia menyembuhkanku ketika demam tinggi, hingga ketika aku jatuh bangun. Seolah aku mendengar suara, “Lihat Eka, betapa Aku mengasihimu….”
Aku tersungkur dan menangis sejadi-jadinya. Tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Aku merasa saat itu tangan Tuhan memelukku. Beberapa saat aku menikmati jamahan-Nya sampai aku berujar,”Tuhan, Eka mau balik sama Tuhan! Selama ini Eka sudah jauh dari Tuhan. Ampuni Eka, Tuhan…” Setelah itu kurasakan kelegaan luar biasa.
Momen itu adalah titik balik pertobatanku. Sejak saat itu aku menikmati waktu berdoa. Aku bisa berjam-jam di dalam kamar untuk berdoa dan membaca Alkitab. Namun aku belum menyadari rencana Tuhan untukku. Semula aku ingin melanjutkan S2 jurusan komunikasi elektronika. Namun lewat seorang pendeta, aku ditawari kuliah di Sekolah Tinggi Teologia Indonesia (STTI) di Bali. Aku sempat ragu, karena selain jauh dari orang tua, biayanya tentu tidak murah. Lewat doa aku mohon, jika Tuhan memang mengutusku ke sana, tentu Dia menyediakan semua dan melancarkannya. Benar saja, semua berjalan lancar. Ternyata Tuhan mempersiapkanku menjadi pendoa syafaat.
Kisah kesaksian Eka Deli di majalah Kartini itu masih panjang, namun ada satu pengalaman Eka yang membuat adik saya bertanya-tanya. Eka bertemu Tuhan dalam berbagai kesempatan: dalam mimpi melalui penampakan Oom Yesus, kesembuhannya, doa-doa kak Enny dan kak Ria, dan dalam banyak hal lain. Adik saya bertanya kepada Tuhan, kapan dan dimana Tuhan pernah dengan spesial mendatangi kehidupannya? Pada waktu adik saya bertanya, itu adalah saat teduh setelah khotbah dalam ibadah raya di Tampak Siring – Kelapa Gading. Seperti diputarkan film kembali, adik saya melihat saat Tuhan Yesus datang melalui guru sekolah minggu yang mendoakannya, melalui mantri kesehatan yang merawat sakitnya, melalui kakak pembimbing di Abbalove Ministry, dan melalui orang-orang lain. Melalui orang-orang itu Tuhan Yesus mengatakan, “Aku mengasihimu….” Adik saya menangis terharu dibuat-Nya. Kasih Tuhan nyata!
Tuhan bukan hanya mengasihi Eka Deli saja, Ia mengasihi kita semua. Ia sering menampakkan diri melalui orang-orang yang kita tidak sangka. Suara-Nya selalu,
"Aku mengasihimu..." How great is our God, sing with me how great is our God...
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Beginilah Eka Deli bersaksi dalam majalah Kartini :
Berkali-kali aku ingin lari dari Tuhan. Bahkan beberapa kali kucoba bunuh diri. Namun tangan kasih-Nya jauh lebih panjang. Empat kali kualami mukjizat. Ketika kecil, aku sembuh dari sakit panas setelah menyanyikan lagu yang memuliakan nama-Nya. Selanjutnya, ia sembuhkan sakit jantung, lever dan kelainan darah yang kuderita. Juga kelainan tulang yang telah kualami sejak kecil. Kini mukjizat-Nya hadir melalui kehamilanku.
Aku terlahir sebagai anak tunggal pasangan musisi Achmad Matius dan Lies Rieza Anggoman. Lahir dan dibesarkan dalam keluarga non-kristen membuatku tak mengenal Yesus. Anehnya, waktu berumur lima tahun, beberapa kali aku bermimpi berjumpa dengan Yesus. Aku bermimpi dihampiri seorang pria saat bermain bersama tetangga. Pria itu memperkenalkan diri sebagai Oom Yesus.
Beberapa hari berselang aku kembali bermimpi hal yang sama. Dalam mimpi itu aku melihat bumi tertutup air bah. Beberapa tahun kemudian aku baru tahu kalau mimpi itu serupa cerita air bah di zaman Nuh. Padahal aku belum pernah mendengar cerita itu sebelumnya. Dalam mimpi itu aku tenggelam dan hampir kehabisan nafas. Namun sebuah tangan meraihku dengan cepat. Setelah berhasil diselamatkan, akupun mengucapkan terima kasih dan menanyakan nama pria yang menyelamatkanku itu. Ternyata Dia adalah pria yang sama dalam mimpiku sebelumnya, Oom Yesus.
Suatu hari aku mengalami demam inggi dan orang tuaku tak punya uang untuk membawaku ke dokter. Mereka mencari pinjaman kemana-mana, namun tak berhasil. Aku ingat, wajah mereka sangat sedih karena tidak bisa membawaku ke dokter. Saat itu iseng-iseng aku bertanya kepada mama tentang Oom Yesus. Mama bilang, Yesus itu Tuhan. Karena aku ingin mengenal Yesus, mama lalu mengajariku lagu Sekolah Minggu. “Yesus cinta anak-anak, anak-anak sedunia, Merah kuning, putih dan hitam, semua dicinta Yesus. Yesus cinta anak-anak sedunia.” Layaknya anak-anak, lagu riang yang baru pertama kali kukenal itu kunyanyikan berulang-ulang. Sungguh ajaib, sesudah itu aku sembuh.
Sejak saat itu aku ke Sekolah Minggu dan mulai mengenal Yesus lebih jauh. Namun ternyata aku tidak sungguh-sungguh mengenal-Nya. Aku tidak tahu apa kehendak Tuhan dalam hidupku. Tahun 1999 aku mengalami stres berat yang tidak kuketahui penyebabnya. Saat itu usiaku masih belia, namun sudah sarjana dan memiliki penghasilan lebih dari cukup. Aku tiba di suatu titik, dimana aku butuh pengisi jiwaku. Meskipun berkecukupan secara materi, jiwaku kosong.
Aku stres dan mengalami jatuh bangun dalam hidup. Bahkan pernah beberapa kali mencoba bunuh diri. Aku minum beberapa obat tidur yang dicampur obat lain. Tapi efeknya, aku hanya mengantuk dan tetap hidup. Aku pernah mencoba memotong nadiku atau membenturkan kepala ke dinding. Namun selalu saja ada yang datang menggagalkannya. Akupun pernah menggunduli rambutku hingga nyaris botak. Namun itu semua tak dapat mengisi kekosongan jiwaku.
Tuhan tidak pernah menutup mata. Dia mempertemukanku dengan senior di kampus. Mereka adalah kak Enny dan kak Ria, yang menawarkan diri untuk mendoakanku. Baru kali ini aku melihat ada orang yang bersedia berdoa untukku hingga menitikkan air mata. Mereka juga menginjiliku. Semula aku menolak. “Doakan saja, tetapi aku gak akan balik sama Yesus!” jawabku ketus. Meski begitu, aku masih saja stres. Bahkan lebih parah lagi, aku sempat mabuk-mabukan. Padahal aku tidak suka minuman beralkohol.
Awal tahun 2000 kak Ria kembali menelponku. Dia mengajakku berdoa di Gua Doa yang ada di Tapos Bogor. Semula aku ogah-ogahan, namun dengan telaten dia membujukku. Akhirnya akupun pergi bersamanya.
Saat aku berada di gua, aku tak tahu harus bagaimana. Aku sudah lupa cara berdoa. Aku hanya duduk berdiam diri. Tanpa kusadari aku mulai menangis. Saat itu aku seperti melihat layar besar yang memutar kehidupankiu sejak kecil: pertemuanku dengan Oom Yesus, saat Dia menyembuhkanku ketika demam tinggi, hingga ketika aku jatuh bangun. Seolah aku mendengar suara, “Lihat Eka, betapa Aku mengasihimu….”
Aku tersungkur dan menangis sejadi-jadinya. Tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Aku merasa saat itu tangan Tuhan memelukku. Beberapa saat aku menikmati jamahan-Nya sampai aku berujar,”Tuhan, Eka mau balik sama Tuhan! Selama ini Eka sudah jauh dari Tuhan. Ampuni Eka, Tuhan…” Setelah itu kurasakan kelegaan luar biasa.
Momen itu adalah titik balik pertobatanku. Sejak saat itu aku menikmati waktu berdoa. Aku bisa berjam-jam di dalam kamar untuk berdoa dan membaca Alkitab. Namun aku belum menyadari rencana Tuhan untukku. Semula aku ingin melanjutkan S2 jurusan komunikasi elektronika. Namun lewat seorang pendeta, aku ditawari kuliah di Sekolah Tinggi Teologia Indonesia (STTI) di Bali. Aku sempat ragu, karena selain jauh dari orang tua, biayanya tentu tidak murah. Lewat doa aku mohon, jika Tuhan memang mengutusku ke sana, tentu Dia menyediakan semua dan melancarkannya. Benar saja, semua berjalan lancar. Ternyata Tuhan mempersiapkanku menjadi pendoa syafaat.
Kisah kesaksian Eka Deli di majalah Kartini itu masih panjang, namun ada satu pengalaman Eka yang membuat adik saya bertanya-tanya. Eka bertemu Tuhan dalam berbagai kesempatan: dalam mimpi melalui penampakan Oom Yesus, kesembuhannya, doa-doa kak Enny dan kak Ria, dan dalam banyak hal lain. Adik saya bertanya kepada Tuhan, kapan dan dimana Tuhan pernah dengan spesial mendatangi kehidupannya? Pada waktu adik saya bertanya, itu adalah saat teduh setelah khotbah dalam ibadah raya di Tampak Siring – Kelapa Gading. Seperti diputarkan film kembali, adik saya melihat saat Tuhan Yesus datang melalui guru sekolah minggu yang mendoakannya, melalui mantri kesehatan yang merawat sakitnya, melalui kakak pembimbing di Abbalove Ministry, dan melalui orang-orang lain. Melalui orang-orang itu Tuhan Yesus mengatakan, “Aku mengasihimu….” Adik saya menangis terharu dibuat-Nya. Kasih Tuhan nyata!
Tuhan bukan hanya mengasihi Eka Deli saja, Ia mengasihi kita semua. Ia sering menampakkan diri melalui orang-orang yang kita tidak sangka. Suara-Nya selalu,
"Aku mengasihimu..." How great is our God, sing with me how great is our God...
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, May 15, 2007
Musibah Yang Membawa Berkat
Apakah ada musibah yang membawa berkat? Inilah salah satu contoh yang nyata. Mungkin sulit bagi kebanyakan orang menerima musibah seperti ini. Seorang pengusaha sedang berlibur ke Bangkok bersama keluarganya pada hari raya Lebaran tahun 2006 lalu. Pada saat yang naas itu anak laki-laki terkecilnya, berumur sekitar 5 tahun, sedang bermain-main di pinggir kolam ikan bersama ayahnya yang menemani. Ketika ada kenalannya datang, ayahnya mengobrol sebentar dengan orang itu. Ketika sekitar lima menit kemudian ia melihat ke arah anaknya yang tadi di pinggir kolam, sang pengusaha sangat kaget. Anaknya hilang. Dicari-cari anaknya ke sekitar tempat itu, tak ada, dan semakin kaget ketika ia mencari-cari ke arah kolam, dilihatnya sosok anaknya telah tenggelam. Mereka segera melarikan anak ini ke Rumah Sakit di Bangkok. Anak ini sudah tidak sadarkan diri.
Momen ini sangat mencemaskan, apakah jiwa anaknya dapat tertolong? Berhari-hari kemudian anaknya harus dirawat di ruang ICU dalam keadaan tak sadarkan diri. Itulah hari-hari yang mencemaskan, hari-hari penuh duka. Anak yang sedang lucu-lucunya itu ketika berangkat dari Jakarta masih aktif, dan mereka menghabiskan sisa libur lebaran dalam duka di Bangkok. Dengan pertolongan Tuhan, ternyata anaknya dapat sadar kembali, namun fungsi otaknya telah lumpuh karena dalam beberapa menit yang kritis, supply darah dan oksigen ke otak tidak berjalan. Keluarga pengusaha ini menghadapi kenyataan pahit, anak lelaki terkecilnya mengalami kelumpuhan dan gangguan fungsi otak yang parah, sehingga perkembangan otaknya kembali seperti masih bayi.
Sang ibu yang penuh kasih menemani perawatan terapi bagi anak ini di Bangkok selama beberapa minggu lagi sementara suaminya kembali ke Jakarta mengurus bisnisnya. Setelah anak ini dapat dibawa pulang dengan aman, mulailah hari hari panjang yang melelahkan bagi keluarga ini. Doa-doa dinaikkan, bukan dari orang-orang yang dikenal saja, bahkan dari orang-orang tak dikenal. Semenjak dalam perawatan di Bangkok, banyak orang dan hamba-hamba Tuhan berdoa memohon mukjizat kesembuhan karena dokter-dokter spesialis syaraf sudah angkat tangan ketika melihat hasil MRI dari anak ini.
Ketika sampai di Indonesia, keluarga ini membawa sang anak untuk mendapatkan terapi di YPAC. Dua bulan lamanya sang ibu menemani anaknya di Solo. Menurut ibu ini, pediatric terapist di Solo adalah yang terbaik di dunia. Dia mendapatkan referensi dari seorang nyonya pengusaha mantan peragawati yang anaknya juga mengalami kelumpuhan dan sudah berkeliling dunia mencari terapi yang cocok. Kalau di Bangkok, sang terapist sangat lamban menangani dan melatih gerakan otot-otot dan persendian anak ini, di Solo sama sekali berbeda. Di sana ada seorang ahli terapi pediatrik (terapi khusus bagi anak-anak), ibu Nawangwulan, yang menyandang gelar S-2 di bidangnya. Pada mulanya memang keluarga ini tidak tega melihat anaknya ‘ditangani dan dilatih’ oleh ibu Nawang, karena anak yang lumpuh ini dipaksa berdiri, dipaksa duduk, dipaksa tegak lehernya, dipaksa menekukkan telapak kakinya, dipaksa membuka lipatan lengannya, pokoknya serba dipaksa. Ibu Nawang menjelaskan, “Kalau kita sayang kepada anak ini, harus dipaksa, karena kalau terlambat, maka selama-lamanya anak ini tidak dapat pulih. Kalau lewat enam bulan, anak ini dibiarkan, fatal akibatnya.” Melihat anaknya menjalani terapi, menangis meraung-raung, hati siapa yang tidak iba? Terdengar bunyi ‘krek, krek, krek’ ketika kakinya dipaksa berdiri, ketika lengannya dibuka-tutup, ketika lehernya dipaksa tegak. Anak ini diikat, dipasang peralatan seperti pasung dan lain-lain. Digerak-gerakkan seperti menggerakkan boneka kayu pinokio. Ayahnya selalu tidak tega dan menghindar melihat pemandangan yang memilukan itu. Puji Tuhan, dalam waktu dua bulan terjadi kemajuan yang berarti, anak lelaki yang tak berdaya ini mulai dapat menggerak-gerakkan beberapa anggota tubuhnya, meski masih lemah. Menurut ibu Nawang, yang sudah berpengalaman puluhan tahun menangani orang-orang yang lumpuh seperti itu, anak ini mengalami mukjizat karena telapak kakinya sudah mulai dapat ditekuk seperti bentuk normalnya. Ada pasien di sana yang telah enam tahun dirawat, namun telapak kakinya tak dapat ditekuk.
Inilah berkat-berkat yang dialami keluarga ini. Selama anak ini sakit, sang ibu belajar ilmu gizi dan belajar tentang sel manusia. Dari pengetahuan ini ia tahu bahwa sel manusia membutuhkan zat-zat gizi yang segar dari tumbuh-tumbuhan, biji-bijian, dan buah-buahan sehat dan segar. Karena fungsi syaraf anaknya pada kebanyakan anggota tubuh tidak berfungsi, maka supply makananpun tidak optimal, sehingga harus dipilih makanan atau minuman dengan gizi yang terbaik. Di sini sang ibu belajar tentang makanan dan minuman yang sehat bagi manusia.
Ketika menemani anaknya terapi di Solo, ia melihat pemandangan yang lebih memilukan. Ia melihat dunia lain. Selama ini sebagai keluarga pengusaha, ia tidak banyak melihat penderitaan. Di YPAC Solo ini ia melihat banyak anak-anak, orang-orang cacat, lumpuh yang lebih parah keadaannya. Mereka berasal dari keluarga kurang mampu, atau anak dari orang-orang kaya namun ditelantarkan keluarganya. Anak-anak dan orang-orang di sana sudah penuh keputus-asaan, apalagi hidup dalam kekurangan, gizi buruk. Di sinilah sang ibu membagikan ilmu gizi dan membangkitkan pengharapan ibu-ibu lain, dan anak-anak atau orang-orang cacat itu. “Ayo, kamu pasti bisa ! Ayo, Tuhan sayang kamu! Ayo, Tuhan pasti pulihkan kamu!” kata ibu ini berulang-ulang memberi semangat. Mereka biasanya menangis mendengar kata-kata penghiburan dan penuh pengharapan yang sudah langka terdengar di lingkungan seperti itu. Bukan itu saja, banyak ibu-ibu yang bertanya-tanya dan ingin belajar tentang ilmu gizi dari nyonya pengusaha ini. Walaupun sudah kembali ke Jakarta, ibu ini sering ditelpon oleh ibu-ibu dari luar kota, konsultasi gizi, padahal dia bukan ahli gizi. Tetapi karena dari hatinya mengalir aliran-aliran kehidupan, maka banyak ibu-ibu tidak sungkan meminta bantuan ibu ini.
Setelah kembali ke Jakarta, ibu ini biasa mengajak anaknya bermain-main di tempat klinik yang menampung anak-anak autis.
“Kalau ketemu anak-anak autis ini saya senang banget!”
“Emangnya kenapa, bu?” tanya saya ketika ketemu Senin kemarin.
“Mereka itu suka main-main. Saya juga suka main-main bersama mereka. Kejar-kejaran. Lempar-lemparan bola. Kalau saya datang ke tempat mereka, saya dikeroyok, digelayuti anak-anak itu. Mereka senang sekali mendapat teman main baru seperti saya yang bisa mengimbangi ulah mereka. He he he..Dan saya sangat menikmati kebersamaan itu. Lupa deh dengan penderitaan anak saya….”
Kalau tidak karena musibah anaknya, sang ibu tidaklah akan mengenal dunia lain, dunia orang-orang cacat, dunia orang-orang yang terkena hidrocephalus yang mengenaskan, dunia anak-anak autis. Dan melalui kontak dengan orang-orang lain di dunia seperti itu, sang ibu tetap dapat mengucap syukur akan kebaikan Tuhan, dan ia dapat menjadi berkat: membagikan kasih dan pengharapan, membagikan ilmu gizi, membagikan dirinya bermain-main dengan anak-anak autis, dan melatih imannya terus bertahan dan makin kuat bahwa Tuhan pasti melakukan mukjizat pada anaknya. Ternyata sekali bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang percaya dan mengasihi-Nya. Minggu ini sang anak dibawa berobat ke China untuk pengobatan dengan sistem stem-cell, suatu cara pengobatan yang baru dan masih mengundang kontroversi. Kita doakan saja, agar Tuhan terus memulihkan dengan sempurna perkembangan otak dan fungsi tubuh anak ini.
Pada waktu Todd Bentley, seorang hamba Tuhan dari Kanada mengadakan KKR Kesembuhan Ilahi di Jakarta, pada tanggal 11 dan 12 Mei yang lalu, anak ini dibawa kehadapan Todd dan didoakan. Menurut Todd, Tuhan berpesan bahwa anak ini sudah disembuhkan, tinggal tunggu waktu saja kenyataannya akan terjadi.
Satu hal lagi, selama anaknya sakit dan keluarga ini konsentrasi kepada masalah anaknya, Tuhan memberkati bisnis pengusaha ini dengan dahsyat. Pelanggan dari luar daerah mengantri produk yang dijualnya begitu produk ini sampai di Jakarta. Fantastis! Dia heran karena berkatlah yang mengejar dia sampai dia keringatan, bukan keringatan karena mengejar berkat. Puji Tuhan!
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Momen ini sangat mencemaskan, apakah jiwa anaknya dapat tertolong? Berhari-hari kemudian anaknya harus dirawat di ruang ICU dalam keadaan tak sadarkan diri. Itulah hari-hari yang mencemaskan, hari-hari penuh duka. Anak yang sedang lucu-lucunya itu ketika berangkat dari Jakarta masih aktif, dan mereka menghabiskan sisa libur lebaran dalam duka di Bangkok. Dengan pertolongan Tuhan, ternyata anaknya dapat sadar kembali, namun fungsi otaknya telah lumpuh karena dalam beberapa menit yang kritis, supply darah dan oksigen ke otak tidak berjalan. Keluarga pengusaha ini menghadapi kenyataan pahit, anak lelaki terkecilnya mengalami kelumpuhan dan gangguan fungsi otak yang parah, sehingga perkembangan otaknya kembali seperti masih bayi.
Sang ibu yang penuh kasih menemani perawatan terapi bagi anak ini di Bangkok selama beberapa minggu lagi sementara suaminya kembali ke Jakarta mengurus bisnisnya. Setelah anak ini dapat dibawa pulang dengan aman, mulailah hari hari panjang yang melelahkan bagi keluarga ini. Doa-doa dinaikkan, bukan dari orang-orang yang dikenal saja, bahkan dari orang-orang tak dikenal. Semenjak dalam perawatan di Bangkok, banyak orang dan hamba-hamba Tuhan berdoa memohon mukjizat kesembuhan karena dokter-dokter spesialis syaraf sudah angkat tangan ketika melihat hasil MRI dari anak ini.
Ketika sampai di Indonesia, keluarga ini membawa sang anak untuk mendapatkan terapi di YPAC. Dua bulan lamanya sang ibu menemani anaknya di Solo. Menurut ibu ini, pediatric terapist di Solo adalah yang terbaik di dunia. Dia mendapatkan referensi dari seorang nyonya pengusaha mantan peragawati yang anaknya juga mengalami kelumpuhan dan sudah berkeliling dunia mencari terapi yang cocok. Kalau di Bangkok, sang terapist sangat lamban menangani dan melatih gerakan otot-otot dan persendian anak ini, di Solo sama sekali berbeda. Di sana ada seorang ahli terapi pediatrik (terapi khusus bagi anak-anak), ibu Nawangwulan, yang menyandang gelar S-2 di bidangnya. Pada mulanya memang keluarga ini tidak tega melihat anaknya ‘ditangani dan dilatih’ oleh ibu Nawang, karena anak yang lumpuh ini dipaksa berdiri, dipaksa duduk, dipaksa tegak lehernya, dipaksa menekukkan telapak kakinya, dipaksa membuka lipatan lengannya, pokoknya serba dipaksa. Ibu Nawang menjelaskan, “Kalau kita sayang kepada anak ini, harus dipaksa, karena kalau terlambat, maka selama-lamanya anak ini tidak dapat pulih. Kalau lewat enam bulan, anak ini dibiarkan, fatal akibatnya.” Melihat anaknya menjalani terapi, menangis meraung-raung, hati siapa yang tidak iba? Terdengar bunyi ‘krek, krek, krek’ ketika kakinya dipaksa berdiri, ketika lengannya dibuka-tutup, ketika lehernya dipaksa tegak. Anak ini diikat, dipasang peralatan seperti pasung dan lain-lain. Digerak-gerakkan seperti menggerakkan boneka kayu pinokio. Ayahnya selalu tidak tega dan menghindar melihat pemandangan yang memilukan itu. Puji Tuhan, dalam waktu dua bulan terjadi kemajuan yang berarti, anak lelaki yang tak berdaya ini mulai dapat menggerak-gerakkan beberapa anggota tubuhnya, meski masih lemah. Menurut ibu Nawang, yang sudah berpengalaman puluhan tahun menangani orang-orang yang lumpuh seperti itu, anak ini mengalami mukjizat karena telapak kakinya sudah mulai dapat ditekuk seperti bentuk normalnya. Ada pasien di sana yang telah enam tahun dirawat, namun telapak kakinya tak dapat ditekuk.
Inilah berkat-berkat yang dialami keluarga ini. Selama anak ini sakit, sang ibu belajar ilmu gizi dan belajar tentang sel manusia. Dari pengetahuan ini ia tahu bahwa sel manusia membutuhkan zat-zat gizi yang segar dari tumbuh-tumbuhan, biji-bijian, dan buah-buahan sehat dan segar. Karena fungsi syaraf anaknya pada kebanyakan anggota tubuh tidak berfungsi, maka supply makananpun tidak optimal, sehingga harus dipilih makanan atau minuman dengan gizi yang terbaik. Di sini sang ibu belajar tentang makanan dan minuman yang sehat bagi manusia.
Ketika menemani anaknya terapi di Solo, ia melihat pemandangan yang lebih memilukan. Ia melihat dunia lain. Selama ini sebagai keluarga pengusaha, ia tidak banyak melihat penderitaan. Di YPAC Solo ini ia melihat banyak anak-anak, orang-orang cacat, lumpuh yang lebih parah keadaannya. Mereka berasal dari keluarga kurang mampu, atau anak dari orang-orang kaya namun ditelantarkan keluarganya. Anak-anak dan orang-orang di sana sudah penuh keputus-asaan, apalagi hidup dalam kekurangan, gizi buruk. Di sinilah sang ibu membagikan ilmu gizi dan membangkitkan pengharapan ibu-ibu lain, dan anak-anak atau orang-orang cacat itu. “Ayo, kamu pasti bisa ! Ayo, Tuhan sayang kamu! Ayo, Tuhan pasti pulihkan kamu!” kata ibu ini berulang-ulang memberi semangat. Mereka biasanya menangis mendengar kata-kata penghiburan dan penuh pengharapan yang sudah langka terdengar di lingkungan seperti itu. Bukan itu saja, banyak ibu-ibu yang bertanya-tanya dan ingin belajar tentang ilmu gizi dari nyonya pengusaha ini. Walaupun sudah kembali ke Jakarta, ibu ini sering ditelpon oleh ibu-ibu dari luar kota, konsultasi gizi, padahal dia bukan ahli gizi. Tetapi karena dari hatinya mengalir aliran-aliran kehidupan, maka banyak ibu-ibu tidak sungkan meminta bantuan ibu ini.
Setelah kembali ke Jakarta, ibu ini biasa mengajak anaknya bermain-main di tempat klinik yang menampung anak-anak autis.
“Kalau ketemu anak-anak autis ini saya senang banget!”
“Emangnya kenapa, bu?” tanya saya ketika ketemu Senin kemarin.
“Mereka itu suka main-main. Saya juga suka main-main bersama mereka. Kejar-kejaran. Lempar-lemparan bola. Kalau saya datang ke tempat mereka, saya dikeroyok, digelayuti anak-anak itu. Mereka senang sekali mendapat teman main baru seperti saya yang bisa mengimbangi ulah mereka. He he he..Dan saya sangat menikmati kebersamaan itu. Lupa deh dengan penderitaan anak saya….”
Kalau tidak karena musibah anaknya, sang ibu tidaklah akan mengenal dunia lain, dunia orang-orang cacat, dunia orang-orang yang terkena hidrocephalus yang mengenaskan, dunia anak-anak autis. Dan melalui kontak dengan orang-orang lain di dunia seperti itu, sang ibu tetap dapat mengucap syukur akan kebaikan Tuhan, dan ia dapat menjadi berkat: membagikan kasih dan pengharapan, membagikan ilmu gizi, membagikan dirinya bermain-main dengan anak-anak autis, dan melatih imannya terus bertahan dan makin kuat bahwa Tuhan pasti melakukan mukjizat pada anaknya. Ternyata sekali bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang percaya dan mengasihi-Nya. Minggu ini sang anak dibawa berobat ke China untuk pengobatan dengan sistem stem-cell, suatu cara pengobatan yang baru dan masih mengundang kontroversi. Kita doakan saja, agar Tuhan terus memulihkan dengan sempurna perkembangan otak dan fungsi tubuh anak ini.
Pada waktu Todd Bentley, seorang hamba Tuhan dari Kanada mengadakan KKR Kesembuhan Ilahi di Jakarta, pada tanggal 11 dan 12 Mei yang lalu, anak ini dibawa kehadapan Todd dan didoakan. Menurut Todd, Tuhan berpesan bahwa anak ini sudah disembuhkan, tinggal tunggu waktu saja kenyataannya akan terjadi.
Satu hal lagi, selama anaknya sakit dan keluarga ini konsentrasi kepada masalah anaknya, Tuhan memberkati bisnis pengusaha ini dengan dahsyat. Pelanggan dari luar daerah mengantri produk yang dijualnya begitu produk ini sampai di Jakarta. Fantastis! Dia heran karena berkatlah yang mengejar dia sampai dia keringatan, bukan keringatan karena mengejar berkat. Puji Tuhan!
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, May 11, 2007
Melihat Sorga
Marietta Davis, seorang wanita Amerika berusia dua puluh lima tahun, tinggal di Berlin, New York. Ia tidak sadarkan diri selama sembilan hari pada musim panas tahun 1948. Baik dokternya maupun keluarganya tidak dapat membangunkan dia. Sebelum ia tak sadarkan diri ia merasa cemas dan ragu tentang dimana ia akan berada setelah kematian dalam kekekalan.
Marietta menyatakan bahwa selama sembilan hari itu ia mengunjungi alam kekekalan dan mengetahui bahwa ia tidak punya banyak waktu lagi hidup di bumi dan akan segera kembali ke sorga dan tinggal di rumah yang telah dipersiapkan Tuhan Yesus baginya. Tujuh bulan kemudian ia meninggal pada saat menyanyikan puji-pujian bersama keluarganya. Kisah berikut ini menyatakan apa yang telah dialaminya di sorga.
Ketika memasuki alam tidak sadar, kemampuan Marietta melihat dunia lahiriah hilang, dan seakan-akan ia mengambang di atas suatu bidang yang sangat luas. Tiba-tiba datanglah seorang malaikat yang menyambut dia dan menuntun dia menjelajahi sorga.
Ia dibawa ke kota Damai Sejahtera, kota yang bersinar terang, penuh cahaya berkilauan. Ia merasa tidak layak untuk memasuki tempat yang dipenuhi kemuliaan sehebat itu. Para malaikat membawanya kepada seorang Pribadi yang begitu mulia, yang mengenakan mahkota terang. Ia begitu indah sehingga Marietta tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk mengekspresikannya.
Salah satu malaikat itu berkata kepadanya bahwa Pribadi itu adalah Penebusnya yang telah mati baginya di kayu salib. Marietta sujud di hadapan-Nya. Ia mengulurkan tangan-Nya kepada Marietta sambil berkata dengan penuh sukacita. Tuhan Yesus memanggil Marietta sebagai anak-Nya dan menyambutnya, sambil mengajak orang-orang yang ada di sekelilingnya untuk menerima Marietta sebagai teman.
Para malaikat yang telah menyembah Dia, bangkit dan dengan rendah hati menyambut Marietta dan kemudian mereka bersama mulai menyanyikan puji-pujian bagi Dia yang adalah Anak Domba Allah.
Note: Kisah ini diambil dari buku ”Kami Melihat Sorga”
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Marietta menyatakan bahwa selama sembilan hari itu ia mengunjungi alam kekekalan dan mengetahui bahwa ia tidak punya banyak waktu lagi hidup di bumi dan akan segera kembali ke sorga dan tinggal di rumah yang telah dipersiapkan Tuhan Yesus baginya. Tujuh bulan kemudian ia meninggal pada saat menyanyikan puji-pujian bersama keluarganya. Kisah berikut ini menyatakan apa yang telah dialaminya di sorga.
Ketika memasuki alam tidak sadar, kemampuan Marietta melihat dunia lahiriah hilang, dan seakan-akan ia mengambang di atas suatu bidang yang sangat luas. Tiba-tiba datanglah seorang malaikat yang menyambut dia dan menuntun dia menjelajahi sorga.
Ia dibawa ke kota Damai Sejahtera, kota yang bersinar terang, penuh cahaya berkilauan. Ia merasa tidak layak untuk memasuki tempat yang dipenuhi kemuliaan sehebat itu. Para malaikat membawanya kepada seorang Pribadi yang begitu mulia, yang mengenakan mahkota terang. Ia begitu indah sehingga Marietta tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk mengekspresikannya.
Salah satu malaikat itu berkata kepadanya bahwa Pribadi itu adalah Penebusnya yang telah mati baginya di kayu salib. Marietta sujud di hadapan-Nya. Ia mengulurkan tangan-Nya kepada Marietta sambil berkata dengan penuh sukacita. Tuhan Yesus memanggil Marietta sebagai anak-Nya dan menyambutnya, sambil mengajak orang-orang yang ada di sekelilingnya untuk menerima Marietta sebagai teman.
Para malaikat yang telah menyembah Dia, bangkit dan dengan rendah hati menyambut Marietta dan kemudian mereka bersama mulai menyanyikan puji-pujian bagi Dia yang adalah Anak Domba Allah.
Note: Kisah ini diambil dari buku ”Kami Melihat Sorga”
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, May 10, 2007
Dibayar Mahal
Seorang ibu, orang Manado, katakan saja namanya Vonny, bercerita tentang harga yang harus dibayar karena di masa mudanya ia hidup bebas. Vonny muda begitu bebas dalam pergaulan, sehingga suatu kali ia hamil di luar nikah. Ia ditinggal pacarnya yang tak mau bertanggung jawab. Bayi yang dikandungnya tetap ia jaga sampai kelahirannya. Ia bertobat kepada Tuhan, memohon ampun atas segala dosa-dosanya, dan menjalani kehidupan baru dalam kekudusan. Memang ia sudah diampuni, namun akibat-akibat dosanya ia harus tanggung.
Sejak saat itu Vonny membesarkan bayinya sebagai Single Parent. Ia bekerja keras membesarkan anak perempuannya. Selama 10 tahun terakhir ini ia bekerja di Jepang dan baru kembali beberapa saat yang lalu. Anak perempuannya tumbuh besar dalam perlindungan kuasa kasih Kristus, sehingga anak ini dijauhkan dari pergaulan buruk, tidak seperti ibunya dahulu. Anaknya kuliah di Unika Atmajaya, lulus dari jurusan Sastra Inggris. Sayangnya, ketika anak perempuan yang dikasihinya lulus dan diwisuda sarjana, Vonny tidak dapat hadir di Jakarta, namun ia berdoa mengucapkan syukur atas kelulusan anaknya dari Atmajaya. Perlindungan dan kasih Tuhan terus ada pada keluarga Vonny. Anak perempuannya kemudian menikah, dan Selasa malam yang lalu melahirkan bayi sehat dan sempurna. Vonny bersyukur kepada Tuhan.
Sebagai single parent Vonny merasakan kerasnya kehidupan ini. Ia sering dilecehkan. Ia sering ditolak lingkungan. Ia sering dicuekkin orang. Namun dalam segala hal itu dia terus dikuatkan oleh Firman Tuhan dari kitab Yosua 1: 7- 9 : ”Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi." Melalui segala pergumulan kehidupan, Vonny selalu dikuatkan oleh kasih karunia Tuhan. Ia tahu betapa besar harga yang harus dibayar akibat kelalaiannya semasa muda. Ia hidup bertarak, tidak menikah lagi, dan konsentrasi membesarkan anak saja. Sekarang ia melihat kebaikan Tuhan dinyatakan dalam kehidupannya.
Selama di Jepang Vonny aktif melayani di sebuah gereja injili yang interdenominasi. Banyak suka duka dalam pelayanan ia harus alami. Pelayanannya dimulai dari sebagai usher di dalam ibadah raya. Tanggung jawab sebagai usher kadang-kadang menimbulkan kekecewaan juga karena tidak semua orang yang ia salami memberikan respon yang diinginkan. Ada orang yang disalami, namun sambil membuang muka. Atau ada orang yang menyalami, sambil ngobrol dengan orang lain. "Wah, jadi usher saja tidak gampang lho!" demikian pengakuan Vonny. "Namun dalam menghadapi semua itu saya tetap menjaga kasih saya terhadap semua orang." lanjut Vonny menjelaskan.
Sekarang Vonny tentu saja menikmati kehadiran sang cucu yang lucu dan menggemaskan. Masa lalu yang kelam sudah Tuhan ubahkan menjadi kehidupan yang penuh kasih, sukacita dan damai sejahtera. Puji Tuhan!
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sejak saat itu Vonny membesarkan bayinya sebagai Single Parent. Ia bekerja keras membesarkan anak perempuannya. Selama 10 tahun terakhir ini ia bekerja di Jepang dan baru kembali beberapa saat yang lalu. Anak perempuannya tumbuh besar dalam perlindungan kuasa kasih Kristus, sehingga anak ini dijauhkan dari pergaulan buruk, tidak seperti ibunya dahulu. Anaknya kuliah di Unika Atmajaya, lulus dari jurusan Sastra Inggris. Sayangnya, ketika anak perempuan yang dikasihinya lulus dan diwisuda sarjana, Vonny tidak dapat hadir di Jakarta, namun ia berdoa mengucapkan syukur atas kelulusan anaknya dari Atmajaya. Perlindungan dan kasih Tuhan terus ada pada keluarga Vonny. Anak perempuannya kemudian menikah, dan Selasa malam yang lalu melahirkan bayi sehat dan sempurna. Vonny bersyukur kepada Tuhan.
Sebagai single parent Vonny merasakan kerasnya kehidupan ini. Ia sering dilecehkan. Ia sering ditolak lingkungan. Ia sering dicuekkin orang. Namun dalam segala hal itu dia terus dikuatkan oleh Firman Tuhan dari kitab Yosua 1: 7- 9 : ”Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi." Melalui segala pergumulan kehidupan, Vonny selalu dikuatkan oleh kasih karunia Tuhan. Ia tahu betapa besar harga yang harus dibayar akibat kelalaiannya semasa muda. Ia hidup bertarak, tidak menikah lagi, dan konsentrasi membesarkan anak saja. Sekarang ia melihat kebaikan Tuhan dinyatakan dalam kehidupannya.
Selama di Jepang Vonny aktif melayani di sebuah gereja injili yang interdenominasi. Banyak suka duka dalam pelayanan ia harus alami. Pelayanannya dimulai dari sebagai usher di dalam ibadah raya. Tanggung jawab sebagai usher kadang-kadang menimbulkan kekecewaan juga karena tidak semua orang yang ia salami memberikan respon yang diinginkan. Ada orang yang disalami, namun sambil membuang muka. Atau ada orang yang menyalami, sambil ngobrol dengan orang lain. "Wah, jadi usher saja tidak gampang lho!" demikian pengakuan Vonny. "Namun dalam menghadapi semua itu saya tetap menjaga kasih saya terhadap semua orang." lanjut Vonny menjelaskan.
Sekarang Vonny tentu saja menikmati kehadiran sang cucu yang lucu dan menggemaskan. Masa lalu yang kelam sudah Tuhan ubahkan menjadi kehidupan yang penuh kasih, sukacita dan damai sejahtera. Puji Tuhan!
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, May 9, 2007
Pendeta yang Menjadi Pemegang Saham
Kisah ini diceritakan oleh Ps. Kong, Senior Pastor di gereja City Blessing Jakarta. Beliau pada suatu saat diundang untuk datang ke kantor suatu perusahaan. Dikiranya Ps. Kong diminta untuk mendoakan dan memberkati perusahaan itu.
Ketika diajak masuk ke ruang rapat sang pemegang saham, pemilik usaha itu menyatakan bahwa Ps. Kong diberi saham kosong di perusahaan itu sekian persen, agar dividen dari keuntungan perusahaan itu dapat digunakan untuk pekerjaan di ladang Tuhan.
"Wah, puji Tuhan!" seru Ps. Kong gembira dan 'surprised'.
Ini membuktikan bahwa sekarang telah bangkit para pengusaha yang menyadari perannya sebagai bendahara Tuhan di kerajaan Allah di bumi ini. Uang dan harta kekayaan perusahaan sesungguhnya adalah milik Tuhan dan kita hanya dipercaya untuk mengelola bagi kemuliaan nama Tuhan. Adalah keputusan Tuhan untuk menggunakan uang itu ke mana Ia mau.
Saham yang dimiliki Ps Kong tidak membuat hatinya berada di saham itu. Saham itu dan dividennya bukan untuk kepentingan dirinya, tapi untuk kepentingan Kerajaan-Nya.
Ketika diajak masuk ke ruang rapat sang pemegang saham, pemilik usaha itu menyatakan bahwa Ps. Kong diberi saham kosong di perusahaan itu sekian persen, agar dividen dari keuntungan perusahaan itu dapat digunakan untuk pekerjaan di ladang Tuhan.
"Wah, puji Tuhan!" seru Ps. Kong gembira dan 'surprised'.
Ini membuktikan bahwa sekarang telah bangkit para pengusaha yang menyadari perannya sebagai bendahara Tuhan di kerajaan Allah di bumi ini. Uang dan harta kekayaan perusahaan sesungguhnya adalah milik Tuhan dan kita hanya dipercaya untuk mengelola bagi kemuliaan nama Tuhan. Adalah keputusan Tuhan untuk menggunakan uang itu ke mana Ia mau.
Saham yang dimiliki Ps Kong tidak membuat hatinya berada di saham itu. Saham itu dan dividennya bukan untuk kepentingan dirinya, tapi untuk kepentingan Kerajaan-Nya.
Pertobatan Seorang Penjudi dan Pezinah
Pada hari Minggu malam, 6 Mei 2007 yang lalu seorang pria yang baru mengikuti Camp Pembinaan Pria Sejati (Men’s Camp) ribut besar dengan isterinya. Pria ini yang dengan penuh semangat mengaku segala dosa perjudian dan perselingkuhannya menghadapi kekecewaan dan kemarahan isterinya. Tidak disangka isterinya, suaminya main cewek setiap hari tanpa sepengetahuannya. Bahkan beberapa minggu yang lalu pria ini “kepatil” (kena penyakit kelamin). Ia sungguh-sungguh mau bertobat dari kehidupannya yang rusak. Tapi bukan sambutan yang baik yang ia terima, malahan isterinya marah besar. Isteri mana sih yang tidak marah besar menghadapi suami yang selingkuh?
Pria ini, katakan saja namanya Asiong, memang dari sebelum menikah sudah biasa main cewek di luaran. Ayahnya dan kakeknya juga termasuk pria yang tidak setia terhadap satu isteri, biasa selingkuh. Rupanya penyakit keturunan. Asiong berkilah, ia suka jajan perempuan di luar karena ia tidak bisa menikmati hubungan intim dengan isterinya karena ia harus pakai kondom. Kenapa pakai kondom? Karena ia trauma melihat isterinya yang melahirkan dengan susah payah dan hampir merenggut nyawanya dan ia menjaga agar isterinya tidak punya anak lagi. Tapi sebenarnya itu hanya dalih pembenaran saja. Ia menikmati perselingkuhan itu dan sangat terikat sehingga ia tidak bisa melepaskan diri dari dosa perzinahan itu.
Li Hwa, nama samaran isterinya, sangat kecewa terhadap Asiong. Waktu pacaran sebenarnya ada tiga lelaki yang mendekatinya, termasuk Asiong. Dua pria lainnya jauh lebih baik dari Asiong yang waktu pacaran saja sudah ringan tangan terhadapnya, suka memukul dan menampar. Li Hwa heran, kenapa ya, akhirnya dia memilih Asiong, padahal dua pria lainnya lebih dari Asiong? ”Jodoh, kali,” pikirnya. Memang waktu ayah Li Hwa meninggal, di depan peti jenazah ayahnya itu, Asiong berjanji untuk tidak memukul isterinya lagi, tapi ternyata janji tinggal janji, karena Asiong belum lahir baru. Janji itu tidak dapat dipenuhi dengan kekuatan sendiri sementara manusia lama, manusia yang egois, belum mati dalam diri Asiong.
Bukan itu saja, Asiong juga hobi berjudi. Bahkan selama di Men’s Camp ia tetap main judi bola via telpon. Selama Men’s Camp itu tak ada khotbah yang mengena di hatinya. Ia yang berasal dari kepercayaan leluhur tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Coach di retreat Pria Sejati itu. Asiong baru menangis, ketika mendengar kesaksian-kesaksian dari peserta retreat yang lain. Selama hidupnya Asiong jarang menangis, ia orang yang keras hati, makanya ia sering memukuli isterinya.
Salah seorang peserta Camp itu bercerita tentang keluarganya. Pria ini mengaku betapa ia kecewa terhadap Tuhan karena pada waktu kelahiran anak perempuannya, isterinya meninggal dan bayi prematur yang butuh biaya besar untuk perawatannya malah dapat diselamatkan. Pada waktu proses kelahiran itu sebenarnya ia sudah menyatakan kepada dokter kandungan, agar isterinya dapat diselamatkan dan merelakan kalau anak prematurnya itu tidak dapat bertahan hidup. Yang terjadi, isterinya meninggal, anak perempuannya hidup tapi butuh biaya besar untuk mempertahankan kehidupannya. Padahal keadaan keuangan pria ini pas-pasan, sehingga ia menyatakan tidak sanggup lagi membiayai perawatan bayinya di ruang ICU.
”Kalau dokter mau mencabut peralatan yang menyangga kehidupan anak itu, silakan saja, karena saya sudah tidak mampu bayar!”
”Tidak bisa begitu! Kami tidak mau membunuh bayi ini.” kata dokternya.
”Ya, sudah, saya yang mencabut peralatan ini!” kata sang pria ini frustrasi.
Sesuatu yang ajaib terjadi. Walaupun semua peralatan dicabut, ternyata bayi ini bisa bertahan hidup sampai esok harinya, namun dengan kondisi yang mengenaskan. Melihat hal itu sang pria ini mengizinkan dokter memasang peralatan kembali dan mencari dana dengan segala cara, karena ia melihat bayi perempuan ini saja mau berjuang mempertahankan kehidupannya, kenapa ayahnya gampang menyerah begitu?
Kisah itu membuat Asiong menangis. Ia melihat pria ini sangat menghargai isterinya, sangat menghargai anaknya. Sedangkan Asiong? Ia menyia-nyiakan isterinya. Ia menyia-nyiakan dua orang anaknya. Hati Asiong dijamah kasih Bapa. Ia dipenuhi dengan perasaan kasih yang berkobar-kobar terhadap isterinya. Ia mau bertobat. Ia mau meninggalkan kehidupannya yang lama. Ia tidak mau anak cucunya sama seperti dirinya, seperti ayahnya, seperti kakeknya dan seperti nenek moyangnya yang terikat dosa seksual. Ia tidak mau anak-anaknya diperbudak dosa judi dan dosa perzinahan. Oleh karena itu Asiong ingin menyelesaikan masalah keluarga ini dengan mengaku segala dosanya kepada Tuhan dan kepada isterinya. Ia tidak ingin iblis mendapat keuntungan dari dosa yang ditutup-tutupi. Di bawah terang kebenaran, dosa perzinahan dan dosa perjudiannya ingin diselesaikan dengan tuntas. Ia mengaku dosa kepada isterinya dan isterinya ngamuk, marah, kecewa, sakit hati. Minggu malam itu mereka bertengkar hebat. Isterinya tidak siap menerima kenyataan pahit itu.
Asiong menelpon seorang teman saya dan mengabarkan kejadian itu dan meminta teman saya ini mendoakan mereka. Tentu saja teman saya berdoa dengan isterinya agar Tuhan menolong isterinya mengampuni suaminya dan menerima pemulihan dalam keluarga itu. Setelah berdoa, teman saya pikir, mereka harus menemui keluarga Asiong, tapi bagaimana? Mereka tidak mau dianggap ikut campur dalam keluarga Asiong tanpa diminta advisnya. Teman saya ini berdoa kepada Tuhan agar Tuhan buka jalan sehingga mereka bisa melayani Asiong dan keluarganya.
Tiba-tiba Asiong menelpon teman saya.
“John, tolong dong bawain obat anti sariawan buat anak gua!”
“Lho, koq gak bicara soal pertengkaran dan gak ada permintaan bantuan dari Asiong?”
Tetapi, John (nama samaran), melihat anugerah Tuhan di sini. Kalau tadi Asiong telpon dan menanyakan punya obat sariawan apa, maka John tidak bakalan datang ke rumah Asiong. Sesampai di rumah Asiong, John dan isterinya memberikan obat sariawan itu.
“Obat yang ini sih, gua udah punya, John!” Namun karena John dan isterinya terlanjur sudah datang ke rumahnya, maka Asiong bercerita tentang kemelut di rumah tangganya gara-gara pengakuan dosa Asiong. John dan isterinya menemui Li Hwa, isteri Asiong di kamar tidurnya. John dan isterinya mendengarkan keluh kesah Li Hwa yang curhat habis-habisan di hadapan John dan isterinya.
John bilang, ”Li Hwa, inilah waktunya kalian menerima pemulihan total. Ingat anak-anak. Kalau Asiong gak bertobat, anak-anak ini terus hidup dalam kutuk keturunan, hidup dalam perbudakan dosa judi dan perzinahan. Apakah kamu mau anak-anakmu seperti Asiong dulu? Ayo, biarpun kamu sekarang belum dapat mengampuni Asiong, yang penting kamu mau dulu, mau mengampuninya, nanti Tuhan beri kamu kemampuan untuk mengampuni!”
Setelah emosi Li Hwa reda, John yang sudah siap untuk melayani mereka dan juga membawa gitar, mengajak mereka menyembah Tuhan karena John tahu, hanya Tuhan yang dapat membalut luka hati Li Hwa, dan memulihkan hatinya, serta memampukan Li Hwa untuk mengampuni Asiong.
Mereka menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh. Satu lagu lewat, dua lagu lewat dan tiba-tiba kasih Bapa turun dari sorga. Suasana di kamar tidur itu penuh hadirat Tuhan. Kasih Tuhan mengalir ke hati Li Hwa bagai hujan yang deras. John yang melihat Asiong menggenggam tangan isterinya, minta ampun, mendorong Li Hwa untuk memeluk suaminya. Mulanya Li Hwa mengeraskan hati, namun ketika mereka terus menyembah Tuhan, meledaklah tangis Li Hwa sambil memeluk suaminya. Kasih dan pengampunan Bapa mengalir memenuhi Li Hwa sehingga ia tidak tahan untuk tidak mengasihi dan mengampuni suaminya. Asiong dan Li Hwa berpelukan dan bertangis-tangisan. Mereka akhirnya bersyukur karena keluarga ini dipulihkan. Puji Tuhan! Bukan itu saja, Asiong dan isterinya bersedia menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi mereka dan dalam waktu dekat ini akan menerima pelayanan sakramen Baptisan Air.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Pria ini, katakan saja namanya Asiong, memang dari sebelum menikah sudah biasa main cewek di luaran. Ayahnya dan kakeknya juga termasuk pria yang tidak setia terhadap satu isteri, biasa selingkuh. Rupanya penyakit keturunan. Asiong berkilah, ia suka jajan perempuan di luar karena ia tidak bisa menikmati hubungan intim dengan isterinya karena ia harus pakai kondom. Kenapa pakai kondom? Karena ia trauma melihat isterinya yang melahirkan dengan susah payah dan hampir merenggut nyawanya dan ia menjaga agar isterinya tidak punya anak lagi. Tapi sebenarnya itu hanya dalih pembenaran saja. Ia menikmati perselingkuhan itu dan sangat terikat sehingga ia tidak bisa melepaskan diri dari dosa perzinahan itu.
Li Hwa, nama samaran isterinya, sangat kecewa terhadap Asiong. Waktu pacaran sebenarnya ada tiga lelaki yang mendekatinya, termasuk Asiong. Dua pria lainnya jauh lebih baik dari Asiong yang waktu pacaran saja sudah ringan tangan terhadapnya, suka memukul dan menampar. Li Hwa heran, kenapa ya, akhirnya dia memilih Asiong, padahal dua pria lainnya lebih dari Asiong? ”Jodoh, kali,” pikirnya. Memang waktu ayah Li Hwa meninggal, di depan peti jenazah ayahnya itu, Asiong berjanji untuk tidak memukul isterinya lagi, tapi ternyata janji tinggal janji, karena Asiong belum lahir baru. Janji itu tidak dapat dipenuhi dengan kekuatan sendiri sementara manusia lama, manusia yang egois, belum mati dalam diri Asiong.
Bukan itu saja, Asiong juga hobi berjudi. Bahkan selama di Men’s Camp ia tetap main judi bola via telpon. Selama Men’s Camp itu tak ada khotbah yang mengena di hatinya. Ia yang berasal dari kepercayaan leluhur tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Coach di retreat Pria Sejati itu. Asiong baru menangis, ketika mendengar kesaksian-kesaksian dari peserta retreat yang lain. Selama hidupnya Asiong jarang menangis, ia orang yang keras hati, makanya ia sering memukuli isterinya.
Salah seorang peserta Camp itu bercerita tentang keluarganya. Pria ini mengaku betapa ia kecewa terhadap Tuhan karena pada waktu kelahiran anak perempuannya, isterinya meninggal dan bayi prematur yang butuh biaya besar untuk perawatannya malah dapat diselamatkan. Pada waktu proses kelahiran itu sebenarnya ia sudah menyatakan kepada dokter kandungan, agar isterinya dapat diselamatkan dan merelakan kalau anak prematurnya itu tidak dapat bertahan hidup. Yang terjadi, isterinya meninggal, anak perempuannya hidup tapi butuh biaya besar untuk mempertahankan kehidupannya. Padahal keadaan keuangan pria ini pas-pasan, sehingga ia menyatakan tidak sanggup lagi membiayai perawatan bayinya di ruang ICU.
”Kalau dokter mau mencabut peralatan yang menyangga kehidupan anak itu, silakan saja, karena saya sudah tidak mampu bayar!”
”Tidak bisa begitu! Kami tidak mau membunuh bayi ini.” kata dokternya.
”Ya, sudah, saya yang mencabut peralatan ini!” kata sang pria ini frustrasi.
Sesuatu yang ajaib terjadi. Walaupun semua peralatan dicabut, ternyata bayi ini bisa bertahan hidup sampai esok harinya, namun dengan kondisi yang mengenaskan. Melihat hal itu sang pria ini mengizinkan dokter memasang peralatan kembali dan mencari dana dengan segala cara, karena ia melihat bayi perempuan ini saja mau berjuang mempertahankan kehidupannya, kenapa ayahnya gampang menyerah begitu?
Kisah itu membuat Asiong menangis. Ia melihat pria ini sangat menghargai isterinya, sangat menghargai anaknya. Sedangkan Asiong? Ia menyia-nyiakan isterinya. Ia menyia-nyiakan dua orang anaknya. Hati Asiong dijamah kasih Bapa. Ia dipenuhi dengan perasaan kasih yang berkobar-kobar terhadap isterinya. Ia mau bertobat. Ia mau meninggalkan kehidupannya yang lama. Ia tidak mau anak cucunya sama seperti dirinya, seperti ayahnya, seperti kakeknya dan seperti nenek moyangnya yang terikat dosa seksual. Ia tidak mau anak-anaknya diperbudak dosa judi dan dosa perzinahan. Oleh karena itu Asiong ingin menyelesaikan masalah keluarga ini dengan mengaku segala dosanya kepada Tuhan dan kepada isterinya. Ia tidak ingin iblis mendapat keuntungan dari dosa yang ditutup-tutupi. Di bawah terang kebenaran, dosa perzinahan dan dosa perjudiannya ingin diselesaikan dengan tuntas. Ia mengaku dosa kepada isterinya dan isterinya ngamuk, marah, kecewa, sakit hati. Minggu malam itu mereka bertengkar hebat. Isterinya tidak siap menerima kenyataan pahit itu.
Asiong menelpon seorang teman saya dan mengabarkan kejadian itu dan meminta teman saya ini mendoakan mereka. Tentu saja teman saya berdoa dengan isterinya agar Tuhan menolong isterinya mengampuni suaminya dan menerima pemulihan dalam keluarga itu. Setelah berdoa, teman saya pikir, mereka harus menemui keluarga Asiong, tapi bagaimana? Mereka tidak mau dianggap ikut campur dalam keluarga Asiong tanpa diminta advisnya. Teman saya ini berdoa kepada Tuhan agar Tuhan buka jalan sehingga mereka bisa melayani Asiong dan keluarganya.
Tiba-tiba Asiong menelpon teman saya.
“John, tolong dong bawain obat anti sariawan buat anak gua!”
“Lho, koq gak bicara soal pertengkaran dan gak ada permintaan bantuan dari Asiong?”
Tetapi, John (nama samaran), melihat anugerah Tuhan di sini. Kalau tadi Asiong telpon dan menanyakan punya obat sariawan apa, maka John tidak bakalan datang ke rumah Asiong. Sesampai di rumah Asiong, John dan isterinya memberikan obat sariawan itu.
“Obat yang ini sih, gua udah punya, John!” Namun karena John dan isterinya terlanjur sudah datang ke rumahnya, maka Asiong bercerita tentang kemelut di rumah tangganya gara-gara pengakuan dosa Asiong. John dan isterinya menemui Li Hwa, isteri Asiong di kamar tidurnya. John dan isterinya mendengarkan keluh kesah Li Hwa yang curhat habis-habisan di hadapan John dan isterinya.
John bilang, ”Li Hwa, inilah waktunya kalian menerima pemulihan total. Ingat anak-anak. Kalau Asiong gak bertobat, anak-anak ini terus hidup dalam kutuk keturunan, hidup dalam perbudakan dosa judi dan perzinahan. Apakah kamu mau anak-anakmu seperti Asiong dulu? Ayo, biarpun kamu sekarang belum dapat mengampuni Asiong, yang penting kamu mau dulu, mau mengampuninya, nanti Tuhan beri kamu kemampuan untuk mengampuni!”
Setelah emosi Li Hwa reda, John yang sudah siap untuk melayani mereka dan juga membawa gitar, mengajak mereka menyembah Tuhan karena John tahu, hanya Tuhan yang dapat membalut luka hati Li Hwa, dan memulihkan hatinya, serta memampukan Li Hwa untuk mengampuni Asiong.
Mereka menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh. Satu lagu lewat, dua lagu lewat dan tiba-tiba kasih Bapa turun dari sorga. Suasana di kamar tidur itu penuh hadirat Tuhan. Kasih Tuhan mengalir ke hati Li Hwa bagai hujan yang deras. John yang melihat Asiong menggenggam tangan isterinya, minta ampun, mendorong Li Hwa untuk memeluk suaminya. Mulanya Li Hwa mengeraskan hati, namun ketika mereka terus menyembah Tuhan, meledaklah tangis Li Hwa sambil memeluk suaminya. Kasih dan pengampunan Bapa mengalir memenuhi Li Hwa sehingga ia tidak tahan untuk tidak mengasihi dan mengampuni suaminya. Asiong dan Li Hwa berpelukan dan bertangis-tangisan. Mereka akhirnya bersyukur karena keluarga ini dipulihkan. Puji Tuhan! Bukan itu saja, Asiong dan isterinya bersedia menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi mereka dan dalam waktu dekat ini akan menerima pelayanan sakramen Baptisan Air.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, May 2, 2007
Kisah Todd Bentley
Hampir seperti orang mabuk karena kegembiraan, ia bergegas menuruni tangga ke arah apartemennya, menyalakan lampu dan melemparkan dirinya ke lantai, mengangkat tangannya ke langit untuk berdoa. Ia tak punya waktu untuk mandi atau makan. Sesuatu telah terjadi pada diri Todd Bentley yang waktu itu berusia 18 tahun - ia sekarang berdoa dan membaca Alkitab antara empat sampai dua belas jam setiap hari. "Jujur saja, saya tidak pernah menyangka bahwa Todd akan sanggup melewati masa remajanya," kata David Bentley, ayah Todd. Sekarang Todd berusia 31 tahun. Setelah berkhotbah selama 4 tahun, ia menjadi salah satu penginjil profetik terbesar di dunia, dan daftar kesembuhan dan mukjizat-mukjizat yang sudah dikonfirmasikan sangat mengesankan. Seorang wanita yang telah lumpuh selama 14 tahun dan hampir mati melompat dari kursi roda yang semula membawanya, disembuhkan dengan sempurna. "Itu sungguh luar biasa," kata Art Beckwith, seorang pendeta di Pharr, Texas. "Saya tidak pernah melihat hal-hal seperti ini sebelumnya."
Todd Bentley, anak satu-satunya, lahir di dekat Vancouver pada tahun 1976. Ketika berusia 3 tahun, kedua orang-tuanya bercerai, dan ia dibesarkan oleh ibunya, yang kemudian kehilangan pendengarannya setelah perceraian itu. Ayahnya menghilang tanpa jejak. Pada umur 11, Todd minum rum milik ibunya sampai mabuk tak sadarkan diri, dan kemudian dipecat dari sekolah karena tindakan-tindakan kekerasannya, dan berakhir di penjara selama 14 bulan. Setelah dibebaskan, ia berpindah dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain sampai akhirnya tidak punya tempat berteduh lagi. Akhirnya ia menemukan ayahnya di jalanan Vancouver. Pada umur 17 ia dilarikan ke Rumah Sakit dalam keadaan tak sadarkan diri, setelah menenggak sekantung pil narkoba. Setelah isi perutnya dipompa keluar , para dokter percaya bahwa anak muda ini bakal mati dalam beberapa menit saja.
Kehidupan Todd sebagai orang percaya dimulai ketika terdengar gedoran di dinding apartemen di pinggiran pantai daerah British Columbia. Tadinya ia mengira ada polisi datang, namun seseorang bertubuh besar dengan Alkitabnya menyerbu masuk. Pria ini adalah mantan pecandu narkoba dan teman seorang pedagang narkoba. Ia segera berkhotbah.
"Itu adalah khotbah yang paling mengerikan tentang sorga dan neraka," kenang Todd. Akhirnya ia tak tahan lagi dan berseru, "Hentikan! Cukup!" Pria besar itu cuma melemparkan Alkitabnya ke pangkuan Todd, menyuruhnya menutup mata, menyuruh jari Todd menunjukkan ke ayat di Alkitab, dan membaca apa yang ditunjukkan jari itu. Ayat itu berbunyi: "Dengarkan sekarang!" Todd diam terpaku. "Sesuatu seperti takut akan Allah menguasaiku. Itu adalah hari ketika saya dilahirkan kembali." kata Todd. Hasrat dan nafsunya terhadap narkoba hilang dan berhenti sama sekali. Selama beberapa bulan berikutnya ia berdoa berjam-jam, sambil menangis. "Tuhan Yesus mengatakan bahwa siapa yang mencari Dia dengan sungguh sungguh akan menemukan Dia. Itulah yang membuat saya kelaparan.."
Setelah diselamatkan pada usia 17 tahun, Todd Bentley berkeliling di jalan-jalan setiap hari Jumat, menceritakan kepada para pecandu narkoba tentang pengalaman bersama Tuhan Yesus yang mengubah hidupnya. Bukan hanya itu saja, tetapi ia juga mulai memberikan pernyataan-pernyataan profetik pada kehidupan mereka sendiri, dengan hasil yaitu banyak orang yang diselamatkan. Setelah beberapa saat, ia segera ingin berkhotbah, namun ia berkata terhadap dirinya, ”Hentikan! Ini mungkin hanya keinginan diri saya saja. Siapa saya ini? Mantan pecandu narkoba!” Hari ini, hanya setelah 10 tahun pelayanan khotbah di depan umum, ia berkhotbah antara 30 sampai 50 kali setiap bulan di kelompok-kelompok pendalaman Alkitab, di rumah-rumah atau di stadion yang menampung sampai 100.000 orang. Ia berkhotbah di gereja Lutheran, Katholik, juga di gereja-gereja Pentakosta dan kebanyakan mengundangnya untuk datang berkhotbah lagi.
Akhirnya ayah Todd berkata, ”Aku ingin memiliki apa yang Todd miliki.” Dan ia diselamatkan melalui pelayanan anaknya. Ia juga sekarang menyaksikan orang-orang disembuhkan melalui doa. “Saya berdoa bagi seorang wanita yang duduk di kursi roda dan ia dapat berjalan. Selama hidup saya, saya mau menjadi bagian dari gereja Perjanjian Baru,” kata Drown, seorang usahawan dari Atlanta yang kini menjadi staff Todd. “Saya telah menjadi orang Kristen selama 30 tahun, tetapi saya kehilangan iman justru di gereja karena di sana cuma omong doang. Todd mengajarkan saya betapa pentingnya kelaparan untuk mencari Allah.”
Todd Bentley yang selalu memakai jins dan anting-anting, tidak tampak seperti yang diharapkan banyak orang. ”Keberhasilan Todd juga menuai olok-olok, khususnya dari mereka yang tersinggung melihat gaya penampilannya. Namun banyak orang menganggapnya seorang bintang. Semua hal itu tidak berpengaruh terhadap Todd, ia tetap rendah hati dan tidak terpengaruh oleh keberhasilannya,” kata Ken Greter, teman pelayanan Todd di Abbotsford, British Columbia (Canada), dimana Todd Bentley tinggal di rumah seperti kebanyakan orang lain, bersama isterinya Shoonah dan anak-anaknya yang berumur 5, 3, dan 1 tahun.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sumber: Charisma Magazine; Todd Bentley http://www.thearc.bc.ca
EMail: todd@freshfire.ca ; Tel (+1) 866-853-9041;
=======================================================
TODD BENTLEY akan melayani Batam dan Jakarta. KKR di Jakarta diadakan di Gading Auto Lt. 1 pada tgl 11-12 Mei 2007 jam 18.00. Informasi lebih lanjut hubungi : 5220878 (Jo/Nita)
Todd Bentley, anak satu-satunya, lahir di dekat Vancouver pada tahun 1976. Ketika berusia 3 tahun, kedua orang-tuanya bercerai, dan ia dibesarkan oleh ibunya, yang kemudian kehilangan pendengarannya setelah perceraian itu. Ayahnya menghilang tanpa jejak. Pada umur 11, Todd minum rum milik ibunya sampai mabuk tak sadarkan diri, dan kemudian dipecat dari sekolah karena tindakan-tindakan kekerasannya, dan berakhir di penjara selama 14 bulan. Setelah dibebaskan, ia berpindah dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain sampai akhirnya tidak punya tempat berteduh lagi. Akhirnya ia menemukan ayahnya di jalanan Vancouver. Pada umur 17 ia dilarikan ke Rumah Sakit dalam keadaan tak sadarkan diri, setelah menenggak sekantung pil narkoba. Setelah isi perutnya dipompa keluar , para dokter percaya bahwa anak muda ini bakal mati dalam beberapa menit saja.
Kehidupan Todd sebagai orang percaya dimulai ketika terdengar gedoran di dinding apartemen di pinggiran pantai daerah British Columbia. Tadinya ia mengira ada polisi datang, namun seseorang bertubuh besar dengan Alkitabnya menyerbu masuk. Pria ini adalah mantan pecandu narkoba dan teman seorang pedagang narkoba. Ia segera berkhotbah.
"Itu adalah khotbah yang paling mengerikan tentang sorga dan neraka," kenang Todd. Akhirnya ia tak tahan lagi dan berseru, "Hentikan! Cukup!" Pria besar itu cuma melemparkan Alkitabnya ke pangkuan Todd, menyuruhnya menutup mata, menyuruh jari Todd menunjukkan ke ayat di Alkitab, dan membaca apa yang ditunjukkan jari itu. Ayat itu berbunyi: "Dengarkan sekarang!" Todd diam terpaku. "Sesuatu seperti takut akan Allah menguasaiku. Itu adalah hari ketika saya dilahirkan kembali." kata Todd. Hasrat dan nafsunya terhadap narkoba hilang dan berhenti sama sekali. Selama beberapa bulan berikutnya ia berdoa berjam-jam, sambil menangis. "Tuhan Yesus mengatakan bahwa siapa yang mencari Dia dengan sungguh sungguh akan menemukan Dia. Itulah yang membuat saya kelaparan.."
Setelah diselamatkan pada usia 17 tahun, Todd Bentley berkeliling di jalan-jalan setiap hari Jumat, menceritakan kepada para pecandu narkoba tentang pengalaman bersama Tuhan Yesus yang mengubah hidupnya. Bukan hanya itu saja, tetapi ia juga mulai memberikan pernyataan-pernyataan profetik pada kehidupan mereka sendiri, dengan hasil yaitu banyak orang yang diselamatkan. Setelah beberapa saat, ia segera ingin berkhotbah, namun ia berkata terhadap dirinya, ”Hentikan! Ini mungkin hanya keinginan diri saya saja. Siapa saya ini? Mantan pecandu narkoba!” Hari ini, hanya setelah 10 tahun pelayanan khotbah di depan umum, ia berkhotbah antara 30 sampai 50 kali setiap bulan di kelompok-kelompok pendalaman Alkitab, di rumah-rumah atau di stadion yang menampung sampai 100.000 orang. Ia berkhotbah di gereja Lutheran, Katholik, juga di gereja-gereja Pentakosta dan kebanyakan mengundangnya untuk datang berkhotbah lagi.
Akhirnya ayah Todd berkata, ”Aku ingin memiliki apa yang Todd miliki.” Dan ia diselamatkan melalui pelayanan anaknya. Ia juga sekarang menyaksikan orang-orang disembuhkan melalui doa. “Saya berdoa bagi seorang wanita yang duduk di kursi roda dan ia dapat berjalan. Selama hidup saya, saya mau menjadi bagian dari gereja Perjanjian Baru,” kata Drown, seorang usahawan dari Atlanta yang kini menjadi staff Todd. “Saya telah menjadi orang Kristen selama 30 tahun, tetapi saya kehilangan iman justru di gereja karena di sana cuma omong doang. Todd mengajarkan saya betapa pentingnya kelaparan untuk mencari Allah.”
Todd Bentley yang selalu memakai jins dan anting-anting, tidak tampak seperti yang diharapkan banyak orang. ”Keberhasilan Todd juga menuai olok-olok, khususnya dari mereka yang tersinggung melihat gaya penampilannya. Namun banyak orang menganggapnya seorang bintang. Semua hal itu tidak berpengaruh terhadap Todd, ia tetap rendah hati dan tidak terpengaruh oleh keberhasilannya,” kata Ken Greter, teman pelayanan Todd di Abbotsford, British Columbia (Canada), dimana Todd Bentley tinggal di rumah seperti kebanyakan orang lain, bersama isterinya Shoonah dan anak-anaknya yang berumur 5, 3, dan 1 tahun.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sumber: Charisma Magazine; Todd Bentley http://www.thearc.bc.ca
EMail: todd@freshfire.ca ; Tel (+1) 866-853-9041;
=======================================================
TODD BENTLEY akan melayani Batam dan Jakarta. KKR di Jakarta diadakan di Gading Auto Lt. 1 pada tgl 11-12 Mei 2007 jam 18.00. Informasi lebih lanjut hubungi : 5220878 (Jo/Nita)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"
Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."
Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan
- A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
- B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
- C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
- D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
- E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
- F. Bpk. Irsan
- G. Ir. Ciputra - Jakarta
- H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
- I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
- J. Beni Prananto - Pengusaha
- K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
- L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
- M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
- N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
- O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
- P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
- Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
- R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
- S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
- T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
- U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
- V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
- W. Fanny Irwanto - Jakarta
- X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
- Y. Ir. Junna - Jakarta
- Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
- ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
- ZB. Christine - Intercon - Jakarta
- ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
- ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
- ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
- ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
- ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
- ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
- ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
- ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
- ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
- ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
- ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
- ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
- ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
- ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
- ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
- ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
- ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
- ZU. Justanti - USAID - Makassar
- ZV. Welian - Tangerang
- ZW. Dwiyono - Karawaci
- ZX. Essa Pujowati - Jakarta
- ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
- ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
- ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
- ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
- ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
- ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
- ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
- ZZF. Julia Bing - Semarang
- ZZG. Rika - Tanjung Karang
- ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
- ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
- ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
- ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI