Rabu malam, 21 Februari 2007 ini, saya diundang seorang pengusaha India untuk memimpin acara pengucapan syukur dan pemberkatan rumah baru. Sanjay, katakanlah begitu saja, adalah seorang pengusaha di bidang pakaian pengantin model kebaya di ITC Cempaka Mas. Ia merintis usaha bahan tekstil mulanya setelah ia meninggalkan pekerjaannya yang lama sebagai salesman dari toko tekstil di bilangan Pasar Baru Jakarta. Lima tahun yang lalu ia membuka toko itu dengan modal seadanya. Waktu itu ia masih naik motor, masih ngontrak rumah. Waktu itu saya juga yang memimpin acara pemberkatan tokonya, sepetak toko kecil yang letaknya di pojok lantai lima ITC Cempaka Mas. Ternyata berkat Tuhan dilimpahkan kepada anak Tuhan yang setia dan takut akan Tuhan ini. Kini tokonya semakin diberkati dan berkembang tambah luas. Usahanya kini beralih ke pakaian kebaya pengantin, yang dikerjakan bersama isterinya.
Setelah belajar di sekolah desain Susan Budiardjo, isterinyalah yang sekarang mendesain pakaian pengantin itu.
Rumah yang baru ditempati ini cukup mewah, empat lantai, tidak kurang dari Rp. 1 milyard, terletak di sebuah kompleks perumahan di belakang Hotel Sun Lake Sunter. Di lantai teratas terdapat teras dengan gazebo yang nyaman untuk dipakai bermesra- mesraan oleh suami isteri itu. Mereka sangat berbahagia dengan kedua anak lelaki mereka.
Teman-teman seangkatan Sanjay, yang dulu sama-sama bekerja di toko tekstil Pasar Baru itu kini kaget melihat perubahan kehidupan Sanjay, yang pernah sama-sama hidup di dunia dugem bersama mereka. Mereka masih tetap karyawan, hidup pas-pasan dan masih suka minum-minum. Sanjay kini diberkati, punya rumah baru, bisnis yang berkembang pesat dan keluarga yang bahagia. Apa yang dikatakan pemazmur dalam Mazmur 128 digenapi dalam kehidupan Sanjay : "Diberkatilah orang laki-laki yang takut akan Tuhan ..."
Dimana-mana Tuhan sedang melakukan perbuatan-Nya yang besar, untuk melimpahkan kasih karunia yang dahsyat. Dimana-mana banyak orang mengalami mukjizat kehidupan yang nyata. Bagaimana dengan anda? Salah satu tuntunan untuk masuk kedalam kehidupan yang luar biasa dengan Tuhan terdapat dalam buku Mukjizat Kehidupan. Silakan pesan bukunya melalui SMS 08129716102 (sebutkan nama, alamat lengkap + RT/RW dan kode pos). Harga buku termasuk ongkos kirim di Jabodetabek = Rp. 40.000,-
Posted by : Hadi Kristadi for : http://pentas-kesaksian.blogspot.com
kesaksian hidup - #inspiring story - #kisah nyata - #mukjizat kehidupan - #sign and wonders - #miracles - inspirational christian story - nice story - true story - inspirational touching story - an amazing story: kisah orang biasa dengan pengalaman luar biasa - ordinary people living the extra-ordinary lives
Search This Blog
Wednesday, February 21, 2007
Menjadi Berkat
Albert sedang berkendaraan sepeda motor di sekitar Pejompongan ketika seorang pemuda bermotor menanyakan arah jalan ke Senen.
”Mau ke Senen?”
”Ya, ke arah mana ya?”
”Ya, udah, ikut saya saja karena saya juga ke arah sana. Tapi saya mau mampir dulu ke warung makan di depan sana. Ikut dulu ya?”
”Ya.”
Mereka berdua parkir motor dan masuk ke warung makan.
”Saya tunggu aja ya.” kata pemuda itu agak sungkan.
”Ayo, makan sama-sama aja.”
”Gak ah. Minum saja.”
”Memangnya sudah makan?”
”Belum.”
”Ya, kita pesan makanan aja, nanti saya yang bayar.”
”Gak usah pak. Saya minum aja.”
”Ah, gak apa-apa. Ayo, pesan makanan yang mana?”
”Bapak, orang mana sih? Saya asli Betawi dari Ciracas.”
”Oh, nama saya Albert, orang Batak, orang Kristen.”
”Nama saya Syahrul. Astagfirullah! Pak, kita ini baru kenalan, kok sudah menawari saya makan. Memang saya belum makan, abis uang Rp. 20 ribu tadi diminta polisi waktu saya kena tilang. Polisi itu sama-sama satu agama, tapi dia tega meminta uang Rp. 20 ribu yang saya punya.”
”Kan kita bersaudara?”
”Saudara? Kan baru kenal?”
”Ya, sama-sama ciptaan Tuhan, anak Adam, jadi bersaudara dong.”
”Astagfirullah, pak! Tadinya saya pikir orang Kristen dan Batak itu jahat – jahat.”
”Gak semua orang Batak 'kan?” kata Albert.
Si ibu yang menjual makananpun bilang, ”Ya, saya banyak dengar orang Batak jadi penjambret, penodong, tapi bapak ini kok mau membelikan makanan buat orang yang baru dikenalnya ya?”
”Ah, saya cuma membagi berkat dari Tuhan...”
”Tapi saya kan bukan apa-apanya bapak?”
”Kan kita saudara? Kita keluarga.”
”Astagfirullah? Keluarga, pak?”
”Ya, di dalam Tuhan, kita bersaudara, kita satu keluarga.”
”Wah, saya baru dengar, orang Kristen itu mengaku saudara kepada saya.”
Mulailah Syahrul cerita bahwa ia sedang dalam perjalanan ke Senen untuk diwawancara di perusahaan jasa perparkiran. Ia menceritakan bahwa anaknya baru jatuh dan ada gumpalan darah di otaknya yang perlu dioperasi agar tidak menyebabkan kelumpuhan. Isterinya juga mengidap tumor di dekat ketiaknya, perlu dioperasi. Dalam keadaan penuh kesulitan itu, tadi di jalan ia kena tilang, uang tinggal Rp. 20 ribu diminta polisi.
Itu adalah kejadian 1 tahun lalu. Minggu lalu Albert mendapat telpon dari Syahrul.
”Pak, masih ingat saya?”
”Siapa ya?”
”Syahrul, pak!”
”Syahrul yang mana ya?”
”Ingat tidak, sekitar tahun lalu saya ditolong bapak, diberi makan waktu saya mau ke Senen.”
”Oh, iya. Syahrul, gimana kabarnya?”
”Baik-baik aja, pak. Saya sudah diterima kerja jadi petugas di konter parkir. Tapi saya mau ketemu bapak nih.”
”Ada apa lagi ya?” pikir Albert.
Ternyata setelah ketemu Syahrul hanya ingin curhat. Dia menceritakan kehidupan belakangan ini. Dia bilang dia ingin belajar ilmu kesembuhan karena dia lihat orang Kristen disembuhkan dengan tumpang tangan atau didoakan saja. Dia ingin bisa seperti itu.
Dengan membangun hubungan ternyata banyak orang yang dapat bersahabat dengan kita, kalau kita peduli dengan mereka. Benjamin Franklin, salah seorang pendiri Amerika Serikat dengan sinis pernah berkata, ”Pemadam kebakaran lebih berguna daripada gereja.” Lalu seorang hamba Tuhan pernah berkata, ”Kalau gereja lenyap dari muka bumi ini, apakah ada orang yang kehilangan?” Kita adalah terang dan garam dunia, apabila terang dan garam itu tidak berfungsi, buat apa?” Di dalam buku Mukjizat Kehidupan diingatkan betapa kita tidak boleh hidup untuk diri kita sendiri, sudah waktunya gereja dan orang-orang percaya mendengar isi hati Bapa bagi dunia ini. Banyak pesan aktual dalam buku itu yang menunjukkan bagaimana kita akan mengalami mukjizat kehidupan yang nyata. Baca buku itu agar kita tahu bahwa Tuhan akan melakukan perkara-perkara besar melalui dan di dalam kita. Itulah mukjizat kehidupan yang menanti di depan kita, agar kita mengalaminya.
Posted by : Hadi Kristadi for: http://pentas-kesaksian.blogspot.com
”Mau ke Senen?”
”Ya, ke arah mana ya?”
”Ya, udah, ikut saya saja karena saya juga ke arah sana. Tapi saya mau mampir dulu ke warung makan di depan sana. Ikut dulu ya?”
”Ya.”
Mereka berdua parkir motor dan masuk ke warung makan.
”Saya tunggu aja ya.” kata pemuda itu agak sungkan.
”Ayo, makan sama-sama aja.”
”Gak ah. Minum saja.”
”Memangnya sudah makan?”
”Belum.”
”Ya, kita pesan makanan aja, nanti saya yang bayar.”
”Gak usah pak. Saya minum aja.”
”Ah, gak apa-apa. Ayo, pesan makanan yang mana?”
”Bapak, orang mana sih? Saya asli Betawi dari Ciracas.”
”Oh, nama saya Albert, orang Batak, orang Kristen.”
”Nama saya Syahrul. Astagfirullah! Pak, kita ini baru kenalan, kok sudah menawari saya makan. Memang saya belum makan, abis uang Rp. 20 ribu tadi diminta polisi waktu saya kena tilang. Polisi itu sama-sama satu agama, tapi dia tega meminta uang Rp. 20 ribu yang saya punya.”
”Kan kita bersaudara?”
”Saudara? Kan baru kenal?”
”Ya, sama-sama ciptaan Tuhan, anak Adam, jadi bersaudara dong.”
”Astagfirullah, pak! Tadinya saya pikir orang Kristen dan Batak itu jahat – jahat.”
”Gak semua orang Batak 'kan?” kata Albert.
Si ibu yang menjual makananpun bilang, ”Ya, saya banyak dengar orang Batak jadi penjambret, penodong, tapi bapak ini kok mau membelikan makanan buat orang yang baru dikenalnya ya?”
”Ah, saya cuma membagi berkat dari Tuhan...”
”Tapi saya kan bukan apa-apanya bapak?”
”Kan kita saudara? Kita keluarga.”
”Astagfirullah? Keluarga, pak?”
”Ya, di dalam Tuhan, kita bersaudara, kita satu keluarga.”
”Wah, saya baru dengar, orang Kristen itu mengaku saudara kepada saya.”
Mulailah Syahrul cerita bahwa ia sedang dalam perjalanan ke Senen untuk diwawancara di perusahaan jasa perparkiran. Ia menceritakan bahwa anaknya baru jatuh dan ada gumpalan darah di otaknya yang perlu dioperasi agar tidak menyebabkan kelumpuhan. Isterinya juga mengidap tumor di dekat ketiaknya, perlu dioperasi. Dalam keadaan penuh kesulitan itu, tadi di jalan ia kena tilang, uang tinggal Rp. 20 ribu diminta polisi.
Itu adalah kejadian 1 tahun lalu. Minggu lalu Albert mendapat telpon dari Syahrul.
”Pak, masih ingat saya?”
”Siapa ya?”
”Syahrul, pak!”
”Syahrul yang mana ya?”
”Ingat tidak, sekitar tahun lalu saya ditolong bapak, diberi makan waktu saya mau ke Senen.”
”Oh, iya. Syahrul, gimana kabarnya?”
”Baik-baik aja, pak. Saya sudah diterima kerja jadi petugas di konter parkir. Tapi saya mau ketemu bapak nih.”
”Ada apa lagi ya?” pikir Albert.
Ternyata setelah ketemu Syahrul hanya ingin curhat. Dia menceritakan kehidupan belakangan ini. Dia bilang dia ingin belajar ilmu kesembuhan karena dia lihat orang Kristen disembuhkan dengan tumpang tangan atau didoakan saja. Dia ingin bisa seperti itu.
Dengan membangun hubungan ternyata banyak orang yang dapat bersahabat dengan kita, kalau kita peduli dengan mereka. Benjamin Franklin, salah seorang pendiri Amerika Serikat dengan sinis pernah berkata, ”Pemadam kebakaran lebih berguna daripada gereja.” Lalu seorang hamba Tuhan pernah berkata, ”Kalau gereja lenyap dari muka bumi ini, apakah ada orang yang kehilangan?” Kita adalah terang dan garam dunia, apabila terang dan garam itu tidak berfungsi, buat apa?” Di dalam buku Mukjizat Kehidupan diingatkan betapa kita tidak boleh hidup untuk diri kita sendiri, sudah waktunya gereja dan orang-orang percaya mendengar isi hati Bapa bagi dunia ini. Banyak pesan aktual dalam buku itu yang menunjukkan bagaimana kita akan mengalami mukjizat kehidupan yang nyata. Baca buku itu agar kita tahu bahwa Tuhan akan melakukan perkara-perkara besar melalui dan di dalam kita. Itulah mukjizat kehidupan yang menanti di depan kita, agar kita mengalaminya.
Posted by : Hadi Kristadi for: http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, February 19, 2007
Unexpected Favor of God
Tak Disangka
Dalam perjalanan pulang dari Paris Air Show tahun lalu kami bertiga pulang menggunakan pesawat Air France. Kedua teman saya sudah mendapatkan seat untuk kelas bisnis. Namun pada waktu kami membeli tiket itu tidak tersedia lagi tiket kelas bisnis untuk saya. Kedua teman saya berusaha negosiasi semaksimal mungkin dengan petugas konter tiket karena mereka merasa tidak enak kalau saya duduk terpisah dari mereka dan mendapat seat di kelas ekonomi. Setelah usaha mereka nampaknya tidak membuahkan hasil, akhirnya saya bilang, ”OK deh saya tidak apa-apa duduk di kelas ekonomi.” Saya mendapat boarding pass dengan nomor 26. Di jalan menuju pesawat kami bertemu Ruth Sahanaya. ”Kamu duduk di nomor berapa?”, tanya saya kepada Ruth.
”Nomor 26 D !’
”Wah, kita duduk bersebelahan dong ya ?! Saya di 26 E.” saya menjawab dengan senang karena mendapat teman seperjalanan sesama orang Indonesia. ”Bisa mengobrol seru juga nih.”, pikir saya mengalihkan kekecewaan karena tidak berhasil mendapat seat di kelas bisnis.
Perjalanan jauh dari Paris ke Jakarta di kelas ekonomi seperti ini pastilah kurang nyaman : tempat duduk sempit, sangat repot kalau bolak-balik ke toilet karena harus berjalan sangat mepet melewati tempat duduk orang di sebelah, dan badan terkungkung tidak dapat bergerak dengan leluasa dan rileks. ”Oh Tuhan, apakah saya harus menghabiskan waktu semalaman lebih duduk di tempat yang kurang nyaman ini?” Saya tidak dapat menyalahkan siapa-siapa karena tanpa disangka penerbangan ke Jakarta bisa penuh seperti ini. Toh kedua teman saya juga sudah berusaha maksimal memperjuangkan seat di kelas bisnis bagi saya. Pada waktu berangkat kami bisa mendapatkan kelas bisnis, pulangnya kami ’open’ saja karena mungkin kami akan memperpanjang beberapa hari lagi.
Pada saat mengantri, Ruth lebih dulu melewati check in counter di ruang tunggu. Pas giliran saya, boarding pass dimasukkan ke dalam mesin absensi check in dan tiba-tiba mesin berbunyi tiitttttttt, tiiiiiittttttt, tiiiiiiiiitttttttt. ”Wah, ada apa ini?” Staff penerbangan itu dengan repot mengecek apa yang terjadi, lalu dia segera menemui supervisornya. Mereka berbicara sebentar, lalu staff penerbangan itu kembali kepada saya dengan membawa boarding pass baru. ”Anda mendapat seat baru, ini boarding pass-nya!” kata staff penerbangan itu dengan ramah.
”First class?” saya bertanya kaget.
”Ya, nyonya, anda dipindahkan ke seat di first class!”
"Terima kasih!" kata saya.
“Puji Tuhan!” kata saya dalam hati. ”Ini mukjizat! Koq bisa ya?”
”Engkau ini anak Raja di atas raja! Engkau layak mendapatkan tempat duduk di kelas satu!” demikian Roh Kudus berbicara di hati saya. Mukjizat demi mukjizat saya alami selama kehidupan bersama Tuhan. Seringkali Dia memberikan sesuatu sebelum saya memintanya. Demikianlah pengakuan seorang pengusaha wanita.
Untuk kisah kesaksian tentang mukjizat kehidupan yang lain, silakan baca buku ”Mukjizat Kehidupan” yang dapat dipesan melalui SMS 08129716102 (sebutkan nama, alamat lengkap RT/RW, dan kode pos), harga buku Rp. 40.000,- termasuk ongkos kirim di Jabodetabek. Pembayaran via ATM BCA.
Posted by : Hadi Kristadi for: http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Dalam perjalanan pulang dari Paris Air Show tahun lalu kami bertiga pulang menggunakan pesawat Air France. Kedua teman saya sudah mendapatkan seat untuk kelas bisnis. Namun pada waktu kami membeli tiket itu tidak tersedia lagi tiket kelas bisnis untuk saya. Kedua teman saya berusaha negosiasi semaksimal mungkin dengan petugas konter tiket karena mereka merasa tidak enak kalau saya duduk terpisah dari mereka dan mendapat seat di kelas ekonomi. Setelah usaha mereka nampaknya tidak membuahkan hasil, akhirnya saya bilang, ”OK deh saya tidak apa-apa duduk di kelas ekonomi.” Saya mendapat boarding pass dengan nomor 26. Di jalan menuju pesawat kami bertemu Ruth Sahanaya. ”Kamu duduk di nomor berapa?”, tanya saya kepada Ruth.
”Nomor 26 D !’
”Wah, kita duduk bersebelahan dong ya ?! Saya di 26 E.” saya menjawab dengan senang karena mendapat teman seperjalanan sesama orang Indonesia. ”Bisa mengobrol seru juga nih.”, pikir saya mengalihkan kekecewaan karena tidak berhasil mendapat seat di kelas bisnis.
Perjalanan jauh dari Paris ke Jakarta di kelas ekonomi seperti ini pastilah kurang nyaman : tempat duduk sempit, sangat repot kalau bolak-balik ke toilet karena harus berjalan sangat mepet melewati tempat duduk orang di sebelah, dan badan terkungkung tidak dapat bergerak dengan leluasa dan rileks. ”Oh Tuhan, apakah saya harus menghabiskan waktu semalaman lebih duduk di tempat yang kurang nyaman ini?” Saya tidak dapat menyalahkan siapa-siapa karena tanpa disangka penerbangan ke Jakarta bisa penuh seperti ini. Toh kedua teman saya juga sudah berusaha maksimal memperjuangkan seat di kelas bisnis bagi saya. Pada waktu berangkat kami bisa mendapatkan kelas bisnis, pulangnya kami ’open’ saja karena mungkin kami akan memperpanjang beberapa hari lagi.
Pada saat mengantri, Ruth lebih dulu melewati check in counter di ruang tunggu. Pas giliran saya, boarding pass dimasukkan ke dalam mesin absensi check in dan tiba-tiba mesin berbunyi tiitttttttt, tiiiiiittttttt, tiiiiiiiiitttttttt. ”Wah, ada apa ini?” Staff penerbangan itu dengan repot mengecek apa yang terjadi, lalu dia segera menemui supervisornya. Mereka berbicara sebentar, lalu staff penerbangan itu kembali kepada saya dengan membawa boarding pass baru. ”Anda mendapat seat baru, ini boarding pass-nya!” kata staff penerbangan itu dengan ramah.
”First class?” saya bertanya kaget.
”Ya, nyonya, anda dipindahkan ke seat di first class!”
"Terima kasih!" kata saya.
“Puji Tuhan!” kata saya dalam hati. ”Ini mukjizat! Koq bisa ya?”
”Engkau ini anak Raja di atas raja! Engkau layak mendapatkan tempat duduk di kelas satu!” demikian Roh Kudus berbicara di hati saya. Mukjizat demi mukjizat saya alami selama kehidupan bersama Tuhan. Seringkali Dia memberikan sesuatu sebelum saya memintanya. Demikianlah pengakuan seorang pengusaha wanita.
Untuk kisah kesaksian tentang mukjizat kehidupan yang lain, silakan baca buku ”Mukjizat Kehidupan” yang dapat dipesan melalui SMS 08129716102 (sebutkan nama, alamat lengkap RT/RW, dan kode pos), harga buku Rp. 40.000,- termasuk ongkos kirim di Jabodetabek. Pembayaran via ATM BCA.
Posted by : Hadi Kristadi for: http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Saturday, February 17, 2007
Kisah Kasih Pastor Edward & Levi Supit
Kisah Kasih Pastor Edward & Levi Supit
Kalau anda melihat pasangan ini di jalan atau di mall, jangan heran mereka selalu tampak bergandengan tangan, mesra sekali. Mereka mengaku, sampai saat ini setiap naik mobil bareng dan duduk di belakang, mereka selalu bergandengan tangan dan saling pandang. Sampai saat ini Ps. Ed masih tetap membuka dan menutup pintu mobil bagi isterinya yang luar biasa ini.
Jika orang berpikir bahwa pasangan serasi ini bisa tetap mesra karena mereka pasangan yang memiliki banyak kesamaan, orang pasti kecele. Ps. Ed mengaku bahwa dirinya dengan isterinya bagaikan bumi dan langit. Kalau Ed orangnya introvert, Levi extrovert banget. Kalau Ed suka kerapian, Levi rada berantakan : artinya sehabis mandi lantai dan tembok kamar mandi penuh cipratan air, pakaian dan sepatu di lepas atau dilempar kemana-mana(?) sehingga Ps. Ed-lah yang harus memunguti pakaian dan sepatu dan meletakkannya di tempat yang seharusnya. Kalau Ps. Ed memencet odol teratur dari bagian terbawah odol, Levi memencet odol di bagian mana saja yang enak. Kalau Ps. Ed dandan itu lama banget, Levi berdandan yang praktis saja, 'kan dia sudah cantik banget? Kalau Ed menyeruput kopi Starbucks pelan-pelan sambil menikmati rasa dan aromanya, Levi dengan cepat glek glek glek minum kopinya. Kalau Ps. Ed suka menyendiri di pesta pernikahan, Levi suka ketemu dan gaul dengan orang banyak. Banyak lagi perbedaan mereka, namun satu hal kesamaan mereka: mereka berkomitmen untuk menjaga kebahagiaan dan keutuhan rumah tangga mereka. Mereka selalu mencari jalan tengah bagi perbedaan-perbedaan itu. Misalnya saja, tentang kamar mandi, mereka sepakat untuk membagi kamar mandi: kamar mandi yang satu adalah wilayahnya Levi : boleh berantakan; wilayah sebelahnya adalah kawasan Ps. Ed, rapi sekali, kering dan bersih.
Ps. Ed menuturkan awal dari cinta kasih mereka. Setelah dua tiga kali ditolak cintanya Ed merasa jutek dengan gadis-gadis, sehingga ia lebih suka clubbing dengan teman-teman cowoknya saja. Pada suatu masa liburan, pulang dari Amerika Serikat, Ed dipanggil maminya :
"Ed, ada gadis anaknya teman mama mau minta tolong soal studi di Amrik nih..."
"Males ah, mam!"
"Eh, jangan gitu..."
"Gadis yang ini lain, Ed. Dia cakep lho..."
"Ya, nanti saya telpon deh!"
Ps. Ed yang ogah-ogahan ketemu cewek karena masih trauma akhirnya telpon Levi.
"Bisa ketemu malam ini gak?"
"Jam berapa?"
"Baru keluar rumah jam 9"
"Wah, gawat nih..." pikir Levi, karena di dalam keluarganya aturan sangat ketat, di atas jam 9 tidak boleh keluar rumah atau terima tamu, maka Levi minta izin dulu sama orang tuanya untuk terima tamu jam 9 malam lebih. Untunglah orangtua Levi sudah mengenal keluarga Edward, sehingga Levi boleh menerima tamu malam itu.
Bel berbunyi, seorang gadis lulusan SMA Tarakanita berjalan keluar dari pintu rumahnya menuju pintu pagar yang cukup jauh. Ed menunggu untuk segera melihat wajah gadis itu. Karena pagarnya tertutup, ia hanya bisa melongok dari bagian bawah pintu pagar dan melihat kaki-kaki yang jenjang berjalan menuju dirinya. "Ah, kakinya panjang dan indah.." pikir Ed, berharap pemilik kaki kaki itu adalah gadis yang cantik. Pintu pagar terbuka. Ed kaget karena di depannya ada gadis cantik. Levi kaget karena di depannya ada "oom-oom" karena pada waktu itu Ed yang belum percaya Tuhan Yesus masih bergaya cowok diskotik, pakai gelang rantai di tangannya dan penampilannya ibarat cowok metroseksual.
Mereka mengobrol. Ed menjelaskan informasi-informasi yang perlu diketahui Levi untuk studi di States, namun Ed sengaja tidak menceritakan semuanya, supaya ada alasan buat ketemu Levi lagi, karena saat itu juga terjadi cinta pada pandangan pertama.
Di pihak Levi, memang ia sudah berdoa kepada Tuhan agar ia dipertemukan dengan seorang pendamping hidupnya, tidak usah gonta-ganti pacar, dan saat bertemu Ed, ia tahu bahwa Edward-lah jodoh dari Tuhan.
Sejak saat itu Edward selalu rindu Levi. Bahkan ketika Ed bersama-sama teman-temannya piknik ke Bali, Ed tidak tahan dan kembali ke Jakarta untuk ketemu Levi, padahal ia baru satu hari di sana dari rencana piknik selama empat hari. Sejak saat itu mereka membangun hubungan kasih yang kudus dan berlanjut ke dalam mahligai pernikahan.
Mereka bilang, "Jangan pernah terucap kata-kata 'Kita cerai saja!' dalam perkawinan kita." Karena itu anak-anak mereka yang sangat respek pada kehidupan orang tua mereka mengatakan, "Kalau besar, saya mau jadi seperti daddy dan mami, jadi hamba Tuhan!" Padahal banyak anak hamba Tuhan yang dikecewakan oleh pelayanan orang tuanya, karena orang tua tidak jadi teladan di dalam rumahnya sendiri.
Apabila anda ingin menikmati kehidupan pernikahan yang berbahagia, dapatkan resepnya di dalam buku "Mukjizat Kehidupan", sebuah buku kesaksian tentang dua orang pengusaha yang mengalami mukjizat yang nyata di dalam kehidupan pribadi, keluarga dan bisnis mereka. Mereka dipulihkan dan menang.
Ngomong-ngomong, Levi sudah membaca buku Mukjizat Kehidupan itu dan merekomendasikan kepada anda agar belajar dari pengalaman orang lain melalui kesaksian pengusaha ini.
Posted by: Hadi Kristadi for: http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Kalau anda melihat pasangan ini di jalan atau di mall, jangan heran mereka selalu tampak bergandengan tangan, mesra sekali. Mereka mengaku, sampai saat ini setiap naik mobil bareng dan duduk di belakang, mereka selalu bergandengan tangan dan saling pandang. Sampai saat ini Ps. Ed masih tetap membuka dan menutup pintu mobil bagi isterinya yang luar biasa ini.
Jika orang berpikir bahwa pasangan serasi ini bisa tetap mesra karena mereka pasangan yang memiliki banyak kesamaan, orang pasti kecele. Ps. Ed mengaku bahwa dirinya dengan isterinya bagaikan bumi dan langit. Kalau Ed orangnya introvert, Levi extrovert banget. Kalau Ed suka kerapian, Levi rada berantakan : artinya sehabis mandi lantai dan tembok kamar mandi penuh cipratan air, pakaian dan sepatu di lepas atau dilempar kemana-mana(?) sehingga Ps. Ed-lah yang harus memunguti pakaian dan sepatu dan meletakkannya di tempat yang seharusnya. Kalau Ps. Ed memencet odol teratur dari bagian terbawah odol, Levi memencet odol di bagian mana saja yang enak. Kalau Ps. Ed dandan itu lama banget, Levi berdandan yang praktis saja, 'kan dia sudah cantik banget? Kalau Ed menyeruput kopi Starbucks pelan-pelan sambil menikmati rasa dan aromanya, Levi dengan cepat glek glek glek minum kopinya. Kalau Ps. Ed suka menyendiri di pesta pernikahan, Levi suka ketemu dan gaul dengan orang banyak. Banyak lagi perbedaan mereka, namun satu hal kesamaan mereka: mereka berkomitmen untuk menjaga kebahagiaan dan keutuhan rumah tangga mereka. Mereka selalu mencari jalan tengah bagi perbedaan-perbedaan itu. Misalnya saja, tentang kamar mandi, mereka sepakat untuk membagi kamar mandi: kamar mandi yang satu adalah wilayahnya Levi : boleh berantakan; wilayah sebelahnya adalah kawasan Ps. Ed, rapi sekali, kering dan bersih.
Ps. Ed menuturkan awal dari cinta kasih mereka. Setelah dua tiga kali ditolak cintanya Ed merasa jutek dengan gadis-gadis, sehingga ia lebih suka clubbing dengan teman-teman cowoknya saja. Pada suatu masa liburan, pulang dari Amerika Serikat, Ed dipanggil maminya :
"Ed, ada gadis anaknya teman mama mau minta tolong soal studi di Amrik nih..."
"Males ah, mam!"
"Eh, jangan gitu..."
"Gadis yang ini lain, Ed. Dia cakep lho..."
"Ya, nanti saya telpon deh!"
Ps. Ed yang ogah-ogahan ketemu cewek karena masih trauma akhirnya telpon Levi.
"Bisa ketemu malam ini gak?"
"Jam berapa?"
"Baru keluar rumah jam 9"
"Wah, gawat nih..." pikir Levi, karena di dalam keluarganya aturan sangat ketat, di atas jam 9 tidak boleh keluar rumah atau terima tamu, maka Levi minta izin dulu sama orang tuanya untuk terima tamu jam 9 malam lebih. Untunglah orangtua Levi sudah mengenal keluarga Edward, sehingga Levi boleh menerima tamu malam itu.
Bel berbunyi, seorang gadis lulusan SMA Tarakanita berjalan keluar dari pintu rumahnya menuju pintu pagar yang cukup jauh. Ed menunggu untuk segera melihat wajah gadis itu. Karena pagarnya tertutup, ia hanya bisa melongok dari bagian bawah pintu pagar dan melihat kaki-kaki yang jenjang berjalan menuju dirinya. "Ah, kakinya panjang dan indah.." pikir Ed, berharap pemilik kaki kaki itu adalah gadis yang cantik. Pintu pagar terbuka. Ed kaget karena di depannya ada gadis cantik. Levi kaget karena di depannya ada "oom-oom" karena pada waktu itu Ed yang belum percaya Tuhan Yesus masih bergaya cowok diskotik, pakai gelang rantai di tangannya dan penampilannya ibarat cowok metroseksual.
Mereka mengobrol. Ed menjelaskan informasi-informasi yang perlu diketahui Levi untuk studi di States, namun Ed sengaja tidak menceritakan semuanya, supaya ada alasan buat ketemu Levi lagi, karena saat itu juga terjadi cinta pada pandangan pertama.
Di pihak Levi, memang ia sudah berdoa kepada Tuhan agar ia dipertemukan dengan seorang pendamping hidupnya, tidak usah gonta-ganti pacar, dan saat bertemu Ed, ia tahu bahwa Edward-lah jodoh dari Tuhan.
Sejak saat itu Edward selalu rindu Levi. Bahkan ketika Ed bersama-sama teman-temannya piknik ke Bali, Ed tidak tahan dan kembali ke Jakarta untuk ketemu Levi, padahal ia baru satu hari di sana dari rencana piknik selama empat hari. Sejak saat itu mereka membangun hubungan kasih yang kudus dan berlanjut ke dalam mahligai pernikahan.
Mereka bilang, "Jangan pernah terucap kata-kata 'Kita cerai saja!' dalam perkawinan kita." Karena itu anak-anak mereka yang sangat respek pada kehidupan orang tua mereka mengatakan, "Kalau besar, saya mau jadi seperti daddy dan mami, jadi hamba Tuhan!" Padahal banyak anak hamba Tuhan yang dikecewakan oleh pelayanan orang tuanya, karena orang tua tidak jadi teladan di dalam rumahnya sendiri.
Apabila anda ingin menikmati kehidupan pernikahan yang berbahagia, dapatkan resepnya di dalam buku "Mukjizat Kehidupan", sebuah buku kesaksian tentang dua orang pengusaha yang mengalami mukjizat yang nyata di dalam kehidupan pribadi, keluarga dan bisnis mereka. Mereka dipulihkan dan menang.
Ngomong-ngomong, Levi sudah membaca buku Mukjizat Kehidupan itu dan merekomendasikan kepada anda agar belajar dari pengalaman orang lain melalui kesaksian pengusaha ini.
Posted by: Hadi Kristadi for: http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, February 16, 2007
Kisah Ev. Daniel Alexander
Pada suatu hari Minggu Daniel Alexander dan ketiga anaknya menginap di Hotel Ciputra, di daerah Grogol, Jakarta Barat. Sore itu Daniel sudah terjadwal sebagai pengkhotbah di salah satu gereja. Malam harinya Daniel harus langsung pergi ke Puncak untuk melayani retreat.
Mereka berempat di lobby hotel menunggu seseorang yang berjanji akan menjemput. Ternyata didapat kabar bahwa yang akan menjemput mereka datang terlambat. Daniel sendiri sudah gelisah karena pukul 4 sore kebaktian dimulai dan saat itu jam menunjukkan hampir pukul empat. Sewaktu menunggu di lobby, mata Daniel terus melihat ke depan pintu lobby, karena pikirnya jika jemputan datang maka ia akan langsung berlari untuk mengejar waktu.
Ketika mereka menunggu, tiba-tiba ada sebuah taksi masuk. Daniel tidak berpikir untuk menggunakannya karena mereka akan dijemput. Saat itu juga Roh Kudus berbicara kepada Daniel dengan jelas tentang 'siapa sopir taksi itu'. "Nah, kalau Roh Kudus sudah berbicara begitu, saya pasti punya urusan." pikir Daniel.
Seketika itu juga ia kaget dan berlari ke pintu keluar untuk menghentikan taksi yang sudah akan jalan tersebut. Barang bawaan dan koper Daniel ditinggal kepada ketiga anaknya.
"Kalian tunggu yang jemput ya!" teriak Daniel.
"Siapa yang akan jemput?" tanya salah seorang dari mereka.
"Pokoknya ada!" kata Daniel sambil berlari kecil ke luar, meninggalkan mereka dan masuk ke taksi. Daniel masuk dan duduk di depan, di sebelah sopir. Pengemudinya bernama Siswoyo. Ia seorang yang tegar. Daniel belum mendapat celah untuk membicarakan pesan Roh Kudus. Karena jarak antara hotel dan gereja yang mengundang relatif dekat maka Daniel bertanya kepada Siswoyo, sopir taksi itu:
"Apakah nanti malam pak Sis mau mengantar saya ke Cipanas - Puncak?"
"Nggak berani janji pak. Kalau tiba-tiba setengah enam sore nanti saya ada penumpang, bagaimana?"
Daniel membuka sedikit pembicaraan tentang pesan Tuhan saat taksi itu terlihat di hotel Ciputra.
"Nabi Isa berbicara kepada saya bahwa bapak adalah seorang anak yang dibenci oleh ayahnya. Bahkan pernah mengalami penganiayaan."
Siswono sekonyong-konyong kaget mendengar pernyataan Daniel tadi. Ia mulai gelisah dan terperangah menghadapi tamunya yang satu ini. Tidak pernah ia bertemu Daniel sebelumnya.
"Pak, isteri saya saja nggak pernah saya ceritain soal bagaimana pengalaman saya waktu itu. Bagaimana bapak bisa tahu?"
"Pak Sis, yang mengatakan ini bukan saya. Nanti kita akan bicara lagi dalam perjalanan ke Cipanas tentang semua hal tadi. Kita sebelumnya nggak pernah kenal 'kan?"
Siswoyo semakin terheran-heran mengapa Daniel bisa mengetahui kehidupan masa lalunya dengan jelas dan spesifik. Akhirnya ia sepakat bahwa jam enam sore nanti mereka akan ketemu di pangkalan taksi untuk menyambung pesan tadi dan mengantarnya ke Cipanas.
Danielpun sesungguhnya agak ragu-ragu apakah Siswoyo akan benar-benar menunggunya. Ditemani oleh seorang anaknya, Daniel bergegas menuju pangkalan taksi dengan harapan taksi Siswoyo sedang menunggunya. Ternyata benar, Siswoyo menunggu Daniel. Setelah saling sapa kembali, maka Daniel bersama seorang anaknya masuk ke dalam taksi setelah menaruh koper-koper bawaannya ke bagasi belakang mobil.
Daniel mulai melanjutkan apa yang menjadi pesan Tuhan untuk Siswoyo ini. Sepanjang jalan Siswoyo tidak dapat mengelak lagi bahwa ia sedang berurusan dengan Tuhan yang hidup melalui 'orang suruhan-Nya'. Sepanjang jalan itu Daniel menjelaskan pesan Tuhan kepada Siswoyo. Sesampai taksi di tempat tujuan, Cipanas - Puncak, Daniel mengajak Siswoyo untuk berdoa sebelum turun dari taksi. Turut juga mendoakan pada waktu itu adalah Pdt. Lukas Tahir dari GBI Basilea - Karawaci.
Selesai berdoa, Daniel bertemu dengan masalah baru. Dari kedua koper yang dibawanya, satu koper harus dikirim ke Papua dan satu yang lainnya Daniel akan bawa karena setelah retreat selesai Daniel akan melanjutkan perjalanan ke Manado, karena ada anaknya yang akan diwisuda. "Sekarang, siapa yang akan bawa koper ini ke Jakarta untuk diteruskan ke Papua?" pikir Daniel. Pada saat itu Roh Kudus memberitahu Daniel supaya ia memberi kepercayaan kepada Siswoyo, sopir taksi yang baru dikenalnya itu, untuk mengantarkan kopernya ke Jakarta. "Bagaimana mungkin mempercayakan koper kepada orang yang belum dikenalnya?" pikir Daniel. Tuhan dengan jelas mengatakan kepada Daniel bahwa dengan cara memberikan kepercayaan ini maka Injil akan bisa disampaikan kepada Siswoyo. Akhirnya Daniel hanya taat kepada Tuhan.
Siswoyo senang sekali ketika Daniel memintanya untuk mengantarkan satu koper ke Jakarta. Setelah alamat tujuan koper itu diberikan, Siswoyo meninggalkan nomor telpon pangkalan taksi supaya dapat dikonfirmasi tentang pengiriman koper ini. Daniel membayar argo taksi itu sebesar Rp. 114.600,- Dengan kepercayaan dan sejumlah uang seperti itu, Daniel sangat bersyukur untuk satu jiwa diselamatkan, sekaligus juga koper dapat dikirim ke Jakarta dengan aman dan utuh. Itulah salah satu pengalaman Daniel Alexander yang peka mendengar suara Tuhan.
Pelayanan Daniel Alexander bersama isterinya berawal ketika Daniel diundang oleh Pdt. Adi Sutanto dari JKI untuk pelayanan ke Amerika Serikat, terbesit sebuah pikiran tentang Papua. Bulan Agustus 1989, saat di Pasadena, California, Daniel bersama Pdt. Adi Sutanto pergi ke sebuah toko buku. Di toko buku inilah Daniel menemukan sebuah buku yang berjudul "From Jerusalem to Irian Jaya" yang ditulis oleh Ruth Tucker. Buku ini adalah buku sejarah misi. Ruth menulis urut-urutan peristiwa sejak Pentakosta, pencurahan Roh Kudus pada zaman Kisah Para Rasul, hingga bagaimana berita Injil diberitakan sampai ke seluruh peloksok bumi. Dari buku inilah Daniel menangkap apa yang dimaksud dengan "ujung bumi". Setelah membaca buku itu Daniel mulai terbeban dengan Papua.
Daniel Alexander adalah orang biasa dengan karya luar biasa. Dalam buku "Mukjizat Kehidupan" yang saya tulis, orang-orang seperti Daniel Alexander itu mencapai tujuannya dengan menggunakan "sedan Maybach", sementara orang-orang lain "naik becak". Daniel Alexander tanpa modal uang dapat membangun sekolah dengan sistem asrama/pesantren, poliklinik, rumah sakit dll karena "naik sedan Maybach". Itulah rahasia yang dibagikan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong yang diterapkan oleh seorang pengusaha yang kisahnya ditulis dalam buku Mukjizat Kehidupan. Pengusaha ini berhasil, ia mengalami mukjizat kehidupan karena ia dengan rendah hati mau taat menggunakan "sedan Maybach" dalam mencapai tujuan hidup yang Bapa tentukan baginya.
Untuk lebih jelas bagaimana hidup dengan "naik sedan Maybach", silakan simak lebih lanjut dalam buku Mukjizat Kehidupan. Jangan sampai ketinggalan!
Posted by : Hadi Kristadi for: http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Mereka berempat di lobby hotel menunggu seseorang yang berjanji akan menjemput. Ternyata didapat kabar bahwa yang akan menjemput mereka datang terlambat. Daniel sendiri sudah gelisah karena pukul 4 sore kebaktian dimulai dan saat itu jam menunjukkan hampir pukul empat. Sewaktu menunggu di lobby, mata Daniel terus melihat ke depan pintu lobby, karena pikirnya jika jemputan datang maka ia akan langsung berlari untuk mengejar waktu.
Ketika mereka menunggu, tiba-tiba ada sebuah taksi masuk. Daniel tidak berpikir untuk menggunakannya karena mereka akan dijemput. Saat itu juga Roh Kudus berbicara kepada Daniel dengan jelas tentang 'siapa sopir taksi itu'. "Nah, kalau Roh Kudus sudah berbicara begitu, saya pasti punya urusan." pikir Daniel.
Seketika itu juga ia kaget dan berlari ke pintu keluar untuk menghentikan taksi yang sudah akan jalan tersebut. Barang bawaan dan koper Daniel ditinggal kepada ketiga anaknya.
"Kalian tunggu yang jemput ya!" teriak Daniel.
"Siapa yang akan jemput?" tanya salah seorang dari mereka.
"Pokoknya ada!" kata Daniel sambil berlari kecil ke luar, meninggalkan mereka dan masuk ke taksi. Daniel masuk dan duduk di depan, di sebelah sopir. Pengemudinya bernama Siswoyo. Ia seorang yang tegar. Daniel belum mendapat celah untuk membicarakan pesan Roh Kudus. Karena jarak antara hotel dan gereja yang mengundang relatif dekat maka Daniel bertanya kepada Siswoyo, sopir taksi itu:
"Apakah nanti malam pak Sis mau mengantar saya ke Cipanas - Puncak?"
"Nggak berani janji pak. Kalau tiba-tiba setengah enam sore nanti saya ada penumpang, bagaimana?"
Daniel membuka sedikit pembicaraan tentang pesan Tuhan saat taksi itu terlihat di hotel Ciputra.
"Nabi Isa berbicara kepada saya bahwa bapak adalah seorang anak yang dibenci oleh ayahnya. Bahkan pernah mengalami penganiayaan."
Siswono sekonyong-konyong kaget mendengar pernyataan Daniel tadi. Ia mulai gelisah dan terperangah menghadapi tamunya yang satu ini. Tidak pernah ia bertemu Daniel sebelumnya.
"Pak, isteri saya saja nggak pernah saya ceritain soal bagaimana pengalaman saya waktu itu. Bagaimana bapak bisa tahu?"
"Pak Sis, yang mengatakan ini bukan saya. Nanti kita akan bicara lagi dalam perjalanan ke Cipanas tentang semua hal tadi. Kita sebelumnya nggak pernah kenal 'kan?"
Siswoyo semakin terheran-heran mengapa Daniel bisa mengetahui kehidupan masa lalunya dengan jelas dan spesifik. Akhirnya ia sepakat bahwa jam enam sore nanti mereka akan ketemu di pangkalan taksi untuk menyambung pesan tadi dan mengantarnya ke Cipanas.
Danielpun sesungguhnya agak ragu-ragu apakah Siswoyo akan benar-benar menunggunya. Ditemani oleh seorang anaknya, Daniel bergegas menuju pangkalan taksi dengan harapan taksi Siswoyo sedang menunggunya. Ternyata benar, Siswoyo menunggu Daniel. Setelah saling sapa kembali, maka Daniel bersama seorang anaknya masuk ke dalam taksi setelah menaruh koper-koper bawaannya ke bagasi belakang mobil.
Daniel mulai melanjutkan apa yang menjadi pesan Tuhan untuk Siswoyo ini. Sepanjang jalan Siswoyo tidak dapat mengelak lagi bahwa ia sedang berurusan dengan Tuhan yang hidup melalui 'orang suruhan-Nya'. Sepanjang jalan itu Daniel menjelaskan pesan Tuhan kepada Siswoyo. Sesampai taksi di tempat tujuan, Cipanas - Puncak, Daniel mengajak Siswoyo untuk berdoa sebelum turun dari taksi. Turut juga mendoakan pada waktu itu adalah Pdt. Lukas Tahir dari GBI Basilea - Karawaci.
Selesai berdoa, Daniel bertemu dengan masalah baru. Dari kedua koper yang dibawanya, satu koper harus dikirim ke Papua dan satu yang lainnya Daniel akan bawa karena setelah retreat selesai Daniel akan melanjutkan perjalanan ke Manado, karena ada anaknya yang akan diwisuda. "Sekarang, siapa yang akan bawa koper ini ke Jakarta untuk diteruskan ke Papua?" pikir Daniel. Pada saat itu Roh Kudus memberitahu Daniel supaya ia memberi kepercayaan kepada Siswoyo, sopir taksi yang baru dikenalnya itu, untuk mengantarkan kopernya ke Jakarta. "Bagaimana mungkin mempercayakan koper kepada orang yang belum dikenalnya?" pikir Daniel. Tuhan dengan jelas mengatakan kepada Daniel bahwa dengan cara memberikan kepercayaan ini maka Injil akan bisa disampaikan kepada Siswoyo. Akhirnya Daniel hanya taat kepada Tuhan.
Siswoyo senang sekali ketika Daniel memintanya untuk mengantarkan satu koper ke Jakarta. Setelah alamat tujuan koper itu diberikan, Siswoyo meninggalkan nomor telpon pangkalan taksi supaya dapat dikonfirmasi tentang pengiriman koper ini. Daniel membayar argo taksi itu sebesar Rp. 114.600,- Dengan kepercayaan dan sejumlah uang seperti itu, Daniel sangat bersyukur untuk satu jiwa diselamatkan, sekaligus juga koper dapat dikirim ke Jakarta dengan aman dan utuh. Itulah salah satu pengalaman Daniel Alexander yang peka mendengar suara Tuhan.
Pelayanan Daniel Alexander bersama isterinya berawal ketika Daniel diundang oleh Pdt. Adi Sutanto dari JKI untuk pelayanan ke Amerika Serikat, terbesit sebuah pikiran tentang Papua. Bulan Agustus 1989, saat di Pasadena, California, Daniel bersama Pdt. Adi Sutanto pergi ke sebuah toko buku. Di toko buku inilah Daniel menemukan sebuah buku yang berjudul "From Jerusalem to Irian Jaya" yang ditulis oleh Ruth Tucker. Buku ini adalah buku sejarah misi. Ruth menulis urut-urutan peristiwa sejak Pentakosta, pencurahan Roh Kudus pada zaman Kisah Para Rasul, hingga bagaimana berita Injil diberitakan sampai ke seluruh peloksok bumi. Dari buku inilah Daniel menangkap apa yang dimaksud dengan "ujung bumi". Setelah membaca buku itu Daniel mulai terbeban dengan Papua.
Daniel Alexander adalah orang biasa dengan karya luar biasa. Dalam buku "Mukjizat Kehidupan" yang saya tulis, orang-orang seperti Daniel Alexander itu mencapai tujuannya dengan menggunakan "sedan Maybach", sementara orang-orang lain "naik becak". Daniel Alexander tanpa modal uang dapat membangun sekolah dengan sistem asrama/pesantren, poliklinik, rumah sakit dll karena "naik sedan Maybach". Itulah rahasia yang dibagikan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong yang diterapkan oleh seorang pengusaha yang kisahnya ditulis dalam buku Mukjizat Kehidupan. Pengusaha ini berhasil, ia mengalami mukjizat kehidupan karena ia dengan rendah hati mau taat menggunakan "sedan Maybach" dalam mencapai tujuan hidup yang Bapa tentukan baginya.
Untuk lebih jelas bagaimana hidup dengan "naik sedan Maybach", silakan simak lebih lanjut dalam buku Mukjizat Kehidupan. Jangan sampai ketinggalan!
Posted by : Hadi Kristadi for: http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, February 8, 2007
Never Say Die
Never Say Die
Sebagai seorang alumni Kolese Kanisius Jakarta saya tidak akan pernah melupakan apa yang ditulis oleh Pater Jeuken SJ, Kepala SMA waktu itu, pada buku kenang-kenangan pribadi saya yang ditulis pada suatu acara perpisahan SMA, bunyinya: "Never Say Die". Ada banyak kata-kata bijak yang dapat ditulis beliau, namun almarhum hanya menulis kalimat pendek yang sangat bermakna itu bagi penulis.
Ada pengalaman mendalam yang saya alami dengan Pater yang sangat brilian, disiplin, dan baik hati itu. Dari sebuah SMP Negeri di Sukamandi, di sebuah desa kecil di jalur pantura, desa kecil tempat banyak bus malam berhenti untuk makan di restoran padang yang tersebar di situ, dan melanjutkan sekolah di SMA Kanisius Jakarta, itu merupakan pengalaman yang tidak pernah terbayangkan di benak saya sebelumnya. Karena standar pelajaran SMP di desa kecil ini tidaklah setinggi SMP di Jakarta, akibatnya saya kesulitan mengikuti pelajaran di semester pertama di Kanisius. Rapor saya kebakaran, sangat banyak angka merahnya. Pada waktu itu Pater Jeuken memanggil saya dan ayah saya, tentang kemungkinan saya drop out. Namun kami mohon diberikan kesempatan satu semester lagi, itupun di kelas IPS. Karena kebaikan Pater, saya masih diizinkan meneruskan sekolah di sana. Dengan kasih karunia Tuhan dan kerja keras akhirnya saya lulus dengan baik dari Kanisius. Tidaklah keliru kalau saya melihat pengalaman belajar di SMA itu, kata-kata Pater sangat tepat: Never say die! Jangan pernah berputus asa! Jangan pernah menyerah!
Pada akhir tahun 2006 yang lalu saya menulis dan menerbitkan buku "Mukjizat Kehidupan". Buku ini berkisah tentang pengalaman dua orang pengusaha yang berhasil mengatasi pergumulan masalah pribadi, keluarga dan bisnis mereka. Terbukti mereka yang "never say die" akan mengalami mukjizat kehidupan yang nyata. Dalam tempo dua bulan, buku ini mendapat sambutan yang baik dan telah terjual lebih dari 1000 copy. Rudy Hartono, mantan juara All England 8 x dan terakhir dinobatkan oleh majalah Time sebagai salah satu Asian Hero, yang telah membaca buku ini berkomentar: "Buku ini sangat patut dibaca agar kita semua mengalami terobosan dalam kehidupan sehingga kita dapat berperan-serta dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya, sesuai potensi dan tujuan yang telah dianugerahkan kepada kita semua." Seorang rekan Canisian, Dr. Yoyong Kohar yang telah membaca buku ini juga merekomendasikan buku ini kepada rekan-rekan yang lain. Dr. Irsan Azhary Saleh Ph.D, seorang muslim yang taat, mantan Deputy Menteri Negara BUMN pada zaman Presiden Gus Dur, yang telah membaca buku ini menyatakan : "pesan moral buku ini universal dan 'very inspiring'".
Buku ini telah diedarkan melalui Toko Buku Gramedia, TGA/Toko Gunung Agung, Imanuel, Metanoia dan lain-lain. Namun kalau tidak mau repot, anda dapat memesan langsung melalui SMS 08129716102 (sebutkan nama, alamat lengkap RT RW dan kode pos), maka buku ini akan dikirim dengan kiriman Pos Express ke alamat anda. Pembayaran Rp. 40.000,- per buku dapat ditransfer via ATM BCA.
Banyak orang yang telah membacanya dan menulis via SMS bahwa mereka sangat diberkati buku ini. Banyak orang membaca buku ini sampai habis dalam waktu satu malam, karena kisahnya menarik untuk diikuti sampai selesai. Banyak orang menanyakan kapan volume dua buku ini akan diterbitkan. Banyak orang menceritakan dari mulut ke mulut tentang buku yang tidak menggurui, disampaikan dalam bahasa yang sederhana, tentang kisah kemenangan orang biasa dalam pengalaman yang luar biasa ini.
Seperti kata bijak Bunda Teresa yang saya kutip dalam buku "Mukjizat Kehidupan" itu, "I am a little pencil in the hand of a writing God who is sending a love letter to the world.”, penulis adalah pensil kecil di tangan Allah yang menulis surat cinta yang dikirim ke dunia. Bacalah surat cinta dari Tuhan untuk kita semua dalam buku yang ringan dibaca, namun sarat pelajaran kehidupan. Mukjizat Kehidupan, kita semua perlu mengalaminya.
Postd by Hadi Kristadi for : http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sebagai seorang alumni Kolese Kanisius Jakarta saya tidak akan pernah melupakan apa yang ditulis oleh Pater Jeuken SJ, Kepala SMA waktu itu, pada buku kenang-kenangan pribadi saya yang ditulis pada suatu acara perpisahan SMA, bunyinya: "Never Say Die". Ada banyak kata-kata bijak yang dapat ditulis beliau, namun almarhum hanya menulis kalimat pendek yang sangat bermakna itu bagi penulis.
Ada pengalaman mendalam yang saya alami dengan Pater yang sangat brilian, disiplin, dan baik hati itu. Dari sebuah SMP Negeri di Sukamandi, di sebuah desa kecil di jalur pantura, desa kecil tempat banyak bus malam berhenti untuk makan di restoran padang yang tersebar di situ, dan melanjutkan sekolah di SMA Kanisius Jakarta, itu merupakan pengalaman yang tidak pernah terbayangkan di benak saya sebelumnya. Karena standar pelajaran SMP di desa kecil ini tidaklah setinggi SMP di Jakarta, akibatnya saya kesulitan mengikuti pelajaran di semester pertama di Kanisius. Rapor saya kebakaran, sangat banyak angka merahnya. Pada waktu itu Pater Jeuken memanggil saya dan ayah saya, tentang kemungkinan saya drop out. Namun kami mohon diberikan kesempatan satu semester lagi, itupun di kelas IPS. Karena kebaikan Pater, saya masih diizinkan meneruskan sekolah di sana. Dengan kasih karunia Tuhan dan kerja keras akhirnya saya lulus dengan baik dari Kanisius. Tidaklah keliru kalau saya melihat pengalaman belajar di SMA itu, kata-kata Pater sangat tepat: Never say die! Jangan pernah berputus asa! Jangan pernah menyerah!
Pada akhir tahun 2006 yang lalu saya menulis dan menerbitkan buku "Mukjizat Kehidupan". Buku ini berkisah tentang pengalaman dua orang pengusaha yang berhasil mengatasi pergumulan masalah pribadi, keluarga dan bisnis mereka. Terbukti mereka yang "never say die" akan mengalami mukjizat kehidupan yang nyata. Dalam tempo dua bulan, buku ini mendapat sambutan yang baik dan telah terjual lebih dari 1000 copy. Rudy Hartono, mantan juara All England 8 x dan terakhir dinobatkan oleh majalah Time sebagai salah satu Asian Hero, yang telah membaca buku ini berkomentar: "Buku ini sangat patut dibaca agar kita semua mengalami terobosan dalam kehidupan sehingga kita dapat berperan-serta dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya, sesuai potensi dan tujuan yang telah dianugerahkan kepada kita semua." Seorang rekan Canisian, Dr. Yoyong Kohar yang telah membaca buku ini juga merekomendasikan buku ini kepada rekan-rekan yang lain. Dr. Irsan Azhary Saleh Ph.D, seorang muslim yang taat, mantan Deputy Menteri Negara BUMN pada zaman Presiden Gus Dur, yang telah membaca buku ini menyatakan : "pesan moral buku ini universal dan 'very inspiring'".
Buku ini telah diedarkan melalui Toko Buku Gramedia, TGA/Toko Gunung Agung, Imanuel, Metanoia dan lain-lain. Namun kalau tidak mau repot, anda dapat memesan langsung melalui SMS 08129716102 (sebutkan nama, alamat lengkap RT RW dan kode pos), maka buku ini akan dikirim dengan kiriman Pos Express ke alamat anda. Pembayaran Rp. 40.000,- per buku dapat ditransfer via ATM BCA.
Banyak orang yang telah membacanya dan menulis via SMS bahwa mereka sangat diberkati buku ini. Banyak orang membaca buku ini sampai habis dalam waktu satu malam, karena kisahnya menarik untuk diikuti sampai selesai. Banyak orang menanyakan kapan volume dua buku ini akan diterbitkan. Banyak orang menceritakan dari mulut ke mulut tentang buku yang tidak menggurui, disampaikan dalam bahasa yang sederhana, tentang kisah kemenangan orang biasa dalam pengalaman yang luar biasa ini.
Seperti kata bijak Bunda Teresa yang saya kutip dalam buku "Mukjizat Kehidupan" itu, "I am a little pencil in the hand of a writing God who is sending a love letter to the world.”, penulis adalah pensil kecil di tangan Allah yang menulis surat cinta yang dikirim ke dunia. Bacalah surat cinta dari Tuhan untuk kita semua dalam buku yang ringan dibaca, namun sarat pelajaran kehidupan. Mukjizat Kehidupan, kita semua perlu mengalaminya.
Postd by Hadi Kristadi for : http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, February 7, 2007
Pemburu yang Ditembak Ular
Pemburu yang Ditembak Ular
Ini adalah kejadian nyata meskipun sangat konyol. Seorang pemburu di hutan tiba-tiba dikagetkan seekor ular Phyton di depannya. Ia tidak membidik ular itu dengan senapannya, namun menggunakan gagang senapan untuk memukul kepala ular.
Sang ular tidak mau kalah, ia berusaha menyerang balik dan melilit senapan yang mengimpit kepalanya. Ekor ular itu mencapai pelatuk. Saking tegangnya menyerang sang ular, si pemburu tidak sadar bahwa senapan itu mengarah ke dadanya
dan ekor ular mulai menekan pelatuk. "Doorrr!" Si pemburu roboh karena senapan itu mengenai dirinya sendiri. Ular itu bebas dari serangan, bahkan ekornya berhasil memicu senapan itu untuk menembak mati pemburu yang konyol itu.
Ini adalah sebuah pelajaran penting. Tidak semua orang dapat memetik pelajaran yang dialami orang lain. Ada seorang pengusaha yang konseling kepada seorang ahli. Ia mengaku sudah bangkrut. Mengapa?
Dia mengaku, "Kalau saya main gila dengan perempuan lain, pasti usaha saya bangkrut, ditipu orang!"
"Nah, kenapa dilakukan juga?"
"Saya mau, tapi tidak bisa melepaskan diri dari godaan perempuan!"
"Sudah berapa kali bangkrut?"
"Tiga belas kali..."
"Koq, bisa?"
"Ya, karena saya tak mampu mengatasi godaan!"
"Ah, bapak bisa, tapi tidak mau!"
Ada orang-orang yang tidak dapat belajar dari pengalamannya sendiri. Namun orang yang bijak dapat menemukan moral atau pesan tertentu dari setiap kejadian buruk yang menimpa dirinya. Yang lebih bijak adalah bila kita mampu belajar dari pengalaman orang lain. Mengapa? Karena kita tidak usah membayar "uang sekolah"nya. Buku "Mukjizat Kehidupan" berisi pengalaman dua orang pengusaha yang bergumul dalam masalah kehidupan pribadi, keluarga dan bisnis. Erich Unarto S.E, pemimpin dan pendiri Renungan Harian "Manna Sorgawi" menyatakan bahwa buku tersebut sarat dengan pelajaran kehidupan yang membangun. Bukan itu saja, buku ini mendorong para pembaca untuk mengalami mukjizat kehidupan yang nyata.
Orang yang rendah hati dan senantiasa mau berhasil, akan rela belajar dari pengalaman orang lain. Buku ini menjawab salah satu kebutuhan anda. Percayalah!
Posted by: Hadi Kristadi for: http://pentas-kehidupan.blogspot.com
Ini adalah kejadian nyata meskipun sangat konyol. Seorang pemburu di hutan tiba-tiba dikagetkan seekor ular Phyton di depannya. Ia tidak membidik ular itu dengan senapannya, namun menggunakan gagang senapan untuk memukul kepala ular.
Sang ular tidak mau kalah, ia berusaha menyerang balik dan melilit senapan yang mengimpit kepalanya. Ekor ular itu mencapai pelatuk. Saking tegangnya menyerang sang ular, si pemburu tidak sadar bahwa senapan itu mengarah ke dadanya
dan ekor ular mulai menekan pelatuk. "Doorrr!" Si pemburu roboh karena senapan itu mengenai dirinya sendiri. Ular itu bebas dari serangan, bahkan ekornya berhasil memicu senapan itu untuk menembak mati pemburu yang konyol itu.
Ini adalah sebuah pelajaran penting. Tidak semua orang dapat memetik pelajaran yang dialami orang lain. Ada seorang pengusaha yang konseling kepada seorang ahli. Ia mengaku sudah bangkrut. Mengapa?
Dia mengaku, "Kalau saya main gila dengan perempuan lain, pasti usaha saya bangkrut, ditipu orang!"
"Nah, kenapa dilakukan juga?"
"Saya mau, tapi tidak bisa melepaskan diri dari godaan perempuan!"
"Sudah berapa kali bangkrut?"
"Tiga belas kali..."
"Koq, bisa?"
"Ya, karena saya tak mampu mengatasi godaan!"
"Ah, bapak bisa, tapi tidak mau!"
Ada orang-orang yang tidak dapat belajar dari pengalamannya sendiri. Namun orang yang bijak dapat menemukan moral atau pesan tertentu dari setiap kejadian buruk yang menimpa dirinya. Yang lebih bijak adalah bila kita mampu belajar dari pengalaman orang lain. Mengapa? Karena kita tidak usah membayar "uang sekolah"nya. Buku "Mukjizat Kehidupan" berisi pengalaman dua orang pengusaha yang bergumul dalam masalah kehidupan pribadi, keluarga dan bisnis. Erich Unarto S.E, pemimpin dan pendiri Renungan Harian "Manna Sorgawi" menyatakan bahwa buku tersebut sarat dengan pelajaran kehidupan yang membangun. Bukan itu saja, buku ini mendorong para pembaca untuk mengalami mukjizat kehidupan yang nyata.
Orang yang rendah hati dan senantiasa mau berhasil, akan rela belajar dari pengalaman orang lain. Buku ini menjawab salah satu kebutuhan anda. Percayalah!
Posted by: Hadi Kristadi for: http://pentas-kehidupan.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"
Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."
Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan
- A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
- B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
- C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
- D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
- E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
- F. Bpk. Irsan
- G. Ir. Ciputra - Jakarta
- H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
- I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
- J. Beni Prananto - Pengusaha
- K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
- L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
- M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
- N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
- O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
- P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
- Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
- R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
- S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
- T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
- U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
- V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
- W. Fanny Irwanto - Jakarta
- X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
- Y. Ir. Junna - Jakarta
- Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
- ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
- ZB. Christine - Intercon - Jakarta
- ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
- ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
- ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
- ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
- ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
- ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
- ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
- ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
- ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
- ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
- ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
- ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
- ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
- ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
- ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
- ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
- ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
- ZU. Justanti - USAID - Makassar
- ZV. Welian - Tangerang
- ZW. Dwiyono - Karawaci
- ZX. Essa Pujowati - Jakarta
- ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
- ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
- ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
- ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
- ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
- ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
- ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
- ZZF. Julia Bing - Semarang
- ZZG. Rika - Tanjung Karang
- ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
- ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
- ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
- ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI